Showing posts with label Sejarah Peradaban Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Peradaban Islam. Show all posts

Thursday, May 24, 2012

MATERI PEMBELAJARAN SKI KELAS IV SEMESTER 1


BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
            Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang diturunkan Allah SWT di dunia ini. Beliau membawa ajaran agama Islam untuk seluruh umat manusia. Agar manusia tidak tersesat dan selamat dunia dan akhirat. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang dakwah Nabi Muhammad SAW pada masa permulaan dan kepribadian beliau.
b. Rumusan masalah
1.      Dakwah Nabi Muhammad pada masa permulaan
2.      Ketabahan Nabi Muhammad beserta para sahabatnya
3.      Kepribadian Nabi Muhammad SAW






BAB II
PEMBAHASAN
DAKWAH PADA MASA PERMULAAN
Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki akhlak dan akidah masyarakat, terutama masyarakat Quraisy di Mekah. Nabi Muhammad SAW ditugaskan untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Nabi Muhammad SAW berdakwah kepada kaum Quraisy secara terus-menerus, walaupun banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapinya. Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam, yaitu agama yang dapat membawa umatnya selamat di dunia dan di akhirat.[1]
A.  Dakwah pada Masa Permulaan Islam
Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT yang memerintahkan beliau agar mulai mendakwahkan Islam kepada keluarga dekatnya. Perintah tersebut terdapat di dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syu’arā’ ayat 214.
Artinya:
“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu  (Muhammad) yang terdekat.” (Q.S. Asy-Syu’arā’, 26: 214)
Dengan turunnya wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW berdakwah kepada keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Muthalib, mengajak mereka agar memeluk agama Islam.
Nabi Muhammad SAW mengundang kaum kerabat dan saudaranya pada perjamuan makan di rumahnya. Mereka yang datang jumlahnya tidak kurang dari 45 orang. Selesai makan, beliau menyampaikan dakwahnya. Tetapi baru saja mulai bicara salah seorang pamannya yang bernama Abu Lahab segera memutus pembicaraannya dan berkata, “Hai Muhammad, mereka adalah paman-pamanmu dan anak dari paman-pamannu. Berbicaralah dan jangan main-main! Aku tidak pernah melihat seseorang yang membawa sesuatu yang lebih  buruk dari apa yang kamu bawa.” Kemudian Abu Lahab mengajak tamu lainnya untuk pulang.
Walaupun dakwahnya tentang ajaran agama Islam ditolak, Nabi Muhammad SAW tidak putus asa. Sekali lagi beliau mengundang kaum kerabatnya. Selesai makan bersama, beliau mengawali dakwahnya dengan gaya baru untuk memikat perhatian mereka. Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang menjadi mata-mata musuh sekalipun, tidak akan sampai hati berdusta kepada kaum kerabatnya sendiri. Demi Allah, saya tidak akan berdusta kepada kaum kerabatku sendiri, yaitu bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian yang hadir.” Setelah berhasil menarik perhatian yang hadir kemudian  beliau pun melanjutkannya dan bersabda, “Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya aku memohon pertolongan. Aku beriman kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Demi Allah, sesungguhnya setiap orang akan mati kemudian akan dibangkitkan kembali, seperti orang yang dibangunkan dari tidurnya. Setiap amalnya akan dipertanggungjawabkan serta diberi balasan, yang baik diberi balasan yang baik, yang jahat diberi balasan yang jahat. Balasan itu hanya satu di antara dua: yaitu surga selamanya atau neraka selamanya.”
Di antara mereka ada yang menanggapi perkataan Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Abu Thalib berkata, “Aku memercayai kata-katamu, jalankan terus apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah aku akan selalu melindungimu, tetapi aku tidak dapat meninggalkan agama nenek moyangku!”
Tetapi Abu Lahab menentang keras dengan berkata, “Itu sikap yang sangat buruk. Cegahlah Muhammad sebelum orang lain menangkapnya! Kalau semua orang Arab sudah menentang kamu gara-gara Muhammad ini, aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi. Kalau kamu serahkan dia kepada mereka, berarti kamu berperang dengan semua orang Arab.”
Mendengar ucapan saudaranya itu, Abu Thalib dengan tegas berkata, “Demi Allah, selama aku masih hidup, Muhammad akan kami bela!”
Dengan halus beliau menyampaikan dakwah Islam, yaitu tentang Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan dan tentang hari pembalasan. Ternyata tidak semua kerabatnya menentang, ada juga yang bersedia membelanya.
B.  Ketabahan Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabatnya
Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan agar bangsa Arab tidak kaget menerima perubahan adat istiadat yang telah berlaku turun-temurun.
Nabi Muhammad SAW berdakwah secara bertahap. Dakwah tahap pertama beliau sampaikan kepada keluarga dan sahabat terdekatnya. Orang-orang yang pertama menerima seruan Islam adalah keluarga dan sahabat yang terdekat, yaitu Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW. kemudian saudara sepupunya yaitu Ali bin Abi Thalib yang ketika itu belum genap berusia sepuluh tahun. Dialah dari golongan anak-anak yang pertama kali menerima seruan Islam. Selanjutnya Zaid bin Haritsah, mantan budak Nabi Muhammad SAW yang kemudian diangkat anak oleh beliau. Selain itu sahabat beliau bernama Abu Bakar juga masuk Islam.[2]
Kemudian dakwah tahap kedua dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad SAW berdakwah kepada keluarga dan para sahabat lainnya. Abu Bakar pun giat mendakwahkan ajaran Islam kepada para sahabat dekatnya. Abu Bakar adalah seorang saudagar kaya yang disenangi, berakhlak mulia, dan terkenal ramah. Oleh karena itu Abu Bakar memiliki banyak sahabat. Usaha Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ternyata tidak sia-sia, beberapa sahabat dan kerabat mereka masuk Islam, di antaranya yaitu, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Sa’ad bin Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka itulah yang kemudian menjadi pelopor penyiar Islam.
Setelah itu masuk Islam pula Bilal bin rabbah, Abu Ubaidah bin Jarrah, Salmah bin Abdul Asad Al-Makhzumi, Arqam bin Abi Arqam, Utsman bin Mazh’un, Ubaidah bin Haits, Fatimah binti Khattab (saudara Umar bin Khattab), Habab bin Art, dan Abdullah bin Mas’ud.
Mereka yang mula-mula memeluk Islam kemudian mendapat julukan “As-Sābiqunal Awwalūn,” artinya “orang yang pertama-tama masuk agama Islam.” Nabi Muhammad SAW membina para sahabat yang telah beriman itu dengan ajaran-ajaran tauhid, yaitu memercayai bahwa  tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan beliau adalah utusan-Nya.
Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada kaum Muslimin, Nabi Muhammad SAW  menggunakan rumah salah seorang sahabatnya yang setia, yaitu Arqam bin Abi Arqam yang terletak di dekat bukit Shafa.
Dalam membina kaum Muslimin, Nabi Muhammad SAW  mendahulukan pembinaan akidah dan akhlak, serta perilaku islami yang sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Terdapat beberapa pembinaan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap kaum Muslimin dalam mengajarkan agama Islam. Pembinaan tersebut di antaranya, yaitu:
Pembinaan akidah, bertujuan agar kaum Muslimin meninggalkan penyembahan berhala seperti yang masih dilakukan oleh sebagian besar kaum Quraisy. Dan meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah SWT. Kepada mereka juga diajarkan bahwa ada kehidupan abadi setelah kematian. Segala sesuatu yang telah dikerjakan di dunia ini akan mendapat balasannya.
Pembinaan akhlak, bertujuan agar kaum Muslimin berbudi luhur, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti berjudi, maduk-mabukan, merampok, dan perbuatan tercela lainnya. Masyarakat Arab jahiliah sudah terbiasa mabuk dan main judi. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW secara perlahan-lahan membina kaum Muslimin agar sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Dengan sabar dan bijaksana beliau mengajak orang yang baru masuk Islam untuk meninggalkannya.
Pembinaan sosial kemasyarakatan, bertujuan menertibkan kehidupan masyarakat agar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Mereka diajarkan untuk mencari rezeki yang halal, menyayangi sesama, saling menghormati dan tolong-menolong, bergaul dengan baik, bertetangga dengan baik, dan sebagainya.
Nabi Muhammad juga mengajarkan untuk menyayangi kaum perempuan. Bangsa Arab jahiliah sangat memandang rendah kaum perempuan. Bahkan, mereka membunuh anak-anak perempuan mereka. Hal itu karena mereka merasa malu dan hina jika mempunyai anak perempuan. Umar bin Khattab pun pernah membunuh anak perempuannya sebelum ia masuk Islam. Namun setelah masuk Islam, ia menyesal dan bertobat kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa antara anak laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan derajat yang sama.
C.  Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam
Setelah tiga tahun Nabi Muhammad SAW berdakwah secara sembunyi-sembunyi, turunlah wahyu Allah SWT agar Nabi Muhammad SAW berdakwah secara terang-terangan. Wahyu tersebut terdapat di dalam Al-Qur’an Surah Al-Hjr ayat 94.

Artinya:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Al-Hijr, 15: 94)
Dengan perintah Allah SWT tersebut, mulailah Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah secara terang-terangan di depan orang-orang Quraisy. Dakwah Nabi Muhammad SAW tersebut disampaikan tidak hanya kepada keluarga, kerabat, tetapi juga masyarakat umum, terutama kepada para penduduk Mekah.
Rasulullah SAW merasa yakin terhadap janji Abu Thalib bahwa beliau akan selalu membela Rasulullah dalam menyampaikan dakwahnya. Pada suatu ketika, Nabi Muhammad SAW  pergi ke bukit Shafa di dekat Kakbah. Dari atas bukit itu beliau memanggil banyak orang. Oleh karena Nabi Muhammad SAW  adalah orang yang terkenal dengan budi pekerti dan kejujurannya, kaum Quraisy segera berdatangan. Pada kesempatan itulah Rasulullah SAW menyerukan untuk mentauhidkan Allah SWT dan beriman kepada hari kiamat.
Kepada orang-orang Quraisy itu Rasulullah SAW berkata, “Seandainya aku beritakan kepada kalian bahwa di lembah sana terdapat pasukan berkuda yang hendak menyerang kalian. Apakah kalian akan memercayaiku?” Orang-orang yang hadir pun serempak menjawab, “Ya, kami percaya. Kami belum pernah melihat kamu berdusta!”
Kemudian Rasulullah SAW berkata lagi, “Jika begitu dengarkanlah! Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, aku adalah utusan Allah. Allah telah memerintahkan aku supaya memperingatkan kalian. Sembahlah Allah Yang Maha Esa, tiada Tuhan selain Allah. Maka bila kalian ingkar, kalian akan mendapat azab Allah di hari kiamat.”
Ajakan Rasulullah SAW itu mendapat tentangan keras dari kebanyakan  kaum Quraisy. Mereka menyumpahi Nabi Muhammad SAW. Di antara mereka adalah Abu Lahab, paman beliau sendiri. Ia marah dan memaki-maki beliau, “Celakalah engakau Muhammad. Untuk inikah kamu mengumpulkan kami?”
Mendengar ucapan Abu Lahab tersebut, Nabi Muhammad SAW  terdiam. Lalu turunlah ayat Al-Qur’an Surah Al-Lahab ayat 1-5. 

Artinya:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari serabut.” (Q.S. Al-Lahab, 111: 1-5)
Dakwah pertama Rasulullah SAW di depan umum ini tidak mendapat tanggapan yang baik dari kaum Quraisy. Namun beliau tidak berputus asa, beliau terus berdakwah. Rasulullah SAW berdakwah kepada kaum Quraisy dan penduduk Mekah selama kurang lebih tiga belas tahun.
KETABAHAN NABI MUHAMMAD SAW DAN PARA SAHABATNYA
Kaum Quraisy terus berusaha menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW. mereka mengadakan perlawanan terhadap dakwah Islam. Dengan berbagai cara mereka membujuk, memengaruhi, bahkan mengancam Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya agar tidak menyiarkan agama Islam.
D. Meneladani Ketabahan Nabi Muhammad SAW dalam Berdakwah
Ketika orang-orang kafir Quraisy melihat satu persatu penduduk Mekah masuk Islam, mereka merasa agama nenek moyang mereka mulai terancam. Hal ini membangkitkan kemarahan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya. Banyak  pengikut beliau yang menjadi sasaran penyiksaan, terutama pengikutnya dari golongan para budak. Tetapi terhadap Nabi Muhammad SAW sendiri, mereka tidak berani melakukannya secara fisik. Hal itu karena beliau dilindungi pamannya, Abu Thalib. Selain itu, beliau juga disegani karena berasal dari keturunan Bani Hasyim. Bani Hasyim mempunyai kedudukan serta martabat tinggi dalam masyarakat Quraisy.[3]
Kaum Quraisy mengira kekuatan Nabi Muhammad SAW terletak pada pamannya, Abu Thalib. Oleh karena itu pada suatu ketika, beberapa pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib. Mereka meminta Abu Thalib membujuk Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya. Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib, hendaklah mulai hari ini engkau melarang keponakanmu, Muhammad, mencela tuhan-tuhan kami. Jika tidak, kami akan memusuhimu dan memusuhi dia. Dan jika memang sudah kami rasa perlu, kami akan membunuhnya.” Tuntutan mereka itu ditolak secara baik oleh Abu Thalib.
Karena usaha pertama mereka tidak berhasil, kaum Quraisy kembali datang mengancam Abu Thalib. Mereka mengajukan pilihan kepada Abu Thalib, yaitu: Abu Thalib bersedia menghentikan dakwah Nabi Muhammad SAW atau mereka sendiri yang melakukannya.
Mendengar ancaman itu, Abu Thalib merasa sangat khawatir akan terjadi perpecahan dan permusuhan di antara kaumnya. Namun, dia juga tidak sampai hati melarang keponakannya menyebarkan agama yang diyakininya. Abu Thalib memanggil Nabi Muhammad SAW dan berkata: “Wahai keponakanku, hentikanlah mendakwahkan Islam! Demi keselamatanmu dan keselamatanku. Janganlah memberiku beban di luar kesanggupanku. Berhentilah mengajak orang-orang meninggalkan berhala-berhala itu.”
Mendengar permintaan Abu Thalib tersebut, Nabi Muhammad SAW mengira pamannya sudah tidak bersedia melindunginya lagi. Beliau menjawab dengan tegas: “Wahai pamanku. Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak pernah meninggalkan dakwah agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku hancur binasa karenanya.”
Beliau menangis dan berbalik meninggalkan pamannya. Tetapi Abu Thalib memanggilnya dan berkata: “Pergilah dan teruskan perjuanganmu, demi Allah aku tidak akan pernah menyerahkan kamu kepada mereka karena suatu alasan apapun.”
Jawaban Nabi Muhammad SAW yang begitu tegas itu menunjukkan bahwa beliau benar-benar seorang yang sangat teguh memegang prinsip dalam memperjuangkan kebenaran. Setelah cara ini gagal, kaum kafir Quraisy menugaskan Utbah bin Rabi’ah untuk membujuk Nabi Muhammad SAW agar menghentikan dakwahnya. Utbah menawarkan berbagai macam kesenangan duniawi seperti kedudukan dan kekayaan, yang akan menjadikan beliau satu-satunya orang yang paling berkuasa di kota Mekah. Akan tetapi, semua bujukan itu juga ditolak oleh Nabi Muhammad SAW, karena bukan untuk itu beliau berdakwah. Beliau hanya menginginkan agar seluruh umat manusia menyembah Allah SWT. Kaum kafir Quraisy kehabisan cara menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW. akhirnya mereka bersepakat memboikot beliau dan kaum Muslimin termasuk juga seluruh keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib, baik yang telah masuk Islam maupun yang tidak. Alasan pembiokotan ini karena mereka tidak mau menyerahkan Nabi Muhammad SAW. pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun. Seluruh bangsa Arab dilarang mengadakan hubungan apapun dengan keluarga Bani Hasyim, Bani Muthalib, dan kaum Muslimin. Baik hubungan jual beli, silaturahmi, maupun perkawinan. Keputusan mereka itu ditulis dan digantungkan di Kakbah.
Dengan adanya pemboikotan tersebut, Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin berserta keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib diasingkan di bagian utara kota Mekah dan dijaga ketat oleh orang Quraisy. Mereka tidak dapat berhubungan dengan masyarakat Mekah lainnya. Tempat pengasingan mereka itu dikenal dengan nama Syi’qib Abu Thalib dan oleh sebagian orang tempat itu dijuluki sebagai “Lembah Maut”.
Akibat pemboikotan tersebut, kaum Muslimin menjadi sangat menderita. Mereka kekurangan makakan sehingga terancam kelaparan. Akan tetapi penderitaan itu mereka hadapi dengan sabar, tawakal, dan tabah.
Setelah tiga tahun, pengumuman itu pun jatuh dimakan rayap. Beberpaa pemuka Quraisy merobeknya karena merasa kasihan melihat penderitaan kaum Muslimin dan keluarganya. Dengan demikian pemboikotan itu pun dihentikan. Keluarga Bani Hasyim, Bani Muthalib, dan kaum Muslimin dapat bebas kembali melakukan kegiatannya seperti semula.
Demikianlah tantangan-tantangan yang pernah dihadapai oleh Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin ketika menyampaikan agama Islam. Hingga akhirnya, dengann pendirian yang begitu kokoh, Nabi Muhammad SAW berhasil menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Inilah buah dari sebuah perjuangan panjang yang telah beliau lakukan untuk umatnya.
E. Meneladani Ketabahan Para Sahabat Nabi dalam mempertahankan Akidah Islam
Meskipun pengikut Nabi Muhammad SAW masuk Islam secara sembunyi-sembunyi, akhirnya diketahui juga oleh para pemuka Quraisy yang menentang ajaran Islam. Mereka sangat terkejut karena ajaran Islam telah masuk ke rumah-rumah mereka. Sebagian dari budak-budak mereka dan anggota keluarganya telah mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Mengetahui hal tersebut, kaum kafir Quraisy memkasa budak-budak yang sudah masuk Islam itu agar kembali menyembah berhala. Namun, mereka menolak. Kaum kafir Quraisy sangat marah dan menyiksa mereka secara kejam. Mereka dipukuli, dicambuk, diikat di tiang, tidak diberi makan dan minum. Ada juga yang ditelentangkan di atas pasir yang panas dan dadanya dihimpit dengan batu yang besar.
Bagi kaum Muslimin yang telah medapat hidayah Allah SWT, siksaan berat yang diderita tidak akan dapat menggoyahkan keimanan mereka. Semakin berat siksaan yang mereka alami, semakin kuat keimanan tertanam di dalam hati. Mereka lebih baik mati daripada menjadi kafir kembali (murtad). Berikut ini adalah beberapa kisah para sahabat Nabi yang menjalani siksaan kaum kafir Quraisy.
1.                  Bilal bin Rabbah
Bilal bin Rabbah adalah seorang budak milik Umyyah bin Khalaf. Ketika ajaran Islam mulai tesebar, Bilal segera masuk Islam dan meninggalkan kepercayaan menyembah berhala. Hal itu dilakukannya karena ia meyakini kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. suatu agama yang menjanjikan kehidupan bahaga di dunia dan di akhirat. Agama yang tidak membedakan derajat manusia dari harta dan kedudukannya, karena dalam pandangan Allah SWT manusia itu sama. Hanya iman, takwa, dan amal ibadah yang membuat seseorang menjad lebi tinggi atau lebih rendah derajatnya.
Masuk Islamnya Blal segera diketahui oleh Umayyah. Umayyah sangat marah, ia mengikat dan menyeret Bilal ke sebuah tempat di pinggir kota Mekah bernama Batha. Di situlah Bilal ditelentangkan di atas padang pasir yang panas, kedua tangan dan kakinya diikat pada patok kayu, sedangkan dada dan perutnya dihimpit dengna batu dan balok yang besar. Umayyah mencambuknya sambil memaki dan memaksa agar Bilal keluar dari agama Islam dan kembali menyembah Lata, Uzza, dan Manat.
Namun betapa pun berat siksaan yang dirasakannya, Bilal tetap tabah dan teguh keimanannya kepada Allah SWT. Tatkala Bilal hampir mati karena siksaan yang dideritanya, Abu Bakar melewati tempat penyiksaan itu. Abu Bakar yang tidak tahan melihat perlakuan Umayyah dan penderitaan Bilal, segera menghampiri Umayyah dan berkata: “Wahai Umayyah! Sia-sia engkau menyiksa hamba Allah yang teguh keimanannya itu. Dadipada dia mati, mengapa tidak engkau jual saja budak itu kepadaku!”
Setelah berpikir sejenak, Umayyah pun setuju menjual Bilal dengan harga tinggi. Abu Bakar tidak menawar lagi, dan dibelinya Bilal dengan harga yang diinginkan Umayyah. Setelah itu Abu Bakar memerdekakan Bilal, sehingga ia bebas dari perbudakan dan kedudukannya sederajat dengan para sahabat Nabi Muhammad SAW.
2.                  Keluarga Ammar bin Yasir
Ammar bin Yasir adalah mantan budak Bani Makhzum. Ia msuk Islam bersama ayahnya, Yasir dan ibunya bernama Sumayyah. Walaupun masuk Islam secara diam-diam, namun akhirnya diketahui juga oleh orang-orang kafir Quraisy seperti kaum Muslimin yang lainnya. Ketiganya ditangkap dan diseret ke tengah padang pasir yang sangat panas, lalu disiksa dengan kejam. Mereka dipukuli, dicambuk, dicai-maki, dan dipaksa agar meninggalkan ajaran Islam. Namun keimanan mereka sudah sangat kuat sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menggoyahkan keyakinan dan keimanan mereka kepada Allah SWT.
Ketika mereka sedang disiksa, Nabi Muhammad SAW menghampiri dan berkata kepada Yasir dan keluarganya:
“Wahai keluarga Yasir, bersabarlah, Allah SWT telah menjanjikan surga untuk kalian.” Mendengar kata-kata Rasulullah tersebut, maka semakin kuatlah keimanannya. Tidak ada balasan bagi mereka yang beriman kecuali surga yang penuh dengan kenikmatan abadi.
Dalam penyiksaan itu, Yasir meninggal, demikian pula Sumayyah yang menjadi wanita pertama yang gugur dalam Islam.
Ammar pun kemudian disiksa dengan kejam. Dia dijemur telentang di atas padang pasir yang sangat panas dan berulangkali dibenamkan di dalam kubangan air kotor. Untuk menyelamatkan nyawanya Ammar terpaksa berpura-pura meninggalkan agama Islam. Kemudian ia segera mengadukan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW sambil menangis. Lalu turunlah firman Allah SWT Surah An-Nahl, ayat 106 yang artinya:
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah). Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (Q.S. An-Nahl: 106)
3.                  Abu BAkar Shiddiq
Ketika sedang berdakwah beliau pernah dikeroyok dan dipukuli hingga sakit parah. Tetapi untungnya beliau ditolong dan diselamatkan oleh orang-orang  dari kaum Tamimy. Demikian juga setiap beliau melakukan dakwah selalu mendapat gangguan dari orang-orang kafir Quraisy seperti dilempari kotoran dan beberapa gangguan lainnya.
4.                  Utsman bin Affan
 Ketika baru masuk Islam beliau dikurung di dalam kamar gelap oleh Hakam bin Umayyah, yaitu pamannya yang masih kafir. Di dalam kamar itu ia disiksa dan diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan Islam. Tapi keimanan Utsman sangat kuat sehingga setiap dipaksa keluar dari Islam, ia berkata: “Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan Islam.”
5.                  Zubai bin Awwam
Ketika diketahui oleh saudara-saudaranya bahwa ia telah masuk Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW , ia ditangkap dan diikat pada sebuah tiang dan dipukuli hingga sakit. Namun beliau tetap teguh pada keyakinannya untuk mengikuti ajaran Allah SWT.
6.                  Abu Fukaihah
Dia adalah hamba sahaya pada keluarga Shafwan bin Umayyah. Secara diam-diam Abu Fukaihah masuk Islam. Namun suatu ketika Abu Fukaihah dipanggil majikannya, ia ditanya tentang agama Islam. Abu Fukaihah mengaku terus terang bahwa ia telah lama masuk Islam. Akibatnya ia pun disiksa seperti Bilal bin Rabbah.
7.                  Khabbab bin Al-Art
Dia adalah seorang pandai besi. Khabbab masuk Islam pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW . setelah diketahui oleh kaum Quraisy, Kahbbab diculik dan disiksa di tengah padang pasir dengan tangan dan kaki diikat.
8.                  Labibah
Labibah adalah seorang hamba sahaya wanita dari Bani Muammal bin Habib. Oleh karena memeluk Islam, ia disiksa oleh kaum kafir Quraisy termasuk oleh Umar bin Khattab sebelum masuk Islam. Untunglah penderitaan itu diketahui oleh Abuk Bakar. Labibah segera ditebus dan dimerdekakannya.
9.                  Suhail bin Sinan
Dia adalah tawanan perang yang dijual sebagai budak kepada bangsawan Quraisy. Namun kemudian dimerdekakan oleh majikannya itu. Setelah bebas, ia masuk Islam dan ikut belajar agama Islam kepada Nabi Muhammad SAW di rumah Arqam bin Abi Arqam. Mengetahui Suhail masuk Islam, orang-orang kafir Quraisy menangkap dan menyiksanya. Oleh karena tidak tahan dengan siksaan itu, Suhail membebaskan diri dengan cara menyerahkan seluruh hartanya sebagai tebusan.
Demikianlah berbagai tekanan dan penganiayaan serta kebencian kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya. Namun semua itu tidak menyurutkan keimanan mereka kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka bertambah teguh dan kuat dalam mempertahankan keyakinannya bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah SWT”. Mereka tetap berkeyakinan bahwa agama Islam akan tegak di bumi ini. Dan mereka yang mengikuti ajaran agama Islam akan selamat serta mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itulah, mereka rela berkorban untuk menegakkan agama Islam. Tidak ada balasan bagi orang yang syahid, kecuali surga dengan segala kenikmatannya.[4]
F. Tekanan Kaum Kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW ketika Berdakwah
Kaum kafir Quraisy terus mengadakan perlawanan terhadap Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya, dengan berbagai cara. Mereka membujuk, memengaruhi bahkan mengancam Nabi Muhammad SAW dan para pemeluk agama Islam lainnya. Tujuannya tiada lain adalah agar beliau berhenti menyiarkan ajaran agama Islam dan kembali menyembah berhala.
Berbagai bujuk rayu, ancaman, dan tekanan serta kebencian kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW tidak menyurutkan dakwahnya. Sebaliknya, beliau bertambah giat dan yakin untuk menegakkan Islam di bumi ini.
Orang-orang yang tidak senang terhadap ajaran Islam selalu berusaha menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW. bukan hanya menolak, tetapi mereka menyebarkan fitnah, menjelek-jelekkan serta memojokkan beliau dan para pengikutnya. Mereka memengaruhi kaum Quraisy lainnya agar menjauhi beliau. Mereka menghina beliau dengan menuduhnya sebagai tukang sihir dan orang yang tidak waras.
Selain menyebarkan fitnah dan propaganda, kaum kafir Quraisy juga tidak segan-segan menyakiti kaum Muslimin secara fisik. Tidak terhitung berapa kali Nabi Muhammad SAW disakiti oleh kaum kafir Quraisy dengan maksud agar beliau menghentikan dakwah Islam. Sedangkan tekanan yang dilakukan terhadap para sahabat dan pengikut Islam bertujuan agar mereka keluar dari Islam dan kembali menyembah berhala. Namun usaha mereka sia-sia, sebab kaum Muslimin, semakin mereka ditekan dan disakiti, justru iman mereka kepada Allah SWT dan rasul-Nya semakin kuat.
Berikut ini adalah beberapa contoh tekanan-tekanan yang dihadapi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya juga kisah-kisah tentang keteguhan hati beliau dan para pengikutnya dalam mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT yang dapat dijadikan suri teladan.
1.             Utbah bin Rabi’ah datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya menawarkan berbagai macam kesenangan duniawi. Namun dengan sangat tegas beliau menolak tawaran tersebut. Dakwah beliau tidaklah dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan duniawi, akan tetapi demi tegaknya agama Allah SWT di muka bumi.
2.             Walid bin Mughirah diutus oleh para pemuka Quraisy untuk menemui paman Nabi, yaitu Abu Thalib dengan membawa seorang pemuda yang bernama Umarah bin Walid. Kepada Abu Thalib ia berkata: “Ambillah pemuda ini untuk menjadi anak tuan dan serahkan Muhammad untuk kami bunuh, karena dia telah menentang kami dan memecah belah persatuan kita.” Dengan perkataan keras Abu Thalib menjawab: “Jahat benar pikiran kamu itu. Kamu serahkan anak kamu agar aku memberinya makan dan aku serahkan keponakanku untuk kamu bunuh! Demi Allah, tidak akan aku serahkan Muhammad kepadamu!”
3.             Suatu saat, ketika Nabi tengah bersujud di samping Kakbah, tiba-tiba datanglah Uqbah bin Miqith membawa kotoran unta lalu melemparkannya ke punggung Nabi SAW. Namun Nabi SAW tidak mengangkat kepala, sehingga Fatimah, putri Nabi datang membersihkannya.
4.             Abu Lahab adalah pemuka Quraisy yang sangat gita mengadakan tekanan terhadap Nabi Muhammad SAW. Selain sering memaki, menghina, dan memfitnah beliau, ia juga sering membuang kotoran dan najis lainnya ke halaman rumah beliau. Abu Lahab juga pernah melempari Nabi Muhammad SAW dengan kotoran unta. Demikian juga istri Abu Lahab, Ummu Jamil Arwa binti Harb. Ia sering meletakkan duri-duri di depan pintu rumah Nabi Muhammad SAW pada malam hari, dengan maksud untuk mencelakakannya. Istri Abu Lahab adalah seorang wanita yang suka mengobarkan api fitnah dan permusuhan kepada Nabi Muhammad SAW. oleh karena itu, Al-Qur’an menggambarkannya sebagai pembawa kayu bakar (hammālatal hatab) dalam ayat ke-4 Surah Al-Lahab.
5.             Ketika Nabi Muhammad SAW salat di dekat Kakbah, datang Abu Lahab membawa batu besar. Ia bermaksud menjatuhkan batu itu ke kepala beliau ketika sedang sujud. Akan tetapi ketika batu itu sudah diangkat di atas kepala Nabi Muhammad SAW, tiba-tiba Abu Jahal ketakutan karena ia melihat di hadapannya ada unta yang sangat besar akan menerjangnya. Abu Jahal pun lari ketakutan. Maka selamatlah Nabi Muhammad SAW dengan pertolongan Allah SWT.
6.             Ketika Nabi Muhammad SAW selesai melaksanakan Isra dan Mikraj, beliau memberitahukan peristiwa tersebut kepada seluruh penduduk Mekah. Akan tetapi kaum kafir Quraisy mengejek dan mencemooh Nabi Muhammad SAW. Bahkan, mereka mengatakan bahwa beliau sudah tidak waras lagi. Mereka berusaha memengaruhi kaum Muslimin untuk keluar dari Islam, karena menganggap peristiwa Isra Mikraj sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Akan tetapi, alangkah kecewanya mereka ketika kaum Muslimin sama sekali tidak terpengaruh oleh bujukan mereka.
7.             Ketika Nabi Muhammad SAW berdakwah ke Thaif, beliau mendapat perlakukan sangat tidak manusiawi. Beliau mengajak kepada kebenaran, tetapi dibalas dengan lemparan batu, hingga beliau menderita luka-luka. Akan tetapi hal ini tidak membuat beliau marah, bahkan beliau mendoakan agar penduduk Thaif mendapat hidayah dari Allah SWT
NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI RAHMAT BAGI SELURUH ALAM
Sejak kecil, pribadi Nabi Muhammad SAW sangat disukai. Jika beliau berbicara, tutur katanya halus dan tidak pernah menyakiti orang lain. Beliau sangat sopan dan selalu bersikap lemah lembut kepada semua orang.
Nabi Muhammad SAW juga seorang yang pemurah, pemaaf, dan penuh kasih sayangnya diberikan kepada semua orang. Beliau tidak pernah membedakan kedudukan seseorang. Anak-anak, tua-muda, orang jompo, kaya-miskin, semua mendapat tebaran kasih sayang Muhammad SAW. Beliau juga sangat peduli terhadap nasib masyarakat, sehingga beliau senang membantu orang lain mendapat kesulitan.
G. Kepribadian Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Masyarakat
1.    Memperbaiki perekonomian masyarakat
Sebelum diutus menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW sudah sering memikirkan keadaan masyarakat Quraisy yang semakin rusak. Masyarakat yang dalam kehidupannya terbiasa menyembah berhala, mabuk, berjudi, berkelahi sampai berperang antarsuku. Perilaku yang demikian itu melemahkan perekonomian dan tata sosial masyarakat.
Ketika berusia 20 tahun, Nabi Muhammad SAW telah memprakarsai suatu perjanjian damai dalam urusan perdagangan yang disebut dengan “Hilf Al-Fudul.” Tujuannya antara lain untuk membantu orang-orang lemah dan teraniaya agar tidak dirugikan dalam perdagangan, serta membantu fakir miskin dalam meningkatkan perekonomian masyarakat Mekah.
Setelah diangkat menjadi rasul, beliau lebih giat lagi memerhatikan masalah-masalah sosial dan perekonomian pada masyarakat Quraisy. Masyarakat akan tenang dan khusyuk dalam beribadah apabila keadaan masyarkat itu tertib, tenang, aman, dan damai.
Nabi Muhammad SAW mengajak masyarakat Quraisy agar meninggalkan cara-cara hidup, adat istiadat, dan kepercayaan jahiliah. Dan menggantikannya dengan ajaran baru, yaitu ajaran agama Islam.
Dalam memperbaiki tata sosial masyarakat Mekah, Nabi Muhammad SAW dibantu oleh para sahabat yang telah masuk Islam. Mereka diajak berdakwah dengan memberi contoh kepada masyarakat untuk berusaha dengan penuh kesabaran, mengajarkan akidah, membina akhlak, dan menjelaskan tata cara hidup yang teratur sesuai dengan perintah Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sering kali harus mengorbankan hartanya sendiri untuk membantu masyarakat miskin. Semua itu dilakukan dengna ikhlas, sabar, dan tabah, walaupun mereka sering kali mendapat cemoohan, hinaan bahkan siksaan dari orang-orang Quraisy yang memusihi Islam.
2.    Kasih sayang kepada sesama
a.    Kasih sayang terhadap anak-anak
Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi anak-anak. Beliau sering bersenda gurau dengan anak-anak para sahabat, memangku, dan menggendong mereka.
b.    Sayang kepada pembantu(pelayan)
Nabi Muhammad SAW mempunyai seorang pelayan yang bernama Anas bin Malik. Ia adalah anak yang cerdas. Lebih kurang sepuluh tahun lamanya Anas melayani beliau, baik ketika di rumah maupun dalam perjalanan. Selama melayani beliau, Anas tidak pernah dimarahi atau dibentak.
c.    Mengasihi orang lemah
Nabi Muhammad SAW sangat mengasihi orang yang lemah. Beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menjaga dan melindungi kaum lemah.

d.    Pemurah, dermawan dan pemaaf
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang murah hati dan dermawan. Jika beliau bertemu dengan orang yang memerlukan bantuan, disuruhnya orang itu datang kepada Bilal, Bendaharawannya, untuk diberi makan dan pakaian.

H. Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam Memelihara Lingkungan Hidup
            Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjaga lingkungan. Merusak atau membinasakan lingkungan dilarang oleh Allah SWT, seperti Firman-Nya dalam Surah Al Baqarah ayat 205:
  
Artinya:
“ dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”
Nabi Muhammad SAW Banyak memberikan contoh yang baik tentang bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan, misalnya perlakuan beliau terhadap binatang dan tumbuhan.
1. Sayang kepada hewan
            Nabi Muhammad SAW menyayangi semua makhluk ciptaan Allah SWT. Pada suata hari Aisyah mengendarai seekor unta. Karena unta itu nakal, Aisyah memukulnya. Melihat Aisyah bersikap keras kepada unta yang sedang dikendarainya, Rasulullah SAW menegur Aisyah:”Hendaklah engkau berlaku lemah lembut kepadanya.”
            Nabi Muhammad SAW melarang orang membebani binatang dengan muatan yang berat, atau memperkerjakan binatang melampaui batas kemampuan binatang itu. Jika binatang itu ditunggangi, misalnya kuda, hendaklah diperlakukan secara baik.
2. Menyayangi tumbuhan
            Tumbuh-tumbuhan adalah makhluk Allah yang perlu kita jaga. Lingkungan yang alami bermanfaat untuk mencegah polusi udara. Jika tumbuh-tumbuhan dirusak, timbul banjir, tanah longsor, dan polusi udara. Hal itu akan mengancam keselamatan umat manusia.
            Oleh karena itu Nabi Muhammad berpesan agar ummatnya menjaga dan melestarikan tumbuh-tumbuhan. Begitu cintanya beliau kepada tumbuh-tumbuhan. Dalam setiap peperangan yang dilakukan kaum muslimin, beliau selalu berpesan agar tidak merusak tumbuh-tumbuhan. Sebab tumbuh-tumbuhan adalah salah satu penjaga keseimbangan alam yang sangat penting.

I.  Meneladani Cara Bergaul Nabi Muhammad SAW
            Nabi Muhammad saw telah memiliki kepribadian yang sangat luar biasa baiknya. Ia selalu menghormati siapa saja, baik kepada yang bebih tua maupun kepada yang lebih muda. Baik yang seagama maupun yang berlainan agama. Rasulullah memberikan kasih sayang kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan suku, golongan, keturunan, kaya atau miskin.
Pada suatu hari Nabi Muhammad saw bersama para Shahabat pergi ke Madinah. Belia bertemu dengan seorang dari kalangan Anshar sambil membawa anaknya yang bernama Anas. Ia berkata pada Rasalullah ” Yaa Rasulullah, inilah anakku Anas bin Malik. Ia anak yang sangat cerdas. Terimalah Ia sebagai anak angkat” mendengar apa dikatakan, maka Rasulullah sejak saat itu pula mengambil Anas sebagai anak angkat.
Rasulullah sangat mengasihi kepada orang-orang yang lemah. Sehingga pada suatu hari Rasulullah saw kedatangan seseorang, bahwa ia merasa keberatan ikut shalat berjamaah bersama orang banyak, karena imamnya selalu memperpanjang shalatnya. Padahal ia seorang yang sangat lemah tubuhnya, tidak tahan berdiri lama, rukuk lama, sujud lama, orang itu bekata ham: Ya Rasulullah, hampir-hampir aku meninggalkan shalat berjamaah karena imamnya terlalu memanjangkan shalatnya.”
Mendengarkan pengaduan itu, Nabi Muhammad saw menjadi marah. Beliau tidak rela jika ada orang yang ingin melakukan shalat berjamaah merasa tersiksa. Maka Rasulullah berkata kepada pada khalayak: ” Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya kalian telah membuat mereka lari meninggalkan agama. Ingatlah, siapa saja diantara kalian yang menjadi imam, hendaklah ia meringankan shalatnya, karena dibelakang mereka ada makmum yang sakit, ada yang lemah dan ada pula yang dikejar kepentingan.[5]
Sifat baik lainnya yang dimiliki Rasulullah adalah pemurah dan dermawan serta murah hati. Pada suatu hari Rasulullah saw  mendatangi baitul maal , Ia mendapati sekarung buah korma di dalam ruangan. Beliau bertanya: ” Milik siapak kurma ini hai Bilal ? bilal penjaga baitul maal menjawab: kurma ini aku simpan untuk Rasulullah para tamu terhormat. Rasulullah lalu berkata : ” Tidak takutkah engkau , bahwa makanan itu kelak akan menjadi benih dineraka ? berikanlah kurma itu segera kepada para fakir miskin.
Kebaikan Rasulullah saw dapat dirasakan oleh semua orang tanpa kecuali. Ia adalah sebagai rahmatal lil ’alamin . kasih sayang Rasulullah saw tidak pula mengenal agama orang yang dianut. Meskipun orang itu beragama bukan Islam, beliau tetap memberikan kasih sayangnya. Sebagaimana ang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Jabir bin Abdullah: ” ada suatu jenazah yang lewat di depan kami, maka berdirilah Rasulullah dan aku ikut berdiri. Kemudia kami berkata: ” Ya Rasulullah, sesungguhnya itu adalah jenazah orang yang Yahudi”, maka jawab Nabi: ” Bukankah ia seorang manusia juga. Apabila kamu melihat jenazah, maka berdirilah”.
Begitulah akhlak yang dicontohkan Rasulullah saw. Kasih sayangnya menyejukkan setiap orang yang menerimanya. Kelembutan budi bahasanya membuat beliau disegani.



BAB III
PENUTUP
Rangkuman,
·         Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki akhlak dan akidah masyarakat, terutama masyarakat Quraisy di Mekah. Nabi Muhammad SAW ditugaskan untuk mengajak manusia menyembah hanya kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
·         Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan agara bangsa Arab tidak kaget menerima perubahan adat istiadat yang telah berlaku turun-temurun.
·         Setelah tiga tahun Nabi Muhammad SAW berdakwah secara sembunyi-sembunyi, turunlah wahyu Allah SWT agar Nabi Muhammad SAW berdakwah secara terang-terangan. Nabi Muhammad SAW juga seorang yang pemurah, pemaaf, dan penuh kasih sayangnya diberikan kepada semua orang. Beliau tidak pernah membedakan kedudukan seseorang. Anak-anak, tua-muda, orang jompo, kaya-miskin, semua mendapat tebaran kasih sayang Muhammad SAW. Beliau juga sangat peduli terhadap nasib masyarakat, sehingga beliau senang membantu orang lain mendapat kesulitan.
·         Nabi Muhammad SAW Banyak memberikan contoh yang baik tentang bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan, misalnya perlakuan beliau terhadap binatang dan tumbuhan.


DAFTAR PUSTAKA

Depag RI, Alquran dan tTerjemahannya, Depag, 1982
-----------, Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. 2008. Peraturan Menteri Agama RI, Standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama islam dan bahasa arab di madrasah. Jakarta.
Scribd, SKI Kelas IV, http://www.scribd.com/mobile/doc/89034186, di ambil pada 13 Mei 2012, 21.11 WITA.
Tim Bina Karya Guru. Bina Sejarah Kebudayaan Islam. 2009. Jakarta: Erlangga.




[1] Tim Bina Karya Guru, Bina Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Erlangga, 2009) h.2
[2] Ibid., h.4
[3] Ibid., h.14
[4] Ibid., h.22
[5] Scribd, “SKI Kelas IV”, http://www.scribd.com/mobile/doc/89034186, di ambil pada 13 Mei 2012, 21.11 WITA

Wednesday, May 11, 2011

Sejarah Peradaban Islam - Perang Shiffin Sebagai Perubahan Kepemimpinan Demokratis Ke Otokratis


by Saidi
BAB I
PENDAHULUAN

Perang Siffin peperangan yang terjadi pada tahun 37 H antara Saidina `Ali dan Saidina Mu`auwiyah di satu tempat di Iraq yang bernama shiffin. korban yang ditimbulkan cukup besar ,dari pihak Saidina Ali gugur 25.000 dan dari pihak Saidina Mu`awiyah gugur 45.000 orang .
            Jalannya peperangan menguntungkan Saidina Ali .Hampir seluruh pasukan Saidina Mu`auwiyah lari kocar kacir . Akan tetapi mereka menjalankan suatu siasat yaitu menyerukan “cease fire” (penghentian tembak menembak ). mereka mengikat beberapa lembar kitab AlQur-an diujung tombak mereka dan mengacungkan keatas sambail meneriakkan penghentian tembak menembak dan berhukum kepada Al Qur-an.
           Saidina Ali pada mulanya tidak menerima ajakan ini ,karena beliau mengetahui hal itu hanyalah siasat orang yang hampir kalah.tetapi Saidina Ali didesak oleh sebagian pasukannya ,sehingga ada yang mengatakan kenapa kita tidak berhukum kepada Al Quran .Akhirnya Saidina Ali menerima tawaran‘cease fire‘dan pulang ke Baghdad,sedangkan Saidina Mu`auwiyah pulang ke Dasmaskus.kemudian disusunlah delegasi dari kedua belah pihak untuk berunding .Delegasi Saidina Ali dipimpin oleh Abu Musa Al `Asy`ari dan dipihak Saidina Mu`auwiyah dipimpin oleh Saidina `Amru bim `Ash.







BAB II
PEMBAHASAN
A.KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB MENJABAT KHALIFAH
            Penduduk kota  Madinah Al-Munawwarah, didukung oleh ketiga-tiga pasukan yang datang dari Mesir,Basrah dan Kufah, memilih Ali bin Abi Thalib untuk menjabat sebagai Khalifah. Konon pada mulanya Ia menolak, akan tetapi atas desakan massa itu,Ia pun menerima jabatan itu.
            Bai’at berlangsung di Mesjid Nabawi. Zubair ibn Awwam dan Thulhah ibn Ubaidillah konon mengangkat bai’at dengan terpaksa, dan justru keduanya mengajukan syarat didalam bai’at itu, bahwa Khalifah Ali akan menegakkan keadilan terhadap para pembunuh Khalifah Utsman bin Affan.[1]
            Khalifah Ali adalah Khalifah yang keempat dan terakhir dari suatu daulat(dinasti), yang di dalam Islam dikenal dengan daulat Khulafaur Rasyidin.
            Pengangkatan Ali itu sebagai Khalifah pada bulan Zulhijjah tahun 35 H/ 656 M, dan memerintah selama 4 tahun 9 bulan, menjelang pembunuhan terhadap dirinya pada bulan Ramadhan tahun 40 H/ 661 M.
            Pada masa pemerintahan Khalifah Ali itu, perpecahan yang kongkrit didalam kalangan Al Shahabi menjadi sutu kenyataan, dengan pecah beberapa kali sengketa bersenjata yang banyak menelan korban. Juga pada masa itu bermula lahir sekte-sekte di dalam sejarah dunia Islam, yakni sekte Syiah dan sekte Khawarij. Bermula sebagai kelompok-kelompok politik yang berbedaan paham dan pendirian tapi lambat-laun berkembang menjadi sekte-sekte keagamaan, mempunyai ajaran-ajaran keagamaan tertentu didalam beberapa permasalahan Syariat dan Aqidah. Perkembangan tersebut berlangsung beberpa puluh tahun setelah sepeninggal Khalifah Ali bin Abi Thalib.
            Dalam sejarah tersebut telah diungkapkan,  Islam telah menghidupkan demokrasi setelah hampir sempat hilang. Islam  dengan Negara Madinahnya pada 611M telah membawa umatnya pada  kemakmuran, dan membawa Islam pada masa-masa kejayaan. Selain itu, demokrasi juga diterapkan dalam memilih Khalifah melalui  sistem pemilihan yang penentuannya adalah baiat oleh umat muslim. Baiat  diterapkan mulai kepemimpinan Nabi Muhammad hingga masa  Khulafaur Rosyidin termasuk dalam pemilihan Ali Bin Abi Thalib. Namun  pemilihan Ali berbeda dengan pemilihan-pemilihan sebelumnya, di mana  Pemilihan Ali adalah pemilihan secara langsung oleh umat Muslim.
B.THE BATTLE OF SHIFFIN
Perang Shiffin. Pertempuran itu terjadi tahun 37 H. (656 M.), antara Amirul Mukminin dan Gubernur Suriah, Mu’awiah, untuk apa yang dinamakan membalas dendam atas kematian Khalifah ‘Utsman. Tetapi penyebab sebenarnya hanyalah karena Mu’awiyah, yang telah lama menjadi Gubernur Suriah yang otonom sejak diangkat Khalifah ‘Umar, tidak mau kehilangan jabatannya itu dengan membaiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib. Ia hendak mempertahankan keutuhan wewenangnya dengan mengeksploitasi pembunuhan Khalifah ‘Utsman. Peristiwa-peristiwa di hari-hari kemudian membuktikan bahwa setelah mengamankan pemerintahan ia tidak mengambil suatu langkah nyata untuk membalaskan darah ‘Utsman, dan sama sekali tak pernah berbicara tentang para pembunuh ‘Utsman.[2]
Walaupun Amirul Mukminin menyadari sejak semula bahwa peperangan akan tak terelakkan, ia masih terus berusaha menyadarkan Mu’awiah. Pada hari Senin 12 Rajab 36 H., setelah kembali ke Kufah dari Perang Jamal, Amirul Mukminin mengutus Jarir ibn ‘AbduIlah al-Bajali ke Mu’awiah di Damsyik dengan membawa sepucuk surat di mana ia mengatakan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar telah membaiatnya dan Mu’awiah pun harus membaiat kepadanya dahulu baru kemudian mengajukan kasus pembunuhan ‘Utsman kepadanya supaya Amirul Mukminin dapat menjatuhkan keputusan berdasarkan Al-Qur’an dan sunah. Tetapi Mu’awiah menahan Jarir dengan berbagai alasan, dan setelah berunding dengan ‘Amr ibn al-‘Ash, ia membangkang dengan dalih kasus pembunuhan ‘Utsman.
Gubernur Suriah itu menahan Jarir dengan dalih untuk memberikan jawaban. Sementara ia mulai menyelidiki sejauh mana rakyat Suriah mendukungnya dengan membangkitkan semangat balas dendam atas darah ‘Utsman, ia bermusyawarah dengan saudaranya ‘Utbah ibn Abi Sufyan. ‘Utbah menyarankan, “Apabila dalam hal ini ‘Amr ibn ‘Ash dihubungi, ia akan menyelesaikan banyak kesulitan dengan kecerdikannya. Tetapi, ia tak akan mudah bersedia untuk menguatkan kekuasaan Anda apabila untuk itu ia tidak dibayari dengan apa yang diinginkannya. Apabila Anda telah bersedia untuk itu maka akan ternyata bahwa dia penasihat dan penolong yang terbaik. Mu’awiah menyukai saran ini. Ia myuruh panggil ‘Amr ibn “’Ash lalu membicarakan hal itu, dan akhiraya diputuskan bahwa ia akan menuntut balas atas darah ‘Utsman dengan menuduh Amirul Mukminin bertanggung jawab atasnya. Sebagai imbalan ia akan menjadi Guberaur Mesir, dan bahwa dalam keadaan bagaimanapun ia tak akan membiarkan kekuasaan Mu’awiah di Suriah terganggu. Sesuai dengan itu, keduanya menepati dan memenuhi perjanjian itu.[3]
Dengan Bantuan orang-orang penting di Suriah ia meyakinkan rakyat yang tak mengetahui persoalan, bahwa tanggung jawab pembunuhan ‘Utsman terpikul pada ‘Ali, dan bahwa Ali memberi semangat dan melindungi para pengepung ‘Utsman. Sementara itu ia menggantungkan jubah ‘Utsman yang berlumur darah serta potongan jari-jari istrinya Na’ilah binti al-Farafishah di mimbar mesjid jamik Damsyik di mana sekitar 70.000 orang Suriah berikrar untuk membalaskan dendam atas darah ‘Utsman. Setelah berhasil membangkitkan emosi rakyat Suriah sehingga mereka bertekad bulat untuk mengorbankan nyawa, ia mendapatkan baiat mereka demi membalas dendam atas pembunuhan ‘Utsman, lalu ia bersiap untuk berperang. Sesudah itu ia memperlihatkan semua hal itu kepada Jarir lalu mengirimkannya kembali ke Kufah dalam keadaan malu.
Ketika Amirul Mukminin mendengar tentang hal ini dari Jarir, ia terpaksa bangkit menghadapi Mu’awiah. Ia memerintahkan Malik ibn Habib al-Yarbu’i untuk mengerahkan pasukan di lembah al-Nukhailah. Sehubungan dengan itu, orang dari sekitar Kufah datang ke sana dalam kelompok-kelompok besar sehingga jumlahnya melebihi 80.000 orang. Mula-mula Amirul Mukminin mengirimkan kontingen depan sebesar 8.000 di bawah komando Ziyad ibn an-Nadhr al-Haritsi dan pasukan 4.000 orang di bawah pimpinan Syuraih ibn Hani al-Haritsi ke Suriah. Setelah berangkatnya kontingen depan ini, Amirul Mukminin sendiri berangkat ke Suriah memimpin sisa tentara itu, pada hari Rabu 5 Syawal.
Setelah keluar perbatasan kota Kufah, ia mendirikan salat lohor dan setelah berkemah di Dair Abi Musa, (sungai) Nahr Nars, Qubat Qubbin, Babil, Dair Ka’b, Karbala’, Sabat, Baburasini, al-Anbar dan al-Jazirah ia tiba di ar-Riqah. Penduduk tempat ini menyukai ‘Utsman, dan di tempat inilah Simak ibn Makhtamah al-Asadi bertengkar dengan 800 orangnya. Orang-orang itu telah berangkat dari Kufah untuk bergabung dengan Mu’awiah setelah membelot dari Amirul Mukminin. Ketika melihat pasukan Amirul Mukminin, mereka membongkar jembatan Sungai Efrat supaya pasukan Amirul Mukminin tak dapat menggunakannya untuk menyeberang. Tetapi, dengan ancaman Malik ibn al-Harits al-Asytar an-Nakha’i mereka ketakutan, dan setelah berunding di antara sesamanya mereka memperbaiki lagi jembatan itu dan Amirul Mukminin melewatinya dengan tentaranya. Di seberang sungai itu ia melihat Ziyad dan Syuraih sedang berhenti di sana bersama pasukan mereka karena keduanya mengambil jalan darat. Ketika sampai di sana mereka dapati bahwa Mu’awiah sedang maju dengan tentaranya ke Sungai Efrat, dan karena berpikir bahwa mereka tidak akan mampu menghadapinya, mereka berhenti di sana sambil menunggu Amirul Mukminin. Ketika mereka memberikan alasan kepada Amirul Mukminin mengapa mereka berhenti di situ, Amirul Mukminin menerima alasannya lalu mengirimnya ke depan. Ketika mereka sampai di Sur ar-Rum, mereka mendapatkan bahwa Abu al-A’war as-Sulami (pihak Mu’awiyah) sedang berkemah di sana dengan tentaranya. Keduanya melaporkan hal ini kepada Amirul Mukminin, lalu ia mengirim Malik al-Haritsi al-Asytar untuk menyusul mereka sebagai komandan sambil mengingatkannya supaya tidak memulai pertempuran melainkan berusaha menasihati mereka dan memberitahukan kepada mereka keadaan yang sebenarnya sedapat mungkin.[4]
Ketika tiba di sana Malik al-Asytar berkemah agak jauh dari situ. Pertempuran mungkin akan meletus setiap saat, tetapi ia tidak mengganggu pihak lainnya dan tidak pula ia mengambil langkah yang mungkin memulai pertempuran. Tetapi Abu al-A’war menyerang secara tiba-tiba di malam hari yang atasnya mereka menghunus pedang untuk memukulnya mundur. Bentrokan itu terjadi beberapa lamanya tetapi akhirnya Abu al-A’war melarikan diri di malam hari. Karena pertempuran telah dimulai, segera setelah fajar, seorang komandan pasukan ‘Iraq, Hasyim ibn ‘Uqbah al-Mirqal az-Zuhri, datang menghadapinya di medan tempur. Dari pihak lain datang pula suatu kontingen, dan api pertempuran pun berkecamuk. Pada akhirnya Malik al-Asytar menantang Abu al-A’war bertarung dengannya, tetapi yang ditantang ini tak berani menghadapinya dan di sore hari Malik al-Asytar maju.dengan pasukannya. Keesokan harinya Amirul Mukminin sampai di sana dengan pasukannya lalu berangkat ke Shifffn bersama kontingen depannya dan pasukan-pasukan lainnya.
Mu’awiah telah lebih dahulu tiba di sana dan telah mendirikan basisnya. Ia juga telah menempatkan pengawal di Sungai Efrat dan telah mendudukinya. Ketika tiba di sana Amirul Mukminin menyampaikan kepadanya untuk menyingkirkan pasukan pengawalnya dari Sungai Efrat itu, tetapi Mu’awiah menolaknya. Karenanya pasukan ‘Iraq menghunus pedang lalu menyerang dan merebut tempat di sungai itu.
Setelah itu Amirul Mukminin mengutus Basytr ibn ‘Arnr al-Anshari, Sa’id ibn Qais al-Hamdani dan Syabats ibn Ribi’ at-Tamimi kepada Mu’awiah untuk memperingatkannya tentang akibat-akibat peperangan dan mengajaknya membaiat. Tetapi jawabannya adalah bahwa mereka sama sekali tidak akan mengabaikan darah ‘Utsman dan sekarang hanya pedang yang dapat menjadi perantara mereka.
Akibatnya, dalam bulan Zulhijah 36 H. kedua pihak memutuskan untuk berperang dan para prajurit dari masing-masing pihak keluar untuk berhadapan di medan. Yang memasuki medan dari pihak Amirul Mukminin adalah Hujr ibn ‘Adi al-Kindi, Syabats ibn Ribi’ at-Tamimi, Khalid ibn al-Mu’ammar, Ziyad ibn an-Nadhr al-Haritsi, Ziyad ibn Khashafah at-Taimi, Sa’id al-Hamdani, Qais ibn Sa’d al-Anshari, dan Malik al-Asytar an-Nakha’i. Dari pihak Suriah, ‘Abdur-Rahman ibn Khalid ibn Walid al-Makhzumi, Abu al-A’War as-Sulami, Habib ibn Maslamah al-Fihri, ‘Abdullah ibn Dzil-Kala’ al-Himyari, ‘Ubaidullah ibn ‘Umar ibn Khaththab, Syurahbil ibn Simth al-Kindi, dan Hamzah ibn Malik al-Hamdani.
Pertempuran yang terjadi selama 10 hari tersebut berujung Pada hari kesepuluh, orang-orang Amirul Mukminin menunjukkan moral yang sama. Di sayap kanan Malik al-Asytar memegang komando dan di sayap kiri ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Serangan-serangannya berlangsung seperti tentara baru. Tanda-tanda kekalahan nampak pada orang Suriah, dan mereka sudah hendak meninggalkan medan dan melarikan diri. Pada saat itu lima ratus mashaf Al-Qur’an diangkat di ujung lembing tentara Mu’awiah, yang mengubah seluruh wajah pertempuran. Pedang-pedang berhenti bergerak, senjata penipuan berhasil, dan jalan terbuka bagi berkuasanya kebatilan.
Ketika semangat orang Suriah telah patah oleh pedang-pedang ganas orang ‘Iraq dan serangan-serangan yang tak berkeputusan pada Malam al-Harir menjatuhkan moralnya dan mengakhiri aspirasi-aspirasinya, ‘Amr ibn ‘Ash menyarankan siasat licik kepada Mu’awiah supaya mengangkat mashaf Al-Qur’an di ujung tombak dan berteriak-teriak mendesak untuk menggunakannya sebagai hakam seraya mengatakan, sebagian orang akan berusaha menghentikan peperangan dan sebagian lagi hendak meneruskannya. Dengan demikian maka kita memecah belah mereka dan akan dapat menangguhkan peperangan sampai pada kesempatan lain.” Sesuai dengan saran itu, mushaf-mushaf Al-Qur’an diangkat pada ujung tombak. Hasilnya, sebagian orang yang tak berpikir membuat huru-hara dan berseru serta menimbulkan perpecahan dan kekacauan di kalangan tentara, dan perjuangan kaum Muslim yang terkicuh mereda setelah hampir mencapai kemenangan. Tanpa memahami sesuatu, mereka mulai menjerit-jerit menghendaki keputusan Al-Qur’an atas peperangan.
Amirul Mukminin berusaha sekuat kuasanya untuk menyadarkan mereka, tetapi iblis telah berdiri di hadapan mereka berjubahkan mashaf Al-Qru’an. Ia tidak mengizinkan mereka untuk berbuat demikian, dan mereka memaksa Amirul Mukminin mengutus seseorang untuk memanggil Malik ibn Harits al-Asytar dari medan pertempuran.
Maka diputuskanlah bahwa setiap pihak harus menunjuk seorang hakam supaya mereka menyelesaikan persoalan kekhalifahan itu menurut Al-Qur’an. Dari pihak Mu’awiah telah diputuskan ‘Amr ibn ‘Ash. Dari pihaknya, orang-orang itu mengajukan Abu Musa al-Asy’ari. Melihat pilihan yang salah ini, Amirul Mukminin mengatakan, “Karena Anda tidak menerima pendapat saya tentang tahkim, sekurang-kurangnya sekarang Anda menyetujui untuk tidak mengangkat Abu Musa sebagai hakam. Ia bukan orang yang amanat. Di sini ada ‘Abdullah ibn ‘Abbas, dan di sini ada Malik al-Asytar. Pilihlah seorang di antara mereka.” Tetapi, mereka tak mau mendengarkannya, dan bersikeras pada Abu Musa. Amirul Mukminin akhirnya mengatakan, “Nah, Iakukanlah sesuka Anda. Tidak lama lagi Anda akan memakan tangan Anda sendiri karena kebatilan Anda.”
Setelah pengangkatan hakam, setelah surat persetujuan ditulis, imbuhan “Amirul Mukminin” pada nama ‘Ali ibn Abi Thalib juga tertulis. ‘Amr ibn ‘Ash mengatakan, “Ini harus dihapus. Apabila kami memandangnya sebagai Amirul Mukminin, mengapa peperangan ini harus dilakukan?” Mula-mula Amirul Mukminin menolak untuk menghapusnya, tetapi setelah mereka sama sekali tak mau menerima, ia menghapusnya seraya mengatakan, “Peristiwa ini sama dengan peristiwa di Hudaibiah, ketika orang-orang kafir bersikeras bahwa kata ‘Rasulullah’ bersama nama Nabi Muhammad harus dihapus, dan Nabi menghapusnya.” Mendengar ini ‘Amr ibn ‘Ash marah dan mengatakan, “Apakah Anda memperlakukan kami sebagai orang kafir?” Amirul Mukminin berkata. “Pada hari apa Anda mempunyai suatu hubungan dengan kaum mukmin dan kapan Anda telah menjadi pendukung mereka?”
Bagaimanapun, setelah penyelesaian ini, orang-orang bubar. Setelah bermusyawarah, kedua hakam memutuskan bahwa dengan menyingkirkan ‘Ali maupun Mu’awiah dari kekhalifahan, rakyat akan diberi hak memilih siapa saja yang mereka sukai.
Ketika tiba saat pengumumannya, diadakan suatu pertemuan di Daumatul Jandal. Yang terletak antara ‘Iraq dan Suriah, kemudian kedua hakam itu tiba pula di sana untuk memaklumkan keputusan tentang nasib umat Islam. Secara licik, ‘Amr ibn ‘Ash berkata kepada Abu Musa, “Saya merasa tak pantas mendahului Anda. Anda lebih tua dalam tahun dan usia, karena itu Andalah yang mula-mula menyampaikan maklumat itu.” Abu Musa menyerah pada kata-kata pujiannya lalu keluar dengan bangganya serta berdiri di hadapan hadirin. Kepada mereka ia berkata, “Wahai kaum Muslim, kami telah besama-sama menyelesaikan bahwa ‘Ali maupun Mu’awiah harus dimakzulkan dan hak memilih khalifah diserahkan kepada rakyat. Mereka akan memilih siapa saja yang mereka kehendaki.” Setelah mengatakan ini, ia duduk.
Sekarang giliran ‘Amr ibn ‘Ash, lalu ia berkata, “Hai, kaum Muslim. Anda telah mendengar bahwa Abu Musa telah menyingkirkan ‘Ali ibn Abi Thalib. Saya pun menyetujuinya. Tentang Mu’awiah, tidak ada persoalan akan menyingkirkan dia. Karena itu saya tetapkan dia pada kedudukan itu.”
Setelah ia mengatakan ini, serentak terdengar teriakan di mana-mana. Abu Musa berteriak sekuat-kuatnya bahwa itu tipu daya licik, seraya mengatakan kepada ‘Amr ibn ‘Ash, “Engkau telah menipu, dan ibaratmu adalah seperti anjing yang apabila kau mati sesuatu ia akan menjulurkan lidah, apabila engkau tinggalkan ia akan menjulurkan lidah.” ‘Amr ibn ’Ash menjawab, “Ibaratmu adalah seperti keledai yang dimuati buku.” Bagaimanapun, siasat licik ‘Amr ibn ‘Ash efektif dan kaki goyah Mu’awiah dikuatkan kembali.
Perpecahan umat itu kemudian melahirkan kelompok radikal yang dipimpin Hurkus, komandan pasukan Ali. Hurkus memandang Ali dan Muawiyyah telah melanggar hukum Tuhan. Karena itu, ia bersama pengikutnya menyatakan keluar dari barisan Ali dan tidak memihak barisan Muawiyyah. Karena itu, kelompok garis keras itu kemudian dijuluki kaum Khawarij, dengan semboyannya yang terkenal: la hukma ilallah atau tiada hukum melainkan hukum Allah.[5]
Untuk menegakkan keyakinannya, kelompok Khawarij merencanakan pembunuhan terhadap tiga pemimpin: Ali, Muawiyyah, dan Amru. Tapi, hanya pembunuhan Ali yang berhasil dilaksanakan. Sayyidina Ali tewas di tangan Abdurrahman pengikut Khwarij pada 661. Sedangkan Muawiyyah dan Amru bin Ash lolos dari upaya pembunuhan itu.
C. MASA KEKUASAAN KHALIFAH MU’AWIYAH
Sepeninggal Ali bin Abu Thalib, gubernur Syam tampil sebagai penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya merupakan awal kedaulatan Bani Umayah. Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb adalah pembangun dinasti Umayah dan sekaligus menjadi khalifah pertama. Ia memindahkan ibukota  kekuasaan  Islam   dari
Kufah ke Damaskus.Keberhasilan Muawiyah dalam meraih jabatan khalifah dan membangun pemerintahan Bani Umayah bukan hanya akibat dari kemenangan diplomasi di Shiffin dan terbunuhnya Khalifah Ali saja, melainkan merupakan hasil akhir dari peristiwa-peristiwa politik yang dihadapinya dan karir politiknya yang
cukup cemerlang.
Jika dirunut secara kronologis, keberhasilan Muawiyah dilatar-belakangi oleh beberapa faktor dan peristiwa politik sebagai berikut.
·        Pertama, sejak masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab, kepribadian dan kematangan karir politiknya sudah nampak. Pada masa itu, ia diangkat menjadi gubernur Syam menggantikan Abu Ubaidah dan saudaranya, Yazid bin Muawiyah, yang meninggal dunia akibat serangan wabah penyakit yang sangat ganas. Kepercayaan Umar terhadap kematangan politik Muawiyah ini begitu nampak sejak awal pengangkatan dirinya.
·        Kedua, pada awal pemerintahan Ali bin Abu Thalib, Muawiyah diminta untuk meletakkan jabatan, tetapi ia menolaknya. Bahkan ia tidak mengakui kekhalifahan Ali dan memanfaatkan peristiwa berdarah yang menimpa Usman bin Affan untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali dengan membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai orang yang mendalangi pembunuhan Usman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang sesungguhnya. 
·        Ketiga, desakan Muawiyah tersebut mengakibatkan terjadinya pertempuran sengit antara pihaknya dan pihak Ali sebagai khalifah di kota tua Shiffin yang berakhir dengan proses tahkim (arbitrase) pada tahun 37 H. Dalam pertempuran yang memakan waktu berhari-hari ini, menurut catatan al-Thabari (V/48), sebenarnya pihak Muawiyah sudah terdesak dan merasa khawatir akan kalah. Pada saat inilah timbul gagasan dari ‘Amr bin al-‘Ash untuk menghentikan perang sementara dengan cara mengangkat mushaf al-Quran. Gagasan ini disambut baik oleh Muawiyah. Peristiwa ini kemudian berlanjut pada terjadinya perundingan damai melalui proses tahkim.

D. SISTEM PEMERINTAHAN PADA MASA KHALIFAH MU’AWIYAH
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayah ini, sistem pemerintahan Islam yang dulunya bersifat demokrasi berubah menjadi monarki heredetis (kerajaan turun temurun). Suksesi kepemimpinan secara turun   temurun   dimulai ketika   Muawiyah  mewajibkan  seluruh   rakyatnya   untuk
menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. [6]

            Perintah ini tentu saja memberikan sinyal awal bahwa kesetiaan terhadap Yazid merupakan bentuk pengokohan terhadap sistem pemerintahan yang turun temurun telah coba dibangun oleh Muawiyah. Tidak ada lagi suksesi kepemimpinan berdasarkan asas musyawarah (syuro) dalam menentukan seorang pemimpin baru. Muawiyah telah merubah model kekuasaan dengan model kerajaan yang membenarkan regenerasi kekuasaan dengan cara memberikan kepada putera mahkota. Orang-orang yang berada di luar garis keturunan Muawiyah, secara substansial tidak memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk memimpin pemerintah umat Islam, karena sistem dinasti hanya membenarkan satu kebenaran bahwa suksesi hanya bisa diberikan kepada keturunan dalam dinasti tersebut. 

            Tradisi bentuk khilafah konfederasi yang dicanangkan oleh Rasulullah pada tahun 622 M (awal periode Madinah), terus berlanjut hingga masa Dinasti Umayah sejak tahun 661 M. Bedanya, Rasulullah menerapkan bentuk konfederasi kabilah, sedangkan Dinasti Umayah menerapkan konfederasi propinsi. Untuk menangani banyaknya propinsi yang ada, maka khalifah ketika itu, Muawiyah bin Abu Sofyan, mencoba menggabung beberapa wilayah menjadi satu propinsi. Wilayah-wilayah ini terus berkembang sejalan dengan keberhasilan program futuhat (ekspansi). Setiap gubernur memilih amir atas jajahan yang berada dalam kekuasaannya, dan para amir tersebut bertanggung jawab langsung kepada khalifah. Konsekuensinya, para amir berfungsi sebagai khalifah di daerah. Nilai politis kebijakan ini adalah upaya sentralisasi wilayah kekuasaan, mengingat potensi daerah-daerah tersebut dalam menopang jalannya pemerintahan, baik dari sudut pandang ekonomi, maupun keamanan dan pertahanan nasional. Pada masa Hisyam bin Abdul Malik, gubernur mempunyai wewenang penuh dalam hal administrasi politik dan militer dalam propinsinya, namun penghasilan daerah ditangani oleh pejabat tertentu (sahib al-kharaj) yang mempunyai tanggung jawab langsung pada khalifah.

            Dari segi cara hidup, para khalifah Dinasti Umayah telah meninggalkan pola dan cara hidup Nabi Muhammad Saw dan al-Khulafa al-Rasyidun. Mereka menjaga jarak dengan masyarakat, dengan tinggal di istana yang dikelilingi oleh para pengawal. Baitul Mal yang selama masa pemerintahan sebelumnya difungsikan sebagai dana swadaya masyarakat yang difungsikan untuk kepentingan rakyat, pada masa Umayah telah berubah fungsi, kecuali ketika pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, kas negara adalah milik penguasa dan keluarganya. Rakyat hanya wajib untuk menyetor pajak tanpa mempunyai hak menanyakan penggunaannya. Pada masa ini pajak negara dialihkan menjadi harta pribadi para khalifah. Pendapatan pajak diperoleh dari, pajak tanah, jizyah, zakat, cukai dan pajak pembelian, upeti yang harus dibayar menurut perjanjian, seperlima ghonimah, fai’, impor tambahan hasil bumi, hadiah festival, dan upeti anak dari bangsa barbar.[7] 






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan,
Perang Shiffin  (Mei-Juli 657 Masehi) terjadi semasa zaman fitnah besar atau perang saudara pertama orang Islam dengan pertempuran utama terjadi dari tanggal 26-28 Juli. Pertempuran ini terjadi di antara dua kubu yaitu, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ali bin Abi Talib di tebing Sungai Furat yang kini terletak di Syria (Syam).
           1 Shafar tahun 37 Hijriah, Perang Shiffin meletus. Perang ini terjadi antara pasukan Imam Ali melawan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, rakyat Madinah membaiat Imam Ali dan mengangkat beliau sebagai khalifah. Namun, Muawiyah, seorang Gubernur di Damaskus, menolak menerima kepemimpinan Imam Ali dan melakukan perlawanan bersenjata. Awalnya, Imam Ali berusaha melakukan perundingan demi mencegah pertumpahan darah di antara sesama muslim.
Namun, Muawiyah  tetap membangkang dan pecahlah perang di sebuah daerah bernama Shiffin di tepi sungai Furat, Irak. Ketika pasukan Imam Ali hampir mencapai kemenangan, penasehat Muawiyah bernama Amru bin Ashmemerintahkan pasukannya agar menancapkan Al-Quran di tombak mereka dan menyerukan gencatan senjata atas nama Al-Quran. Imam Ali yang memahami tipuan ini memerintahkan pasukannya agar terus bertempur, namun sebagian kelompok menolak. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij. Atas desakan kelompok Khawarij pula, perang dihentikan dan diadakan perundingan antara kedua pihak. Dalam perundingan ini, delegasi Muawiyah melakukan tipuan. Akibatnya, kekhalifahan kaum muslimin direbut dari tangan Imam Ali dan jatuh ke tangan Muawiyah.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Mufrodi,Islam Di Kawasan Kebudayaan Arab,Logos Wacana Ilmu,Jakarta,1997
Al-Suyuthi.. Tarikh Khulafa: Sejarah Para Penguasa Islam (Terjemah dari Tarikh al-Khulafa). Pustaka al-Kautsar. Jakarta, 2001
Yunus, Mahmud.Sejarah Pendidikan Islam. Hida Karya Agung. Jakarta. 1981



[1] Ali Mufrodi,Islam Di Kawasan Kebudayaan Arab(Logos Wacana Ilmu,Jakarta,1997)hlm.64
[3] ibid
[4] Al-Suyuthi.. Tarikh Khulafa: Sejarah Para Penguasa Islam (Terjemah dari Tarikh al-Khulafa)(Pustaka al-Kautsar. Jakarta, 2001)hlm.89
[6] Yunus, Mahmud.Sejarah Pendidikan Islam(Hida Karya Agung. Jakarta. 1981)hlm.145
[7] Ibid,hlm.146

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites