Monday, November 8, 2010

Ulumul Hadits - Hadits Dhaif

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang,
Berkembangnya periwayatan hadits tidak lepas dari adanya pihak-pihak yang ingin memanipulasi hadits baik dari segi sanad atau matan.keaslian suatu  hadits yang terbagi atas golongan ini sangat tergantung atas beberapa factor seperti keadaan rantai sanad maupun matannya.
Berdasarkan tingkat keaslan hadits adalah klasifikasi yang sangat penting dan merupakankesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan pada haditss tersebut. Tingkatan hadits pada klassifikasi ini terbagi menjadi empat tingkat ,yakni hadits shahih ,hasan,dhoif,dan maudhu.
Pada makalah ini kami akan membahas tentang Hadits dhoif mengenai kriteria hadits dhoif, macam-macam hadits dhaif, status kehujjahan,dan kitab-kitab yang memuat hadits dhoif.

           








 BAB II
PEMBAHASAN
A.KRITERIA
            Hadits dhaif menurut bahasa berarti hadist yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasulullah.
            Para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif:
اَلحَدِيثُ الضَّعِيفُ هو اَلحَدِيثُ الَّذِى لَم يُجمِع صِفَاتِ اَلحَدِيثُ الصَّحِيح ولاَ صِفَاتِ اَلحَدِيثُ
Artinya:
“hadist dhaif adalah hadist yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits shahih,dan juga tidk menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
1.Kriteria Hadits Dhaif
            kriteria hadits dhaif yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadist shahih dan hasan. Dengan demikian , hadist dhaif itu bukan saja tidak  memenuhi syarat-syarat hadist shahih, juga tidak memenuhi persyaratan hadits hasan. Pada hadist dhaif terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadist tersebut bukan bersal dari Rasulullah SAW.[1]
            Kehati-hatian para ahli hadist dalam menerima hadits sehingga mereka menjadikan tidak adanya petunjuk keaslian hadits itu sebagai alasan yang cukup untuk menolak hadits dan menghukuminya sebagai hadits dhaif. Padahal tidak adanya petunjuk atas keaslian hadist itu bukan suatu bukti yang pasti adanya kesalahan dan kedustaan dalam periwayatan hadits, seperti kedhaifan hadits yang disebabkan rendahnya daya hapal rawinya atau kesalahan yang dilakukan dalam meriwayatkan sesuatu hadits , padahal sebetulnya ia jujur dan dapat dipercaya. Hal ini tidak memastikan bahwa rawi itu salah satu pula dalam meriwayatkan hadits yang dimaksud,bahkan mungkin sekali is benar. Akan tetapi, karena adanya kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits yang dimaksud, maka mereka menetapkan untuk menolaknya.
            Demikian pula kedhaifan suatu hadits karena tidak bersambungnya sanad. Hadits yang demikian dihukumi dhaif karena identitas rawi yang tidak tercantum itu tidak diketahui sehingga boleh jadi ia adalah rawi yang dhaif. Seandainya ia adalah rawi yang dhaif , maka boleh jadi ia melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya.oleh karena itu, para muhaddisin menjadian kemungkinan yang timbul dari suatu kemungkinan itusebagai suatu pertimbangandan menganggapnya sebagai suatu penghalang dapat diterimanya suatu Hadits. Hal ini merupakan puncak kehati-hatian yang sistematis , kritis dan ilmiah.[2]
B.MACAM-MACAM HADITS DHAIF
            Secara garis besar yang menyababkan suatu hadits digolongkan menjadi Hadits dhaif karena dua hal yaitu : gugurnya rawi dalam sanadnya dan adanya cacat pada rawi atau matan.
1.Hadits Dhaif Karena Gugurnya Rawi
Yang dimaksud dengan gugurna rawi adalah tidak adanya satu ,dua atau beberapa rawi , yang seharusnya ada dalam satu sanad,baik pada permulaan sanad, pertengahan maupun akhirnya.
1.Hadits Mursal
            Hadits mursal menurut bahasa berarti hadits yang terlepas. para ulama memberikan batasan hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad. Yang dimaksudkan dengan rawi diakhir sanad adalah rawi pada tingkatan sahabat. Jadi hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi , sebagai rawi yang seharusnya meneerima langsung dari Rasulullah.
Contoh hadits mursal:
قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّىَ الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : بَينَنَا وَ بَيْنَ الْمُنَا فِقِيْنَ شُهُوْدَ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ لاَ يَسْتَطِيْعُونَ
Artinya:
“rasulullah bersabda, “antara kita dengan kaum munafik (ada batas), yaitu mengadiri jama’ah isya dan shubuh ; mereka tidak sanggup menghadirinya”(H.R.Malik)
hadit tersebut diriwayatkan Imam Malik , dari Abdurrahman ,dari harmalah, dan dari Said bin Mutsayyab. Siapa sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits itu kepada Said bin Mutsayyab,tidaklah disebutkan dalam sanad diatas.
Kebanyakan para ulama memandang hadits mursal sebagai hadits dhaif dan tdak diterima sebagai hujjah , tapi sebagian kecil ulama, termasuk Abu Hanifah, Malik bin Anas dan Ahmad bin Hanbal, dapat menerima hadits mursal menjadi hujjah bila rawinya adil.
2.Hadits Munqati
 menurut bahasa, hadits munqati berarti hadits yang terputus. Para ulama member batasan hadits munqati adalah hadits yang gugur satu atau dua rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi diakhir sanadnya adalah  Sahabat Nabi,maka rawi menjelang akhir sanad adalah Tabi’in. jadi, hadits munqati bukanlah rawi ditingkat sahabat yang gugur,tetepi minimal gugur seorang tabi’in.
contoh hadits munqati :
كاَ نَ رَسُو لُ الله و صَلَّى الله عَلَيهِ وَسلَّمَ اِذَا ذَخَلَ الْمَسجِدَ قل : بِسمِ الله وَاالسّلامُ على رَسُو لُ الله الَّلهمَّ اغِفِرْلِى ذُنُوْبِى وَافْتَح لِى ابواب رَحمتِكَ
Artinya
“Rasullah saw. Bila masuk kedalam mesjid , membaca : dengan nama Allah , dan sejahtera atas Rasulullah ; ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmat Mu”(HR. Ibnu Majah)
           

3. Hadits Mudal
                        Menurut bahasa, hadits mudal berarti hadits yang sulit dipahami. Para ulama memberi batasan hadits mudal adalah hadits yang gugur dua rawinya atau lebih secara beriringan dalam sanadnya.
                        Contoh hadits mudal adalah hadits Imam Malik hak hamba dalam kitab Al-muwata , dalam kitab tersebut , imama malik berkata “telah sampai kepadaku , dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda :
لِلْمُلُوكِ طَعَا مُهُ وَكِسْوَتُهُ بِالْمَعْرُوْفِ  
Artinya :
“budak itu harus diberi makanan dan pakaian secara baik”(HR. Malik)
Imam malik , dalam kitabnya itu , tidak menyebut dua orang rawi yang beriringan antara dia dan Abu Hurairah . dua orang rawi yang gugur itu diketahui melalui riwayat Imam malik di luar kitab Al-muwata . Malik meriwayatkan hadits yang sama , yaitu “dari Muhammad bin Ajlan , dari ayahnya , dari Abu Hurairah , dari Rasulullah ,” dua rawi yang gugur secara beriringan adalah Muhammad bin Ajlan dan ayahnya.
4. Hadits Muallaq
                        Hadits muallaq menurut bahas, berarti hadits yang tergantung. Dari segi istilahnya , hadits muallaq adalah hadits yang gugur satu rawi atau lebih diawal sanad. Juga termasuk hadits muallaq , bila semua rawinya digugurkan (tidak disebutkan).
Contoh hadits muallaq :
Bukhari berkata , kata Malik , dari Zuhri , dari Abu salamah, dari Abu Hurairah, Bahwa Rasulullah bersabda :
لَا تَفَا ضَلُوْا بَيْنَ الْاَ نْبِيَاءِ
            Artinya :
            “janganlah kamu melebihkan sebagian Nabi dan sebagian yang lain”(HR. Bukhari)
2. Hadits Dhoif Karena Cacat Pada Rawi Atau Matan
            1. hadits maudhu’
Dari segi bahasa, hadits maudhu berarti hadits palsu atau hadits yang dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan hadits maudhu adalah hadits yang bukan hadits Rasulullah., tetapi disandarkan kepada beliau oleh orang secara dusta dan sengaja atau secara keliru tanpa sengaja.
Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhoif. Siapa yang telah mengetahui kepalsuan suatu hadits , maka ia tidak boleh meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasulullah SAW, kecuali dengan maksud untuk menjelaskan kepalsuannya.
Contoh hadits maudu :
Hadits yang dibuat-buat oleh Abdur Rahman bin Zadi bin Aslan,ia katakan hadits itu diterima dari ayahnya , dari kakaknya, dan selanjutnya dari Rasulullah SAW. Bunyinya demikian :
اِنَّ سَفِيْنَةَ نُوْحٍ طّا فَتْ بِا لْبَيْتِ سَبْعًا وَ صَلَّتْ عِنْدَ الْمَقَا مِ رَ كْعَتَيْنِ
Artinya :
“sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf mengelilingi Kabah tujuh kali dan shalat di makam Ibrahim dua rakaat.”
Makna hadits tersebut tidak masuk akal.
            2. Hadits Matruk Atau Hadits Matruh
Dari segi bahasa , hadits matruk berarti yang ditinggalkan dan hadits matruh berarti hadits yang dibuang. Para ulama memberikan batasan hadits matruk (hadits matruh) adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh pernah berdusta(baik berkenaan dengan hadits atau mengenai urusan lain), atau tertuduh pernah mengerjakan maksiat atau lalai , atau banyak fahamnya.[3]
Contoh : diriwayatkan oleh serentetan sanad, dan diantara nama-nama itu pernah berdusta yakni  Abdur Rahim dan ayahnya.
قَا لَ رَ سُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَوْلَا النِّسَاءُ لَعُبِدَ اللهُ حَقًّا
 Artinya :
“Rasulullah bersabda, “ sekiranya tidak ada wanita, tentu Allah disembah (ditaati) dengan sungguh-sungguh.”
            3. Hadits Munkar
                        Dari segi bahasa , berarti hadits yang diingkari atau hadits yang tidak dikenal. Para ulama memberikan batasan hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah yang menyalahi (berlawanan dengan) rawi yang kuat(kepercayaan).
Contoh : oleh ibnu ali hatim dari serangkaian rawi lemah
مَنْ اَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَ حَجَّ وَصَامَ وَقَرَى الضَّيْفَ(اَضَافَهُ وَاَكْرَمَهُ) دَخَلَ الْجَنَّةَ
            Artinya :
                        “Barang siapa yang mendirikan shalat , membayar zakat, mengerjakan haji, berpuasa dan menghormati tamu, niscaya masuk surga.”
4. Hadits Muallal
                        Dari segi bahasa berarti terkena illat(penyakit atau bencana). Para ulama memberikan batasan hadits muallal adalah hadits yang mengandung sebab-sebab tersembunyi(tidak muadh untuk diketahui)yang menjatuhkan derajatnya.
Illat yang menjatuhkan derajat hadits itu bisa terdapat pada sanad atau pada matan ,serta bisa pada keduanya. Contoh :
قَا لَ رَ سُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اَلْبَيْعَانِ بِلْخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا
Artinya :
“Rasulullah bersabda, penjual dan pembeli boleh berkhiyar selam mereka belum berpisah”
Hadits tersebut diriwayatkan Yala bin Ubaid bersanad sufyan ats-Tsauri, dari amru bin dinar, dari ibnu Umar. Matan hadits diatas shahih , tetapi sanadnya memiliki illat . seharusnya bukan dari amru bin dinar melainkan dari Abdullah bin Dinar.
5. Hadits Mudraj
                        Dari segi bahasa , berarti hadits yang dimasuki sisipan. Dari segi istilah hadits mudraj adalah hadits yang dimasuki sisipan, yang sebenarnyabukan bagian hadits itu.
Sisipan itu bisa berupa pada sanad ,bisa pada matan , dan bisa pada keduanya. Contoh :
قَا لَ رَ سُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اَنَا زَعِيْمٌ وَالزَّ عَيْمُ الْحَمِيْلُ لَمِنْ آمَنَ بِى وَاَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِى سَبِيْلِ اللهِ يَبِيْتُ فِى رَيْضِ الْجَنَّةِ
artinya :
" Rasulullah bersabda , “ apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah dia ; apabila aku melarang kamu darisesuatu , maka jauhilah dia sesuai dengan kesanggupan kamu.”(HR Thabrani)
Hadits tersebut diriwayatkan  oleh nasa, dandisebut hadits mudraj ,karena ungkapan وَالزَّ عَيْمُ الْحَمِيْلُ adalah sisipan , tidak berasal dari Rasulullah SAW.
            6. Hadits Maqlub
                        Dari segi bahasa, hadits maqlub berarti hadits yang diputar balik. Dari segi istilah hadits maqlub adalah hadits yang terjadi pemutarbalikan pada matannya atau pada nama rawi dalam sanaduntuk matan yang lain.
                        Bila hadits sebenarnya diriwayatkan oleh Kaab bin Murrah(misalnya), tetapi Kaab bin Murrah itu dibalik menjadi Murrah bin Kaab, maka hadits itu dsebut hadits maqlub.
7. Hadits Syaz
Dari segi bahasa , hadits syaz berarti hadits yang ganjil. Para ulama memberi batasan hadits syaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya ,tetapi haditsnya itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejmlah rawi yang juga dipercaya. Hadits tersebut mengandung keganjilan disbanding dengan hadits-hadits lain yang kuat.
Contoh :
قَا لَ رَ سُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يَوْمَ عَرَفَةَ وَاَيَّامَ التَّشْرِيْقِ اَيَّامُ اَكْلٍ وَ شُرْ بٍ
Artinya :
“Rasulullah bersabda : hari arafah dan dan hari tasyrik adalah hari-hari makan dan minum”(HR Musa bin Ali)
Hadits diatas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Kubah dengan sanad dari serentetan rawi yang dipercaya, namun matan hadits tersebut ganjil , jika dibandingkan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang juga dipercaya pada hadits- lain tidak dijumpai ungkapan  يَوْمَ عَرَفَةkeganjilan hadits diatas terletak pada adanya ungkapan tersebut.
C. STATUS KEHUJJAHAN
            Cacat-cacat hadits dhoif berbeda-beda , baik macamnya maupun berat ringanya. Oleh karena itu, tingkatan(martabat) hadits-hadits dhoif tersebut juga berbeda[4]. Dari hadits-hadits yang mengandung cacat pada rawi(sanad) atau matannya., yang paling endah martabatnya adalah hadits maudhu’.kemudian hadits matruk,hadits munkar, hadits muallal,hadits mudraj, hadits maqlub dan hadits-hadits lain. Dari hadits-hadits yang gugur rawi atau sejumlah rawinya , yang paling lemah adalah hadits muallaq(kecuali hadits-hadits shahih yang diriwayatkan secara muallaq oleh Bukhari dalam kitab shahihnya ), hadits mudal , lalu hadits munqati, kemudian hadits mursal.
            Bila suatu hadits dhoif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hafal dan menyampaikannya dengan cara yang benar maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya.
Pendapat pertama, hadits dhoif tersebut dapat diamalkan secara mutlaq , yakni yang berkenaan dengan masalah halal haram, maupun kewajiban,dengan syarat tida ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam yakni; Imam Ahmad bin Hambal, Abu Dawud dan sebagainya.
Pendapat kedua, dipandang baik mengamalkan hadits dhoif dalam fadaitul amal ,baik yang berkenaan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.
Pendapat ketiga,hadits dhoif sama sekali tidak dapat diamalkan , baik yang berkenaan dengan fadaitul iman maupun yang berkaitan dengan halal-haram . pendapat ini di nisbatkan kepada Qadi Abu Bakar Ibnu Arabi.
D. KITAB-KITAB YANG MEMUAT HADITS DHOIF
            Para imam hadits telah menyusun berbagai kitab yang menjelaskan hadits-hadits maudhu’. di antara kitab-kitab sumber hadits maudhu’ yang terpenting adalah :
1.      Al-maudhu’at,karya Imam Al-Hafiz Abul Faraj Abdur Rahman bin Al-jauzi(W.597 H)
2.      Al-Laali Al-masnuah fi Al-Ahadis Al-Mauduah, karya Al-Hafizh Jalaludin Al-Suyuti (W.911 H)
3.      Tanzih Al-Syariat Al-marfuah an Al-ahadis Al-Syaniah Al-Mauduah, karya Al-Hafizh Abu Al-hasan Ali Bin Muhammad bun Iraq Al-kannani(W. 963 H)
4.      Al-Manar ‘al-Munif fi Al-sahih wa Al-Dhoif, karya Al-Hafizh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah(w 751 H) dan Al-Masnu fi Al-Hadits Al-MAudhu, karya Ali Al-Qari(w. 1014 H)











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
hadist dhaif adalah hadist yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits shahih,dan juga tidk menghimpun sifat-sifat hadits hasan .
            kriteria hadits dhaif yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadist shahih dan hasan. Dengan demikian , hadist dhaif itu bukan saja tidak  memenuhi syarat-syarat hadist shahih, juga tidak memenuhi persyaratan hadits hasan. Pada hadist dhaif terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadist tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Macam-macam hadits dhaif :
1.Hadits Dhaif Karena Gugurnya Rawi :
a.      Hadits Mursal
b.      Hadits Munqati
c.       Hadits Mudal
d.      Hadits Muallaq

2. Hadits Dhoif Karena Cacat Pada Rawi Atau Matan :
a.      hadits maudhu’
b.      Hadits Matruk Atau Hadits Matruh
c.       Hadits Munkar
d.      Hadits Muallal
e.      Hadits Mudraj
f.        Hadits Maqlub
g.      Hadits Syaz. Hadits Syaz

Status kehujjahannya Bila suatu hadits dhoif dimungkinkan bahwa rawinya benar-benar hafal dan menyampaikannya dengan cara yang benar maka hal ini telah mengandung perbedaan pendapat yang serius dikalangan ulama sehubungan dengan pengalamannya. Pendapat pertama, hadits dhoif tersebut dapat diamalkan secara mutlaq, Pendapat kedua, dipandang baik mengamalkan hadits dhoif dalam fadaitul amal, Pendapat ketiga,hadits dhoif sama sekali tidak dapat diamalkan.




Daftar pustaka
Ahmad, Muhammad, ulumul Hadits . pustaka setia.bandung: 2000
Mudasir, Ilmu Hadits. Pustaka setia.Bandung: 1999
Teungku Muhammad Hasbi ash-shiddieqi,sejarah dan pangantar ilmu hadits. Pustaka Rizki Putra, semarang:2009
Thahlan, Mahmud.ulumul hadits. Titian Ilahi Press.Yogyakarta:1997




[1] Ahmad, Muhammad, ulumul Hadits .( pustaka setia.bandung: 2000 )hl,.147
[2]  ibid, hlm.148
[3] bid, hlm.155
[4] Thahlan, Mahmud.ulumul hadits.( Titian Ilahi Press.Yogyakarta:1997)hlm.68

Thursday, October 28, 2010

Psikologi Umum - Kemauan

BAB I
PENDAHULUAN

1. Gejala kemauan pada manusia
Kemauan adalah dorongan dari dalam yang lebih tinggi tingkatan-tingkatan daripada instink, refleks, automatisme, kebiasaan, nafsu, keinginan, kecendrungan, dan hawa nafsu, sekali lagi ditandasan bahwa kemauan hanya terdapat pada manusia saja.
Kemauan adalah doronagan dari dalam yang sadar, berdasarkan pertimbangan pikir dan perasan, serta seluruh pribadi seseorang yang menimbulkan kegiatan yang terarah pada tercapainya tujuan tertentu yang berhubungan dengan kebutuhan hidupnya.
Gejala kemauan sebagai pendorong timbulnya perbuatan kemauan berdasarkan atas berbagai pertimbangan, naika pertimbangan akal/pikir, yang mementukan benar salahnya perbuatan kemauan maupun pertimbangan perasaan yang menentukan baik buruknya halus tidaknya perbuatan kemauan, maka dalam gejala kemauan terdapatkesenjanganantara dorongan kemauan-pikiran-perasaan-tujuan dan tindakan
Gejala kemauan akan diikutu aktifitas yang disebut perbuatan kemauan. Perbuatan kemauan buaknlah tindaka yang bersifat kebetulan, tetapi merupakan tindakan yang disengaja dan terarah pada trcapainya suatu tujua . dorongan lkemauan merupakan dan memyebabkan timbul,nya perbuatan hati, jiwa tenaga bergerak mencapai suatu tujuan.
2. Proses kemauan
a. Proses kemauan menurut Meuman
1. Adanya motive
2. Saat mempertimbangkan motive-motive
3. Saat memilih
4. Memutuskan
5. Melaksanakan keputusan kemauan
b. Muman membedakan unsur motif-motif : motif dan perjuanagan
1) Motif (motivasi) merupakan sebab atu gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah laku, menuju pada suatu ingatan, gambaran fantasi dan perasaan-perasaan tertentu.
2) Perjuangan motif merupakan usaha mempertimbangkan dengan hati nurani dan akal budi kemungkinan dilaksanakannya suatu pilihan yaitu diambil dari beberapa alternative/kemungkinan motif-motif tadi.
3) Pada proses penentuaan ada penentuan dari seleksi dan pelaksanaan pilihan itu. Yaitu memilih motif yag paling baik dan paling kuat untuk dilaksanakan dengan segera.


























BAB II
PEMBAHASAN
GEJALA KEMAUAN (KONASI)

1. PENGERTIAN KEMAUAN
Kemauan adalah salah satu fungsi hidup kejiwaan manusia, dapat diartikan sebagai aktifitas psikis yang mengandung usaha aktif dan berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan. Tujuan adalah titik akhir dari gerakan yang menuju suatu arah. Adapun tujuan kemauan adalah pelaksanaan suatu tujuan-tujuan mana, harus diartikan dalam suatu hubungan.
Dorongan hidup, yang bekerja tanpa disadari dan berlangsung dengan sendirinya, disebut: otomatisme. Misalnya :
a. peredaran darah
b. pencemaran makanan
c. pernapasan pada paru-paru. Dan sebagainya.
Semua dorongan ini berpangkal pada tiga macam dorongan asli, yaitu :
a. dorongan mempertahankan diri
b. dorongan mempertahankan jenis, dan
c. dorongan mengebangkan diri.
Kehendak ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu. Kehendak ini merupakan kekuatan dari dalam dan tampak dari luat sebagi gerak-gerik. Fungsinya kehendak ini berkaitan dengan fikiran dan perasaan.
Kehendak ini dibagi menjadi enam bagian, yaitu :
a. Dorongan
Dorongan ialah suatu kekuatan dari dalam yang mempunyai tujuan tertentu dan berlangsung diluar kehendak kiata. Dorongan dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Dorongan yang bertujuan mencapai syrat hidup tertentu disebut tropisme, misal : binatang mencari cahaya.
2) Dorongan hidup, yang bekerja tanpa disadari dan berlangsung dengan sendirinya disebut Otomatisme, misal : pernafasan pada paru-paru, peredaran darah, dan lain-lain.
Semua dorongan berpangkal pada tiga macam dorongan asli, yaitu : dorongan mempertahankan diri, dorongan mempertahankan jenis, dan dorongan mengebangkan diri.
b. Keinginan
Keinginan ialah dorongan nafsu, yang tertuju pada sesuatu benda tertentu atau yang kongkrit. Kebalikannya ialah kebencian. Keinginan yang dipraktekan bisa menjadi kebiasaan.
c. Hasrat
Hasrat ialah suatu kainginan tertentu yang dapat diulang-ulang. Paulhan (Prancis), menggolongkan hasrat menjadi beberapa golongan, yaitu :
1) Hasrat vital
a. Kerakusan
b. Kesederhanan
c. Peminum
2) Hasrat sosial
a. Cari teman
b. Cari persatuan
3) Hasrat egoistis
a. Tamak
b. Kikir
c. Saying pada diri
d. Tidak sopan
4) Hasrat yang abstrak
a. Jujur
b. Insyat kewajiban
c. Menipu
d. Kecendrungan : hasrat yang aktif menyuruk kita agar lekas bertindak.
e. Hawa nafsu : hasrat yang besar dan kuat yang dapat menguasai seluruh fungsi jiwa kita.
f. Kemauan : kekuatan yang sadar dan hidup dan atau menciptakan sesuatu yang berdasarkan perasaan dan fikiran.
Proses kemauan, untuk sampai pada tindakan melalui beberapa tingkat :
a. Motif (alas an, dasar, pendorong)
b. Perjuangan motif. Sebelum mengambil keputusan, pada batin biasanya ada beberapa motif yang bersifat luhur dan rendah.
c. Keputusan. Disini kita mengadakan pemilihan-pemilihan antara motif-motif tersebut dan meninggalkan kemungkinan yang lain, sebab tak mungkin kita punya macam-macam keinginan pada watu yang sama.
d. Perbuatan kemauan. Kalau sudah mengambil keputusan, maka bertindak sesuai dengan keputusan yang diambil.
Ciri-ciri hasrat :
1. Hasrat merupakan “motor” penggerak perbuatan dan kelakuaan manusia.
2. Hasrat berhubungan erat dengan tujuan tertentu, baik positif maupun negative. Positif berarti mencapai barang sesuatu yang dianggap berharga dan berguna baginya. Sdang negative berarti menghindar sesuatu yang dianggap tidak mempunyai haraga/guna baginya.
3. Hasrat selamanya tidak terpisah dari gejala mengenai (kognisi) dan perasaan (emosi). Dengan kata lain : hasrat tidak dapat dipisahkan dengan pekerjaan jiwa yang lain.
4. Hasrat diarahkan pada penyelanggaraan suatu tujuan, maka didalam hasrat terdapat bibit-bibit penjelmaan kegiatan.
2. HASRAT YANG BERPUSAT PADA KEJASMANIAN
a. Tropisme
Adalah peristiwa yang menyebabkan timbulnya gerak kesuatu arah tertentu. Gejala tropisme terdapat pada barang-barang tingkat vegetative (tumbuh-tumbuhan) dan animal (binatang).
Dengan adanya jenis perangsang yang berbeda, maka tropisme dapat dibedaa berdasarka jenis perangsangnya, antara lain :
1) Foto-tropisme (fotos = cahaya)
Yaitu tropisme yang timbul karena adanya peransang cahaya menurut arah geraknya, foto propisme dibedaan atas :
a) Foto-tropisme, positif
b) Foto-tropisme, negatif
2) Helio-tropisme (helios = matahari)
Yaitu tropisme yang timbul karena adanya peransang matahari. Menurut arah geraknya helio-tropisme dapat dibedakan :
c) Helio-tropisme poisitif
d) Helio-tropisme negatif
b. Refleks
Refleks adalah gerak reaksi yang tidak disadari terhadap peperangsang.
1) Ciri-ciri gerak refleks
a. Pada gerak terdapat hubungan erat antara perangsang dan reaksi, yakni reaksi terhadap perangsang itu.
b. Gerak refleks terjadi diluar kesadaran (tidak disadari).
c. Gerak refleks bersifat mekanis (bergerak dengan sendirinya) dan tidak mempunyai tujuan tertentu.
d. Sangat terikat oleh perangsang tertentu, tidak dikatakan bahwa setiap jenis perangsang tertentu menimbulkan gerak refleks tertentu.
e. Tidak berhubungan dengan pusat susunan urat syaraf dan bertalian dengan susunan syaraf, yakni sum-sum tulang belakang.
f. Gerak refleks merupakan cara bertindak tertentu yang dibawa sejak lahir.
2) Proses terjadinya gerak refleks
Gerak refleks adalah gearak diluar kesadaran, jadi reaksi-reaksi yang ditimbulkan tidak bersumber pada susunan syaraf (otak) tanpa suatu pertimbangan. Proses terjadi gerak refleks : perangsang pancaindera cel-cel syaraf ensoris urat syaraf mitosis reaksi.
3) Macam-macam refleks
a. Refleks bawaan : yalni refleks yang dibawa sejak lahir; disebut juga refleks asli atau refleks sewajarnya.
b. Refleks latihan : yakni refleks yang diperoleh dari latihan.
c. Refleks bersyarat : (conditioned-refleks)
Refleks ini tidak tergantung pada perangsang alam yang asli tapi timbul karena rangsang lain yang berasosiasi dengan ransangan alam tersebut.
c. Insting
Yaitu kemampuan berbuat tertentu yang dibawa sejak lahir yang tertuju pada pemuasan doronagn-dorongan nafsu dan doronagn-dorongan lain disebut instink
a) Ciri-ciri insting
1) Insting lebih majemuk dari pada refleks.
2) Instink merupakan kemampuan untuk bergerak pada suatu tujuan dengan tidak memerlukan latiahan terlebih dahulu.
3) Gerak instinktif merupakan pembawaan, kemampuan alami yang dibawa sejak lahir, jadi bukan kecakaapan yang diperoleh dari pengalaman dan latihan.
4) Gerak instinktif berjalan secara mekanis (berjalan dengan sendirinya), berjalan tanpa menggunakan kesadaran dan pertimbangan.
5) Instink sedikit banyak dapat dilatih atau diubah, disesuaikan dengan keadan-keadaan tertentu
6) Gerak instinktif berakar pada dorongan nafsu dan dorongan lain untuk mendapatkan kepuasan.
7) Gerak instinktif pada hewan sejak lahir tetap, tidak berubah, sedangka instink pada manusia berubah.
b) Macam-macam insting
Instink merupakan dorongan alami untuk berbuat tertentu demi tercapainya tujuan.
1) Dorongan untuk mempertahankan diri
2) Dorongan untuk mempertahankan jenis
3) Dorongan untuk mengmbangkan diri
Instink pada manusia
- Manusia mempunyai dorongan instink, tetapi perbuatan dan hidup manusia tidak dikuasai oleh doronga instink.
- Pada suatu kesempatan instink masih berfungsi, namun demikian pernyataan dorongan instink tersebut sudah dalam bentuk perbuatan yang dipengaruhi oleh batin manusia.
d. Automatisme
Gejala yang menimbulkan gerak-gerak terselanggara denga sendiorinya disebut automatisme.
- Autumatisme asli ; ialah gerak automatis yang tidak digerakan oleh gejala hasrat.
- Automatisme latihan : ialah gerak-gerak yang berjalan secara automatis karena seringnya gerak-gerak tersebut diulang.
e. Kebiasaan
Gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya disebut kebiasaan
f. Nafsu
Dorongan yang terdapat pada tiap-tiap manusia dan member kekuatan bertindak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup tertentu, disebut nafsu.
a. Macam-macam nafsu
- Nafsu individu (perseorangan)
- Nafsu sosial (kemasyarakatan)
b. Hubungan nafsu dengan persaaan
Perasaan yang hebat dapat menimbulkan bergeraknya suatu nafsu dan sebaliknya kadang-kadang nafsu kadang bisa menimbulkan perasaan yang hebat, dan adakalanya kemampuan berfikir dikesampingkan
c. Nafsu dan pendidikan
g. Keinginan
Nafsu yang telah mempunyai arah tertentu dan tujuan tertentu disebut dengan keinginan.
h. Kecendrungan
Keinginan-keinginan yang sering munculaatu timbul disebut kecendrungan.
Kecendrungan dapat dibedakan menjadibeberapa golongan :
- Kecendrunag vital (hayat)
- Kecendrungan perseorangan
- Kecendrungan sosial
- Kecendrungan abstark
i. Hawa nafsu
Kecendrungan atau keinginan yang sangat kuat dan memndesak yang sedikit banyak mempengaruhi jiwa seseorang disebut hawa nafsu.
j. Kemauan
1. Proses kemauan
Dibawah ini dikemukakan dua teori mengenai proses kemauan:
a. Teori Meuman (analisa lama)
Muman membedakan unsur motif-motif : motif dan perjuanagan
- Motif (motivasi) merupakan sebab atu gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah laku, menuju pada suatu ingatan, gambaran fantasi dan perasaan-perasaan tertentu.
- Perjuangan motif merupakan usaha mempertimbangkan dengan hati nurani dan akal budi kemungkinan dilaksanakannya suatu pilihan yaitu diambil dari beberapa alternative/kemungkinan motif-motif tadi.
- Pada proses penentuaan ada penentuan dari seleksi dan pelaksanaan pilihan itu. Yaitu memilih motif yag paling baik dan paling kuat untuk dilaksanakan dengan segera.
b. Teori N. Ach (analisa baru)
Ach membedakan empat momen, yaitu :
a. Momen wujud : proses penginderaan yang kuat biasanya disertai dengan ketegangan-ketegangan bahkan sering diiringi dengan gerakan-gerakan tertentu, misal : mengernyitkan kening, mengepalkan tinju.
b. Momen obyektif : kesadaran akn adanya pengarahan pada suatu tujuan, dan ada gambaran satu tujuan. Ada antisipasai terhadap perubahan yang akan dilakukan.
c. Moment akatual : menyadari benar perbuatan apa yang akan dilakukannya.
d. Momen subyektif : ada keinginan dalam kesadaran untuk berbuat secara energik/kuat, dan ada upaya mengumpulkan usaha-usaha untuk berbuat.
Kemauan bisa menciptaka orde dan kesatuan pada setiap unsur bagian dari kepribadian ( unsur kognitif, efektif/emosi, fantasi tanggapan, minat, pikiran, dan lain-lain). Dan kemauan ini mengarahkan manusia pada tujuantujuan menurut pola-pola pembimbing atau leitmotifen tertentu.
2. Kebebasan kemauan
a. Hal-hal yang mempengaruhi kemauan
- Keadaan fisik
- Keadaan materi
- Keadaan psikis
- Keadaan milieu (lingkungan)
- Keadaan kata hati (consciensia)
b. Kebebasan kemauan
1) Teori determinisme (determine = menentukan)
Teori ini berpendapat
- Kebebasan kemauan tidak mungkin ada, semua kejadian termasuk kemauan manusia sudah tertentu, dan terjadinya berdasarkan sebab akibat.
- Semua peristiwa didunia berlaku menurut rumus-rumus yang telah ada, kalau demikian arti tindakan manusia tidak bedanya dengan kerja pesawat.
- Manusia terbatas dalam menentukan kebebasan kemauan, dibatasi oleh dasar pembawaan maupun oleh keadaan.
- Tentang pendidikan : pendidikan adalah sesuatu yang tidak mungkin, paling tinggi orang hanya member latihan-latihan kepada anak-anak untuk menghindar perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
2) Teori in-determinise
Kaum ini penentang aliran determinisme. Pendapat-pendapatnya :
- Manusia tidak hidup berdasarkan hukum-hukum kautalitas (sebab-akibat) tetapi bebas dari kemauannya.
- Aliran ini mengakui juga adanya pengaruh hukum sebab akibat pada perbuatan manusia, tetapi bagaimanapun jaga manusia bebas merdeka dalam mengambil keputusan kemauan.
3. HASRAT YANG BERPUSAT PADA PSIKOLOGI ATAU PERBUATAN KEMAUAN
Kemauan adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan akal budi. Ciri-ciri kemauan sebagai beriikut.
a. Gejala kemauan merupakan dorongan dari dalam yang khusus dimiliki oleh manusia.
b. Gejala kemauan berhubungan erat dengan suatu tujuan.
c. Gejala kemauan sebagai pendorong timbulnya perbuatan kemauan yang didasarkan atas berbagai pertimbangan, baik pertimbangan akal/pikiran yang menentukan benar salahnya perbuatan kemauan maupun pertimbangan perasaan kemauan.
d. Dalam kemauan tidak hanya terdapat pertimbangan pikiran dan peasan saja, melainkan seluruih pribadi pertimbangan, memberikan pengaruh dan memberikan corak pada perbuatan kemauan.
e. Pada perbuatan kemauan bukanlah tidakkan yang bersifat kebetulan, melainkan tindakan yang disengaja dan pada tercapainya suatu tujuan.
f. Banhwa tujuan menjadi unifikator atau pemersatu dari semua tingkah laku manusia, dan memgkoordinasi segenaf fungsi kejiwaan menjadi bentuk kerjasam yang super harmonis.
Hal-hal yang mempengaruhi kemauan.
a. Keadaan fisik
b. Keadaan materi
c. Keadaan milieu (lingkungan)
d. Keadaan kata hati (consciensia)
4. MOTIF, PERKEMBANGAN DAN MACAMNYA
a. Motif
Perbuatan organisme itu dapat dibedakan : perbuatan yang refleksif dan perbuatan yang disadari.
b. Perkembangan motif
Perkembangan ini berhubungan dengan masalah kemasakan (maturation), latihan dan proses belajar.
c. Macam-macam motif
Disamping menurut Woodworth dan Marquis motif itu dapat dibedakan :
1. Motif yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani (organie needs) yaitu motif yang berhubungan dengan kelangsungan hidup individu atau organism, misalnya motif minim, makan, kebutuhan pernapasan, seks, kebutuhan beristirahat.
2. Motif darurat (emergency motives).
3. Motif obyektif (obyective motives)
Bila individu menghadapi bermacam-macam motif pada kemungkinan respons yang dapat diambil, yaitu :
1. Pemilihan atau penolakan
2. Kompromi
3. Meragu-ragukan (bimbang)















BAB III
PENUTUP
Simpulan
1. Kemauan ialah kekuatan yang sadar dan hidup dan atau menciptakan sesuatu yang berdasarkan perasaan dan fikiran.
2. Kehendak ialah suatu fungsi jiwa untuk mdapat mencapai sesuatu.
3. Kehendak dibagi menjadi :- Dorongan,- Keinginan,- Hasrat,- Kecendrungan,- Hawa nafsu, dan - Kemauan
4. Hasrat yang berpusat pada kejasmanian terbagi atas:
a. Tropisme Adalah peristiwa yang menyebabkan timbulnya gerak kesuatu arah tertentu.
b. Refleks adalah gerak reaksi yang tidak disadari terhadap peperangsang.
c. Insting adalah kemampuan berbuat tertentu yang dibawa sejak lahir yang tertuju pada pemuasan doronagn-dorongan nafsu dan dorongan-dorongan lain.
d. Automatisme adalah Gejala yang menimbulkan gerak-gerak terselanggara dengan sendirinya.
e. Kebiasaan adalah Gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya disebut kebiasaan.
5. Hasrat yang berpusar pada psikologi atau perbuatan kemauan.
Hal-hal yang mempengaruhi kemauan :
e. Keadaan fisik
f. Keadaan materi
g. Keadaan milieu (lingkungan)
h. Keadaan kata hati (consciensia)
6. Motif, perkembangan dan macamnya.
Macam-macam motif :
- Motif yang bersifat vital
- Motif yang bersifat rohaniah.




Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu. 1998. Psikologi Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Sujanto, Agus. 2004. Psikologi Umum. Jakarta :Bumi Aksara
Kartono, Kartini. 1984. Psikologi Umum. Bandung : CV Mandar Maju
Shalahudin Mahfudz, Drs., Pengantar Psikologi Umum, Surabaya "Sinar Wijaya" 1986
Abu Ahmadi, Drs., Psikologi Umum, 1982, Surabaya "PT Bina Ilmu".



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites