Thursday, December 15, 2011

Psikologi Agama -- Perkembangan Jiwa Agama Pada Orang Dewasa


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari serta keadaan hidup seseorang pada umumnya.
Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Maka dalam kesempatan ini kami melihat fenomena dan sekaligus mengkaji serta memaksimalkan untuk memamparkan apa yang dialami oleh orang dewasa yang semakin merugikan diri sendiri dan ada juga yang beruntung. Karena pengalaman sejarah menunjukkan bahwa akibat dari memisahkan antara psikologi dan agama, telah terjadi kerugian yang tak dapat ditutup. Agama tanpa psikologi berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan. Kalau tak ada psikologi, agama menjadi alat bagi orang-orang pandai yang munafik.
B. Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dan seperti apa fase-fase dewasa?
2.    Bagaimana sikap orang dewasa dalam beragama dan layaknya seperti apa?
3.    Bagaimana perkembangan agama pada orang dewasa menurut persepektif ilmu jiwa?

C. Tujuan Penulisan
1.    Memahami pengertian dan fase-fase dewasa.
2.    Mengetahui sikap orang dewasa yang beragama yang semestinya.
3.    Mengetahui perkembangan agama pada orang dewasa menurut pandangan ilmu jiwa.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Fase-Fase Dewasa
Seperti halnya dengan remaja, untuk merumuskan sebuah definisi tentang kedewasaan tidaklah mudah. Hal ini karena setiap kebudayaan berbeda-beda dalam menentukan kapan seseorang mencapai status dewasa secara formal. Pada sebagian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan pubertas telah selesai atau setidak-tidaknya sudah mendekati selesai dan apabila organ kelamin anak telah mencapai kematangan serta mampu berproduksi. Dalam kebudayaan Amerika, seorang anak dipandang belum mencapai status dewasa kalau ia belum mencapai usia 21 tahun. Sementara itu dalam kebudayaan Indonesia, seseorang dianggap resmi mencapai status dewasa apabila sudah menikah, meskipun usianya belum mencapai 21 tahun.[1]
Dilihat dari pandangan psikologis, maka istilah dewasa dicirikan dengan kematangan, baik kematangan kognitif, afektif maupun psikomotornya, yang mengacu kepada sikap bertanggung jawab.[2]
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa seseorang dapat disebut dewasa apabila telah sempurna pertumbuhan fisiknya dan mencapai kematangan psikologis sehingga mampu hidup dan berperan bersama-sama orang dewasa lainnya. Umumnya psikolog menetapkan sekitar usia 20 tahun sebagai awal masa dewasa dan berlangsung sampai sekitar usia 40-45 tahun, dan pertengahan masa dewasa berlangsung dari sekitar usia 40-45 sampai sekitar usia 65 tahun, serta masa dewasa lanjut atau masa tua berlangsung dari sekitar usia 65 tahun sampai meninggal.[3]

B.  Macam-Macam Kebutuhan
Manusia adalah makhluk yang eksploratif dan potensial. Dikatakan makhluk eksploratif, karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia disebut sebagai makhluk potensial, karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan.[4]
Manusia juga disebut sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk bertumbuh dan berkembang secara normal manusia memerlukan bantuan dari luar dirinya.[5] Bantuan tersebut bisa berupa bimbingan dan arahan dari lingkungan sekitarnya. Bimbingan dan arahan dalam perkembangan tersebut diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri sesuai dengan potensi bawaannya. Jika bimbingan dan arahan yang diberikan tidak searah dengan potensi yang dimiliki maka bisa menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan manusia itu sendiri.
Perkembangan yang negatif tersebut akan terlihat dalam berbagai sikap dan tingkah laku yang menyimpang. Bentuk tingkah laku menyimpang ini terlihat dalam kaitannya dengan kegagalan manusia untuk memnuhi kebutuhan baik yang bersifat fisik maupun psikis. Sehubungan dengan hal itu, maka dalam mempelajari perkembangan jiwa keagamaan, perlu terlebih dahulu dilihat kebutuhan-kebutuhan manusia secara menyeluruh. Sebab pemenuhan kebutuhan yang kurang seimbang antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani akan menyebabkan timbulnya ketimpangan dalam perkembangan.[6]
Dalam bukunya Pengantar Psikologi Kriminal Drs. Gerson W. Bawengan, S.H. mengemukakan pembagian kebutuhan manusia berdasarkan pembagian sebagai berikut:
1. Kebutuhan individual terdiri dari:
a.    Homeostatis, yaitu kebutuhan yang dituntut tubuh dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Dengan adanya perimbangan ini maka tubuh akan tetap berada dalam keadaan mantap, stabil dan harmonis. Kebutuhan ini merliputi kebutuhan tubuh akan zat; protein, air, garam, mineral, vitamin, oksigen dan lainnya.
b.    Regulasi temperatur, penyesuaian tubuh dalam usaha mengatasi kebutuhan akan perubahan temperatur badan. Pusat pengaturannya berada di bagian otak yang disebut Hypothalmus. Ganguan regulasi temperatur akan menyebabkan tubuh mengalami gangguan.
c.    Tidur, kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi agar terhindar gejala halusinasi.
d.   Lapar, kebutuhan biologis yang harus dipenuhi untuk membangkitkan energi tubuh sebagai organis. Lapar akan menyebabkan gangguan pada fisik maupun mental.
e.    Seks, kebutuhan seks sebagai salah satu kebutuhan yang timbul dari dorongan mempertahankan jenis.
f.     Melarikan diri yaitu: kebutuhan manusia akan perlindungan dan keselamatan jasmani dan rohani.
g.    Pencegahan yaitu: kebutuahan manusia untuk mencegah terjadinya reaksi melarikan diri.
h.    Ingin tahu (curiosity) yaitu: kebutuhan rohani manusia untuk ingin selalu mengetahui latar belakang kehidupannya.
i.      Humor yaitu: kebutuhan manusia untuk mengurangi rasa beban pertanggungjawaban yang dialaminya dalam bentuk verbal dan perbuatan.[7]

2. Kebutuhan sosial
Kebutuhan sosial manusia tidak disebabkan pengaruh yang datang dari luar (stimulus) seperti layaknya pada binatang. Karena bentuk kebutuhan pada manusia berbentuk nilai. Jadi kebutuhan itu bukan sekedar semata-mata kebutuhan biologis melainkan juga kebutuhan rohani.
Selanjutnya Dr. Zakiah Daradjat dalam bukunya Peranan Agama dalam Kesehatan Mental membagi kebutuhan manusia atas 2 kebutuhan pokok, yaitu:
a.    Kebutuhan Primer, yaitu kebutahan jasmaniah
b.    Kebutuhan Sekunder atau kebutuhan rohaniah: Jiwa dan sosial. Kebutuhan ini sudah dirasakan manusia sejak masih kecil.[8]
Selanjutnya beliau membagi kebutuhan sekunder yang pokok menjadi 6 macam, yaitu:
1) Kebutuhan akan rasa kasih sayang
Kurangnya rasa kasih sayang pada diri seseorang terutama pada anak-anak akan menyebabkan tembok pemisah antara mereka dengan orang tuanya.
2) Kebutuhan akan rasa aman
Tidak adanya rasa aman menyebabkan seseorang terganggu sikap integritas dirinya dengan masyarakat dan lingkungannya.
3) Kebutuhan akan rasa harga diri
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang bersifat individual. Diabaikannya kebutuhan akan rasa harga diri ini cenderung menimbulkan sikap menyombongkan diri, ngambek, dan sebagainya.
4) Kebutuhan akan rasa bebas
Penyakuran rasa bebas ini merupakan upaya agar tercapai perasaan lega. Kehilangan rasa bebas akan  menyebabkan seseorang menjadi gelisah, tertekan baik fisik maupun mental.
5) Kebutuhan akan rasa sukses
Penyaluran kebutuhan ini akan menambah rasa harga diri. Pemberian tugas yang sesuai dengan kemampuan dan pengganjaran batin (remneration) merupakan usaha untuk menyalurkan rasa sukses.
6) Kebutuhan akan rasa ingin tahu
Kebutuhan akan rasa ingin tahu akan memenuhi kepuasan dalam pembinaan pribadi seseorang. Kebutuhan ini jika tidak disalurkan akan terarah kepada tindakan-tindakan negatif yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.[9]
3. Kebutuhan manusia akan agama
Selain berbagai macam kebutuhan yang disebutkan diatas masih ada lagi kebutuhan manusia yang sangat perlu diperhatikan yaitu kebutahan terhadap agama. Karena manusia disebut sebagai makhluk yang beragama (homo religious).
Manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Hal semacam ini terjadi pada masyrakat moderen, maupun masyarakat primitif.[10]
C.  Perkembangan Beragama pada Orang Dewasa
Dengan berakhirnya masa remaja, maka berakhir pulalah kegoncangan-kegoncangan jiwa yang menyertai pertumbuhan remaja itu. Yang berarti bahwa orang yang telah melewati usia remaja, mempunyai ketentraman jiwa, ketetapan hati dan kepercayaan yang tegas, baik dalam bentuk positif, maupun negatif. Kendatipun demikian, dalam kenyataan hidup sehari-hari, masih banyak orang yang merasakan kegoncangan jiwa pada usia dewasa. Bahkan perubahan-perubahan kepercayaan dan keyakinan kadang-kadang masih terjadi saja. Keadaan dan kejadian-kejadian itu, sangat menarik perhatian ahli agama, sehingga mereka berusaha terus-menerus mengajak orang untuk beriman kepada Allah dan berusaha memberikan pengertian-pengertian tentang agama.[11]
Charlotte Buchler melukiskan tiga masa perkembangan pada periode prapubertas, dan periode pubertas dan periode adoselen dengan semboyan yang merupakan ungkapan batin mereka. Di periode prapubertas oleh Charlotte Buchler dengan kata-kata: “Perasaan saya tidak enak, tetapi tidak tahu apa sebabnya”. Untuk periode pubertas dilukiskannya sebagai berikut: “Saya ingi sesuatu, tetapi tidak tahu ingin akan apa”. Adapun dalam periode adoselen, ia mengemukakan dengan kata-kata: “Saya hidup dan saya tahu untuk apa”.[12]
Kata-kata yang digunakan Charlotte Buchler tersebut mengungkapkan betapa masih labilnya kehidupan jiwa anak-anak ketika menginjak usia menjelang remaja dan di usia remaja mereka. Sebaliknya saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kemantapan jiwa mereka: “Saya hidup dan saya tahu untuk apa”, menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. dengan perkataan lain, orang dewasa sudah memahami nilai-nilai yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya. Orang dewasa sudah memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang mantap.[13]
Sikap keberagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekadar ikut-ikutan.
Kestabilan dalam pandangan hidup beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Melainkan kestabilan yang dinamis, di mana pada suatu ketika ia mengenal juga adanya perubahan-perubahan. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada.[14]
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.             Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekadar ikut-ikutan.
2.             Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3.             Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4.             Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.             Bersikap lebih terbuka dan wawasan lebih luas.
6.             Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7.             Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakn ajaran agama yang diyakininya.
8.             Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.



BAB III
PENUTUP
Simpulan
Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya.
Kestabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. Kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.




DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiah. 1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT Bulan Bintang.
Jalaluddin. 1997. Psikologi Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Mubin, dkk. 2006. Psikologi Perkembangan. Ciputat: Quantum Teaching.
Ramayulis. 2007. Psikologi Agama. Jakarta: Radar Jaya.


[1]Mubin, dkk, Psikologi Perkembangan, (Ciputat: Quantum Teaching, 2006), hal. 113-114.
[2]Loc. Cit.
[3]Ibid., hal. 115.
[4]Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), hal. 79.
[5]Loc. Cit.
[6]Ibid., hal. 80.
[8]Jalaluddin, Op. Cit., hal. 86.
[9]Ibid., hal. 87-88.
[11]Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1970), hal. 136-137.
[12]Jalaluddin, Op. Cit., hal. 93.
[13]Loc. Cit.
[14]Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Radar Jaya, 2007), hal. 65.

Filsafat Pendidikan -- Pengantar Filsafat Pendidikan

by Saidi
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
            Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
            Suatu usaha untuk mengatasi persoalan-persoalan pendidikan tanpa menggunakan kearifan (wisdom) dan kekuatan filsafat ibarat sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk gagal. Persoalan pendidikan adalah persoalan filsafat. Pendidikan dan filsafat tidak terpisahkan karena akhir dari pendidikan adalah akhir dari filsafat, yaitu kearifan (wisdom). Dan alat dari filsafat adalah alat dari pendidikan, yaitu pencarian (inquiry), yang akan mengantar seseorang pada kearifan.
Filsafat pendidikan memang suatu disiplin yang bisa dibedakan tetapi tidak terpisah baik dari filsafat maupun juga pendidikan, ia beroleh asupan pemeliharaan dari filsafat. Ia mengambil persoalannya dari pendidikan, sedangkan metodenya dari filsafat. Berfilsafat tentang pendidikan menuntut suatu pemahaman yang tidak hanya tentang pendidikan dan persoalan-persoalannya, tetapi juga tentang filsafat itu sendiri. Filsafat pendidikan tidak lebih dan tidak kurang dari suatu disiplin unik sebagaimana halnya filsafat sains atau sains yang disebut mikrobiologi.
Bidang ilmu pendidikan dengan berbagai cabang-cabangnya merupakan landasan ilmiah bagi pelaksanaan pendidikan, yang terus berkembang secara dinamis. Sedangkan filsafat pendidikan sesuai dengan peranannya, merupakan landasan filosofis yang menjiwai seluruh kebijaksanaan dan pelaksanaan pendidikan. Kedua bidang diatas harus menjadi pengetahuan dasar (basic knowledge) bagi setiap pelaksana pendidikan, apakah ia guru ataukah sarjana pendidikan.
2. Rumusan Masalah
1)      Jelaskan pengertian pendidikan dan filsafat pendidikan?
2)      Jelaskan ruang lingkup filsafat pendidikan?
3)      Apa saja peranan filsafat pendidikan?
3. Tujuan Penulisan Makalah
            Mahasiswa dapat manjelaskan secara lisan/tertulis makna pendidikan, filsafat pendidikan, dan ruang lingkup filsafat pendidikan, serta peranan filsafat pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN
Kompetensi Dasar
:
Mahasiswa memahami pengertian pendidikan, filsafat pendidikan, ruang lingkup filsafat pendidikan, dan peranan filsafat pendidikan.
Indikator
:
Mahasiswa dapat manjelaskan secara lisan/tertulis makna pendidikan, filsafat pendidikan, dan ruang lingkup filsafat pendidikan, serta peranan filsafat pendidikan.

A. Pengertian Pendidikan dan filsafat pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari bahasa Inggris “education”, berakar dari bahasa Latin “educare”, yang berarti pembimbingan berkelanjutan(to lead forth). Jika diperluas, arti etimologis itu mncerminkan keberadaan pendidikan yang berlangsung dari generasai ke generasi sepanjang eksistensi kehidupan manusia.

Psikologi Agama - Konversi Agama

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia hidup di dunia tidak lepas dari masalah kehidupan. Ada yang bahagia, maupun menderita, dan ada yang miskin dan adapula yang kaya. Dari perbedaan masalah tersebut terkadang menyebabkan seseorang mengalami kegoncangan batin, bahkan terkadang merasa putus asa. Untuk itu manusia akan mencoba atau berusaha untuk mencari pegangan atau ide baru, dimana disitu dia bisa merasakan ketenangan jiwa.

Psikologi Agama -- Perkembangan Jiwa Agama Pada Usia Remaja

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Dewasa ini masalah remaja menjadi hal yang serius, padahal remaja sekarang adalah pemimpin dimasa depan. Saat-saat remaja adalah saat sulit dalam mendidik, karena remaja sudah bisa melakukan bantahan saat proses pendidikan. Pertama kali yang bertanggung jawab masalah bagi remaja disini adalah keluarga, seperti seruan dalam Al-qur’an pada surah At-tahrim ayat 6 yang artinya: wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka .…dst , jelas sudah keluargalah yang seharusnya pertama kali mendidik mereka dengan akidah yang kuat, sehingga mereka tidak akan terpengaruh oleh hal negatif dari kemajuan zaman. Tentu keluarga yang mendidik dengan cara Islamlah yang akan membentuk remaja dengan akidah Islam yang benar dan kuat.  
           

 


BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA REMAJA

A.    Masa Remaja dan Perkembangannya
Dalam perkembangan kepribadian seseorang maka remaja mempunyai arti yang khusus, namun begitu masa remaja mempunyai tempat yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan seseorang. Secara jelas masa anak dapat dibedakan dari masa dewasa dan masa tua.  Anak masih harus banyak belajar untuk dapat memperoleh tempat dalam masyarakat sebagai warga negara yang bertanggung jawab dan bahagia.
Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi ia tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau orang tua. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnya.[1]
 
B.     Teori Tentang Masa Remaja
Dalam hal ini banyak pendapat yang dipengaruhi oleh bangsa Yunani Mesir dan Yahudi sebalum Masehi, dalam masyarakat itu mengenal adanya masa inisiasi yang berarti masa yang dating secara mendadak  dan bersifat uniform dalam mana pemuda-pemudi menginjak masa dewasa. Masa remaja merupakan masa perkembangan kematangan pisik (early adolescence), dan kemudian diikuti masa kematangan emosi (second adolescence), dan diakhiri dengan oleh perkembangan intelek. Klasifikasi ini sangat mempengaruhi ahli-ahli pada masa modern. Antara lain: [2]
a.       Vives
b.      Comenius
c.       Rousseau
1.      Pentingnya Pendidikan Bagi Remaja
            Remaja pada saat ini adalah pemimpin masa yang akan datang, oleh karena itu remaja harus dididik dengan didikan agama yang benar agar mereka sanggup menjadi pemimpin yang ditunggu-tunggu oleh semua umat manusia sekarang dan nanti. Artinya jiwa agama harus ditanamkan sejak dini.
Dizaman yang penuh dengan pembaharuan sekarang ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik, baik orang tua dirumah dan guru-guru disekolah. Tentu ada beberapa cara dan metode yang harus dipilih agar remaja menjadi manusia seutuhnya dimasa depan nanti.
Semua makhluk hidup mengalami perkembangan, tak terkecuali manusia. Manusia mengalami beberapa tahapan dalam perkembangannya. Dimulai dari balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, lalu setengah baya, dan menjadi tua.
Dimulai pada saat pubertas atau dari umur belasan tahun hingga mencapai dua puluh empat tahun, ada perbedaan dari para pendidik, terkadang masa remaja akan panjang dan kadang pendek, lingkungan yang mempengaruhinya. Masa remaja cenderung tidak menentu, seorang anak berumur 10 tahun mungkin saja (atau sudah) mengalami pubertas namun ia sudah bisa dikatakan remaja dan siap menghadapi dunia orang dewasa.[3]
Secara etimologis, pakar bahasa mempunyai pendapat bahwa masa remaja dimulai dari sebelum baligh dan berakhir pada usia baligh.
 Beberapa definisi remaja, yaitu:
·         Masa pekembangan menuju kematangan jasmani, seksualitas, pikiran, dan emosional.
·         Masa terjadinya berbabgai perubahan pada anak, baik itu jasmani, seksualitas, pikiran, kedewasaan, maupun social. Semua itu merupakan proses perpindahan seseorang dari masa kanak-kanak dan remaja ke masa dewasa dan kematangan.[4]

2. Hal-Hal Yang Harus Diberikan Dalam Mendidik Agama Pada Jiwa Remaja
Mendidik anak remaja merupakan hal yang cukup sulit dilakukan, karena remaja cenderung berubah, tidak tetap pendirian, dan pastinya remaja sudah mulai mengenal dunia luar yang membuatnya menjadi agak susah di didik, bahkan terkadang ada yang sudah bisa membantah. Terkadang remaja berprilaku seperti anak kecil dan tak jarang pula yang berprilaku seperti orang dewasa. Jadi harus memakai cara yang tepat agar pendidikan terhadap remaja berhasil.
Dalam mendidik anak remaja juga sangat perlu diperhatikan hal-hal seperti dibawah ini:

a. Memberi perhatian dan kasih sayang
            Kelembutan dan kasih sayang mempunyai makna pendidikan yang luar biasa pada jiwa seorang remaja, bahkan tidak hanya remaja, tetapi semua orang. Kasih sayang yang diberikan orang tua merupakan pengikat jiwa antara sang anak dengan orang tua yang membuat anak tersebut akan menerima arahan dan bimbingan dari orang tua dan kemudian ia akan melaksanakanya.
            Kebiasaan anak remaja akan mencari perhatian jika tidak diperhatiakan oleh orang tuanya, tak jarang perbuatan mencari perhatian tersebut mengarah kepada kejahatan. Oleh karena itu kasih sayang sebagai bentuk perhatian sangat diperlukan. Sebagai bentuk perhatian juga perlu mengetahui perkembangan anak remaja. Anak remaja sekarang cenderung berkembang mengikuti zaman yang modern, namun dalam psikologi ada tiga aliran dalam hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu:
a.       Aliran Nativisme, yang dipelopori Arthur Schopenhauer (1788-1860), aliran ini berendapat bahwa segala faktor perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut Nativisme pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi kalau benar pendapat tersebut, maka percumalah kita mendidik, atau dengan kata lain: pendidikan tidak perlu. Dalam ilmu pendidikan ini disebut pesimisme pedagogis.
b.       Aliran Empirisme, yang dipelopori John Locke (1632-1704), aliran ini bertentangan dengan aliran Nativisme. Mereka berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi dewasa dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat didikan menjadi apa saja (kearah baik maupun buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis. Kaum behavioris juga sependapat dengan kaum empiris itu. [5]
c.       Aliran Konvergensi, yang dipelopori oleh William Stern (1871-1929) aliran ini menggabungkan dua aliran di atas. Konvergensi adalah interaksi antara faktor hereditas dan faktor lingkungan dalam proses perkembangan tingkah laku. Hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan. Sebaliknya rangsangan lingkungan tidak akan membina perkembangan  yang ideal tanpa didasari oleh faktor hereditas. Karenanya penentuan kepribadian seseorang ditentukan dengan kerja integral antara faktor internal (potensi bawaan) dan faktor eksternal (lingkungan pendidikan)[6]

Faktor dari orang tua terkadang lebih dominan, dan memang sangat banyak berpengaruh dalam perkembangan seorang anak, begitu pula tetang perkembangan jiwa agama anak tersebut, sebab dalam perkembangan zaman sekarang ini perkembangan jiwa agama seorang anak remaja akan mudah tergerus oleh kekejaman liberalisme kalau tidak ada pondasi dari orang tua. Pondasi akidah yang kuat tentu diberikan dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Orang tua yang memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada anak remaja akan terlihat berbeda dari orang yang membiarkan anaknya begitu saja. Anak  yang diberikan kasih sayang secara penuh akan beradaptasi dengan lingkungan sesuai apa yang orang tua ajarkan, sehingga dilingkungan yang bagaimanapun anak tersebut tetap menjalankan apa yang orang tua ajarkan. Sedangkan lingkungan hanya beberapa persen mempengaruhi perkembangan jiwa agama anak tersebut karena pondasi awal orang tua sudah mantap.


b. Memberian suri tauladan yang baik
Suri tauladan yang baik merupakan kebutuhan manusia yang tumbuh dari naluri jiwa setiap manusia. Dorongan dari dalam jiwa untuk mengikuti tersebut merupakan insting baik dorongan yang lemah maupun yang kuat. Dorongan yang membuat seorang akan mengikuti orang lain yang dianggapnya baik. Oleh karena itu Allah menurunkan langsung Rasulullah yang menjadi suri tauladan yang baik tidak hanya bagi remaja tetapi seluruh manusia, seperti didalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab:21 Allah berfirman, yang artinya: “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik ………”(Al-Ahzab:21)
Memberi contoh yang baik selain merupakan amal jariyah yang akan mengalirkan pahala terus menerus bagi yang melakukannya juga sebagai tanda kasih sayang kita terhadap orang terdekat kita dan orang lain dan itu sangat penting. Didalam Al-Qur’an Allah telah mengisyaratkan pentingnya memberi contoh yang baik, seperti dalam surah 25:74 yang artinya: Dan orang-orang berkata, “ ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

3. Cara Mendidik Perkembangan Jiwa Agama Remaja
            Banyak cara dalam mendidik remaja, namun berhasil tidaknya sangat dipengaruhi oleh pemilihan metodenya. Perkembangan jiwa agama yang benar pada remaja menjadikan remaja tersebut siap menghadapi masa depannya dengan penuh iman, sedangkan perkembangan jiwa agama yang salah akan berakibat fatal bagi dirinya dan bahkan orang lain. 
Didalam Al-qur-an terdapat dalam firman Allah Swt surah An-Nahl:125 yang artinya:
Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al-Nahl : 125)
Nasihat memang sangat diperlukan untuk remaja, akan tetapi memberi nasihat dengan remaja harus memilih waktu yang tepat. Juga orang yang menyampaikannya pun harus terlihat sebagai orang yang mantap, dan mempunyai kepribadian yang kuat serta berwibawa. Agar remaja tergugah hatinya untuk mengikuti nasihat tersebut. Nasihatnya bisa berupa berupa kabar gembira dan ancaman.

4.  Sikap Remaja Terhadap Agama
Setelah mengetahui faktor-faktor dan unsur-unsur yang mempengaruhi sikap remaja terhadap agama, maka dapatlah kita bagi sikap tersebut sebagai berikut;[7]
·         Percaya turut-turutan;
·         Percaya dengan kesadaran;
·         Percaya, tapi agak ragu-ragu (bimbang);
·         Tidak percaya sama sekali, atau cenderung kepada atheis.
a.       Percaya turut-turutan
Kebanyakan remaja percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajaran agama hanya karena lingkungannya yang beragama, maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar dengan suasana lingkungan di mana ia hidup. Percaya seperti inilah yang disebut dengan percaya turut-turutan. Mereka seolah-olah apatis, tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama, dan tidak amau aktif dalam kegiatan-kegiatan agama.
b.      Percaya dengan kesadaran
Telah dijelaskan bahwa masa remaja adalah masa di mana perubahan dan kegoncangan terjadi di segala bidang, yang dimulai dengan perubahan jasmani yang sangat cepat, jauh dari kesinambungan dan keserasian.
Setelah kegoncangan remaja pertama ini agak reda, yaitu pada umur kira-kira 16 th di mana pertumbuhan jasmani hampir selesai, kecerdasan juga sudah dapat berfikir lebih matang dan pengetahuan pun telah bertambah.
Kesadaran agama atau semangat agama pada masa remaja itu, mulai dengan cenderungnya remaja kepada meninjau dan meneliti kembali caranya beragama di masa kecil dulu.
Biasanya semangat agama itu tidak terjadi sebelum umur 17 atau 18 athun, semangat agama itu mempunyai 2 bentuk, yaitu:
1.      Semangat positif;
2.      Semangat khurafi.
c.       Kebimbangan beragama
Kebimbangan remaja terhadap agama itu berbeda antara satu dengan lainnya, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Ada yang mengalami kebimbangan ringan, yang dengan cepat dapat diatasi dan ada yang sangat berat sampai pada perubahan agama. Kebimbangan dan kegoncangan keyakinan yang terjadi sesudah perkembangan kecerdasan selesai.
d.      Tidak percaya kepada Tuhan
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari ujud Tuhan sama sekali dan menggantinya dengan keyakinan lain. Atau hanya tidak mempercayai adanya Tuhan saja secara mutlak. Ketidak percayaan yang sungguh-sungguh itu tidak terjadi sebelum umur 20 tahun.




BAB III
PENUTUP

Simpulan
Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi ia tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau orang tua. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi fisik maupun psikisnya. Masa remaja merupakan masa perkembangan kematangan pisik (early adolescence), dan kemudian diikuti masa kematangan emosi (second adolescence), dan diakhiri dengan oleh perkembangan intelek. Beberapa definisi remaja, yaitu:
·         Masa pekembangan menuju kematangan jasmani, seksualitas, pikiran, dan emosional.
·         Masa terjadinya berbabgai perubahan pada anak, baik itu jasmani, seksualitas, pikiran, kedewasaan, maupun social. Semua itu merupakan proses perpindahan seseorang dari masa kanak-kanak dan remaja ke masa dewasa dan kematangan.
Hal- hal yang mendidik remaja ialah:
-          Memberi perhatian dan kasih sayang
-          Member suri tauladan yang baik
Sikap remaja terhadap agama yaitu:
·         Percaya turut-turutan;
·         Percaya dengan kesadaran;
·         Percaya, tapi agak ragu-ragu (bimbang);
·         Tidak percaya sama sekali, atau cenderung kepada atheis.
           
                         




DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama.1970. (Jakarta: Bulan Bintang).
Fuady, M. Noor dan Ahmad Muradi.Pendidikan akidah berbasis keluarga.2009.(Jakarta: Antasari Press).
Http://tarbiyah-iainantasari.ac.id. M. Noor Fuady, M.Ag. Dakwah dan pembinaan akidah remaja.
Rifai, Melly Sri Sulastri. Psikologi Perkembangan Remaja.1983. (Bandung: Bina Aksara).


[1] Dr. F. J. Monks, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta, Gadjah Mada University Press; 1999), hal 259.
[2] Dra. Ny. Melly Sri Sulastri Rifai, Psikologi Perkembangan Remaja, (Bandung, Bina Aksara; 1983),  hal 17-18
[3] Fuady, M. Noor dan Ahmad Muradi. Pendidikan akidah berbasis keluarga. Hal 91.
[4] Opcit hal. 228
[5] Purwanto, M. Ngalim Drs. MP. Psikologi pendidikan. Hal. 14
[6]Http://tarbiyah-iainantasari.ac.id. M. Noor Fuady, M.Ag. Dakwah dan pembinaan akidah remaja.
[7] Prof. Dr. Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta, Bulan Bintang;1970) hal 91

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites