Thursday, December 15, 2011

Filsafat Pendidikan -- Fungsi pendidikan dalam kehidupan manusia

A.    Fungsi pendidikan dalam kehidupan manusia
[1]Peranan pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia, terlebih lebih dalam zaman modern sekarang ini yang dikenal dengan abad cybernetic, pendidikan di akui sebagai satu kesatuan yang menentukan prestasi dan duktifitas di bidang yang lain. Karena, menurut Theodore brameld bahwa pendidikan sebagai kekuatan berarti mempunyai kewenangan yang cukup kuat bagi kita, bagi rakyat banyak untuk menentukan suatu dunia bagainama yang kita inginkan dan bagaimana mencapai dunia semacam itu. Tidak ada satu fungsi dan jabatan di dalam masyarakatnpa melalui proses pendidikan. Pendek kata, seluruh aspek kehidupan memerlukan proses pendidikan baik di dalam maupun di luar lembaga formal. Hubungan dan interaksi sosial yang terjadi dalam proses pendidikan di masyarakat mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia. Untuk memperoleh hakikat diri yang makin bertambah sebagai hasil pengalaman berturut-turut sepanjang kehidupan manusia.
Menurut prof. richey tersebut, istlah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas mengenai peliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama memperkenalkan kepada warga mengenai tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi, pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah. Pendidikan adalah suatu aktifitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan mengalami proses spesialisasi dam melembaga dalam pendidikan formal, yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah.[2]
Menurut prof. lodge tersebut, perkataan pendidikan terkadang dipakai dalam pengertian yang luas dan kadang dalam arti yang lebih sempit. Dalam pengertia yang lebih luas, semua pengalaman dapat dikatakan sebagai pendidikan. Sebagai contoh, seorang anak dapat mendidik orang tuanya sebagai mana halnya seorang murid dapat pula mendidik gurunya. Segala sesuatu yang kita katakan, pikiran, atau kerjakan dapat mendidik kita. Demikian pula, apa yang dikatakan atau dilakukan sesuatu kepada kita, baik dari benda-benda mati maupun benda-benda hidup. Dalam pengertian yang lebih luas ini, hidup adalah pendidikan dan pendidikan adalah proses hidup dan kehidupan yang berjalan bersama, tidak terpisah satu sama lain karena bberlangsung di dalam dan oleh proses masyarakat, sehingga sekurang-kurangnya tiap pribadi manusia terlibat dengan pengaruh pendidikan. Jadi pendidikan meliputi seluruh umat manusia, sepnjang sejarah adanya manusia dan sepanjang hidup manusia.
Sedangkan dalam pengertian yang lebih sempit, diuraikan oleh lodge bahwa pendidikan dibatasi pada fungsi tertentu di dalam masyarak yang terdiri atas penyerahan adat istiadat (tradisi) dengan latar belakang sosialnya dengan pandangan hidupnya dari masyarakat ke generasi berikutnya, dan demikian seterusnya. Selanjutnya, dalam praktiknya “pendidikan” identik dengan sekolah yaitu pengajaran formal dalam kondisi dan situasi yang diatur, yang hanya menyangkut pribadi yang secara suka rela mengikutinnya.[3]
B.     Peranan lembaga pendidikan
Disini kita jumpai tiga lembaga pendidikan yang sangat berparan penting dalam proses pembentukan kepribadian diri seseorang yaitu lembaga pendidikan keluarga, lembaga pendidikan sekolah, dan lembaga pendidikan masyarakat ketiganya mempunyai fungsi dan peranannya masing-masing.[4]

1.      Lembaga pendidikan keluarga
Sebagai transmisi pertama dalam pendidikan, keluarga memiliki tugas utama dalam meletakkan dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Dikatakan pertama karena keluarga adalah tempat dimana anak pertama kali mendapatkan pendidikan. Sedangkan dikatakan utama karena hampir semua  pendidikan awal yang diterima anak adalah dalam keluarga. Karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, yang bersifat informal dan kodrati. Lahirnya keluarga sebagai pendidikan sejak manusia itu ada. Ayah dan ibu sebagai pendidik, dan anak sebagai terdidik. Tugas keluarga adalah melatakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak barikutnya, agar anak dapat berkembang secara baik.
Fungsi dan peranan pendi[5]dikan keluarga:
Ø  Penglaman pertama anak-anak.
Penngalaman ini merupakan factor yang sangat penting baga perkembangan berikutnya, khususnya dalam perkembangan pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan selanjutnya.
Ø  Menjamin kehidupan emosional anak.
Yaitu memberikan perhatian yang tinggi terhadap anak, mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang serta memberikan contoh kebiasaan hidup yang bermanfaat bagi anak.
Ø  Menanamkan dasar pendidikan moral.
Orang tua harus mampu menjadi suri tauladan yang baik.
Ø  Memberikan dasar pendidikan sosial.
Keluarga sebagai komunitas terkecil dalam kehidupan sosial merupakan satu tempat awal bagi anak mengenal nilai-nilai sosial.
Ø  Peletakkan dasar-dasar keagamaan.
Masa kanak-kanak adalah masa paling baik dalam usaha menanamkan nilai dasar keagamaan. Kehidupan keluarga yang penuh dengan suasana keagamaan akan memberikan pengaruh besar kepada anak.

2.      Lembaga pendidikan sekolah
Akibat keterbatasan kemampuan orang tua dalam mendidik anaknya, maka dipercayakanlah tugas mengajar itu kepada orang dewasa lain yang lebih ahli dalam lembaga pendidikan formal, yaitu guru. Sekolah sebagai wahana pendidikan ini, menjadi produsen penghasil individu yang berkemampuan secara intelektual dan skill. Karenanya, sekolah perlu dirancang dan dikelola dengan baik. Sekolah lahir dan berkembang secara efektif dan afisien dari, oleh dan untuk masyarakat, sekolah berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam mendidik warga Negara.
Fungsi lembaga sekolah:
Ø  Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan anak didik.
Ø  Spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Ø  Sosialisasi, yaitu proses pengembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Ø  Konservasi dan transmisi cultural, yaitu pemeliharaan warisan budaya. Dapat dilakukan dengan pencarian dan penyampaian budaya pada anak didik selaku generasi muda.
Ø  Transisi dari rumah ke masyarakat. Sekolah menjadi tempat anak untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab anak sebagai persiapan untuk terjun kemasyarakat.


Peran lembaga sekolah:
Ø  Tempat anak didik belajar bergaul, baik sesamanya, dengan guru dan dengan kariyawan.
Ø  Tempat anak didik belajar mentaati peraturan sekolah.[6]

3.      Lembaga pendidikan masyarakat
Masyarakat sebagai lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi seseorang. Dalan hal ini, masyarakat memiliki peranan penting dalam upaya ikut serta menyelenggarakan pendidikan, membantu pengadaan tenaga dan biaya, sarana dan prasarana dan menyedikan lapangan kerja. Karenanya, partisipasi masyarakat membantu pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa yang sangat diharapkan. Pendidkan dalam masyrakat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Diselenggarakan dengan segaja di luar sekolah.
b.      Peserta umumnya mereka yang tidak bersekolah atau drop out
c.       Tidak mengenal jenjang dan program pendidikan untuk jangka waktu pendek.
d.      Peserta tidak perlu homogen.
e.       Ada waktu belajar dan metode formal, serta evaluasi yang sistematis.
f.       Isi pendidikan yang bersifat praktis dan khusus.
g.      Keterampilan kerja sangat di tekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan meningkatkan taraf hidup.





[1]  Djumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan Bayu Media, Malang : 2004. Hal : 139-140
[2] Ibid, Hal : 141-142
[3] Hasan Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan Renika Cipta, Jakarta : 1995. Hal : 17
[4] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta : 3002. Hal : 101

[6] Tim Dosen IKIP, Dasar-Dasar Pendidikan IKIP Semarang Press, Semarang : 1981. Hal : 334



DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003)
Fuad Hasan, Dasar-Dasar Pendidikan (Jakarta : Renika Cipta, 1995)
Tim Dosen IKIP, Dasar-Dasar Pendidikan (Semarang : IKIP Semarang Press, 1981)
Jumransjah, Pengantar Filsafat Pendidikan (Malang : Bayu Media, 2004)

Filsafat Pendidikan -- hubungan filsafat pendidikan dengan perkembangan hidup manusia


BAB I
PENDAHULUAN
            Tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan suasana ideal itu nampak pada tujuan akhir. Tujuan akhir biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya kepribadian muslim.
            Sebagaimana dunia cita, kalau sudah ditetapkan, ia adalah idea statis. Tetapi sementara itu kualita dari tujuan itu adalah dinamis dan berkembang nilai-nilainya. seperti nilai-nilai sosial, nilai ilmiah,nilai moral, dan nilai agama.
 


KD   :  Manusia memahami hubungan filsafat pendidikan dengan perkembangan hidup manusia .
MP   :  1. Manusia dan tujuan hidupnya .
            2. Tujuan Pendidikan .
            3. Tujuan filsafat pendidikan .
INDIKATOR            :  Mahasiswa dapat menjelaskan secara lisan dan atau       tertulis hubungan tujuan hidup dengan tujuan pendidikan dan filsafat pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

            A . Manusia Dan Tujuan Hidupnya
            Manusia adalah satu jenis mahluk hidup yang menjadi anggota populasi permukaan bumi ini.[1] Jika dilihat dan segi biologis, hampir tidak dibedakan antara manusia dengan hewan. Manusia tidak dapat dipandang sebagai mahluk yang terlalu istimewa dan luar biasa, jika dipandang dan segi ini saja. Sedangkan yang membedakan manusia dengan mahluk lain, terletak pada sifat-sifat kehidupan rohaninya, yaitu bahwa manusia memiliki potensi akal budi. Manusia dengan akalnya dapat berimajinasi, sehingga menjadi mahluk yang mempunyai daya cipta yang tinggi. Karena manusia memiliki potensi akal budi itulah, manusia menjadi mahluk bijaksana yang mencari tujuan-tujuan  (homo sapiens), mahluk yang pandai bekerja, menggunakan alat (selalu mencari konkretasi) atau homo faber, dan mahluk yang mempunyai proses tanpa tujuan (homo ludens) .
            Kehidupan manusia selalu berubah, sangat bergantung pada pengharapan , cita-cita hidup, dan atau pengalaman kebahagian, atau kesengsaraan hidup manusia dalam bermasyarakat. Walaupun kita tidak banyak mengetahui tentang kehidupan manusia pertama, melalui sarjana antropologi yang menemukan tulang aatau fosil-fosil yang bercampur dengan tanah liat, mampu mengambarkan rekonstruksi bentuk awal nenek moyang manusia.
            1 . Tujuan Hidup Manusia Mengalami Proses Perkembangan
                        Kehidupan manusia di zaman dulu memerlukan perjuangan yang keras untuk perjuangan untuk mempertahankan hidupnya, dalam suasana serba sulit, serba ketakutan, sengsara, dasn tidak merasakan kebahagian. Sehingga, tujuan hidup mereka tidak begitu jelas , atau hampir tidak ada tujuan hidupnya. Kehidupan mereka tidak lebih hanya untuk mengisi perut saja, tetapi di zaman sekarang sudah berbeda manusia sudah berpikir lain. Manusia sudah berpikir kedepan, sudah mempunyai tujuan hidup yang jelas, tidak hanya untuk mengisi perutnya saja.

2. Tujuan Hidup Bangsa Indonesia
                        Bagi kita, sejak negara Indonesia merdeka, tujuan itu telah ada dan jelas, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Cita-cita kemerdekaan yaitu untuk membentuk suatu Pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum , mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaiaan abadi, keadilan sosial.
                        Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka dilaksanakanlah pembangunan atau proses perubahan secara terus menerus yang merupakan kemajuan dan perbaikan menuju keaarah tujuan yang ingin dicapai, meliputi unsur- unsur berikut .
1.      Mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila.
2.      Di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka , berdaulat, bersatu, dan berkedaulatan rakyat.
3.      Dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tentram ,tertib, dan dinamis.
4.      Dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib, dan damai.[2]
Tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai untuk membangun manusia
Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia, tidak akan mungkin tercapai dalam beberapa tahun, atau beberapa Repelita, atau dalam satu dua generasi.
3 . Tujuan Hidup Manusia Menurut Pandangan Islam
                        Setiap manusia muslim perlu menyadari tujuan hidup, kemudian berusaha untuk menyesuaikan segala aktivitas dan langkah-langkah dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan hidup yang sesuai dengan tuntutan agama.
                        Untuk menentukan tujuan hidup harus dipahami terlebih dahulu untuk apa sebenarnya manusia hidup, atau diturunkan Allah kemuka Bumi ini menurut Islam. Orang-orang yang  melihat kembali asal-usul dirinya atau  pangkal hidupnya dan benda alam semata, maka pandangannya tentang hidup ini hanyalah di anggap persenyawaan unsur-unsur alam yang membentuk sel-sel tubuh, kemudian dapat bertahan untuk hidup dan terpenuhi kebutuhan hidupnya.
B . Tujuan Pendidikan
            Setiap kegiatan pendidikan merupakan bagian dari suatu proses yang untuk menuju ke suatu tujuan, dan tujuan-tujuan ini di tentukan oleh tujuan-tujuan akhir. Pada umumnya, esensi ditentukan oleh masyarakat, yang dirumuskan secara singkat dan padat, seperti kematangan dan integritas atau kesempurnaan pribadi, dan terbentuknya kepribadiaan muslim.
Tujuan pendidikan selalu terpaut pada zamannya, dengan kata lain rumusan tujuan pendidikan yang dapat di baca unsur filsafat dan kebudayaan suatu bangsa yang dominan. Sebagai contoh daapat dikemukakan sebagai berikut :
1.                 Tujuan Pendidikan di Amerika Serikat
a.                 The objective of self-realization.
b.                   The objective of human relationship.
c.                 The objective of economics efficiency.
d.                 The objective of civic responsibility.
2.                 Tujuan Pendidikan di Jerman Barat.
a.             Kesehatan  dan kecakapan.
b.            Kesanggupan umum untuk hidup bermasyarakat , yang khusus diperlukan untuk pekerjaannya dan pendidikan untuk masyarakat berpolitik.
c.             Membawa anak didik secara humanistis kedunia ke rohanian, yang akhirnya menjadi betah dalam lingkunganya.
d.            Memahami dan melaksanakan agamanya sebaik mungkin.
3.                 Tujuan Pendidikan di Indonesia
Tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana terdapat dalam undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3, menyebutkan : “ Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
            1 .        Fungsi dan tujuan pendidikan
            Tujuan pendidikan sebenarnya sudah terlingkup didalam pengertian pendidikan sebagai usaha secara sadar, yang berarti usaha tersebut mengalami permulaan dan akhirnya. Pada umumnya, suatu usaha berakhir kalau tujuan akhir telah tercapai.[3]
            Dari uraian di atas, maka semakin jelaslah fungsi dan tujuan pendidikan yang kita maksudkan, yaitu sebagai berikut.
1.      Mengakhiri tujuan itu.
2.      Mengarahkan tujuan itu.
3.      Suatu tujuan dapat pula berupa titk pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik tujuan baru maupun tujuan lanjutan dan tujuan pertama.
4.      Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.
Dalam setiap usaha pencapaian tujuan pencapaian tujuan pendidikan menurut John S. Brubacher dalam bukunya  “ Modern Philoshophies of Education  “.

Tujuan pendidikan melaksanakan tiga fungsi penting yang kesemuanya bersifat normatif yaitu sebagai berikut :
1 .Tujuan pendidikan memberikan arah pada proses yang bersifat ededuktif.
2. Tujuan pendidikan tidak selalu memberikan arah pada pendidikan, tetapi harus mendorong atau memberikan motivasi sebaik mungkin.
3. Tujuan pendidkan mempunyai fungsi untuk memberikan pedoman atau menyediakan kriteria-kriteria dalam menilai proses pendidikan.
            Menurut Brubacter sebelum seseorang mengadakan perubahan kurikulum atau merencanakan gedung sekolah baru atau menambah personel baru pada staf sekolah tersebut, maka terlebih dahulu ia harus bertanya pada dirinya, apa sasaran atau tujuan yang ingin di capai.[4]
            Tujuan tidak hanya akan memberikan arahan pendidkan, tetapi juga harus memberikan motivasi. Jika dinilai, dihargai, dan di inginkan, maka tujuan adalah nilai .
            Tujuan juga mempunyai fungsi menyediakan kriteria-kriteriauntuk mengevaluasi proses pendidikan. Artinya, jika seseorng akan menguji murid atau anak didik  atau memberi pengakuan terhadap sekolah menengah atau perguruan tinggi, maka ia harus mempunyai acuan tujuan  pendahuluan.

            2 . Cara Menentukan Tujuan Pendidikan
            Ada beberapa cara yang dapat dijadikan pedoman untuk menentukan cara yang paling baik bagi seorna pendidik dalam menentukan tujuan pendidikan. Menurut para ahli pendidikan, seperti John S. Brubacther, dalam menetapkan tujuan pendidkan dapat ditempuh tiga cara atau pendekatan yaitu sebagai berikut :
a . A historial analiysis  of social institutions apporoach.
            Pendekatan melalui analisis  historis  lembaga-lembaga sosial adalah suatu pendekatan yang beroreantasi kepada realita yang sudah ada dan telah tumbuh sepanjang sejarah bangsa itu . Lembaga-lembaga sosial yang ada , merupakan perwujudan dan warisan masa silam dan tentunya efektifitas  dari lembaga-lembaga tersebut sulit menjangkau dan berfungsi dihari depan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang tidak terduga.
b . A Sociological aanalysis of current life approach
Yaitu pendekatan yang berdasarkan pada analisis tentang kehidupan yang aktual. Dengan pendekatan tersebut, dapat dilukiskan kenyataan kehidupan ini melalui anal;lisis dekriptif tentang seluruh kehidupan masyarakat, baik aktivitas anak- anak , orang dewasa, dan motivasi mereka terhadap aktivitas tersebut, bahkan tentang minat dan tujuan aktivitas tersebut.

c . Normative philosophy apporoach.
            Yaitu pendekatan melalui nilai-nilai filsafat normatif, seperti filsafat negara dan moral . Proses pendidikan , pada dasarnya melestarikan kebudayaan dan mewariskan nilai-nilai yang hidup sebagai pandangan hidupdan filsafat hidup sebagai eksestensi bangsa dengan kebudayaannya.
            C . Tujuan Filsafat Pendidikan
Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan;
2. Membantu mempejelastujuan-tujuan pendidikan;
3. Melaksanakan krit ik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut ;
4. Melakukan evaluasi t erhadap met ode dari proses pendidikan;
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.




















BAB III
SIMPULAN
            Kehidupan manusia selalu berubah, sangat bergantung pada pengharapan , cita-cita hidup, dan atau pengalaman kebahagian, atau kesengsaraan hidup manusia dalam bermasyarakat.
            Tujuan hidup terbagi dalam 3 bagian, yakni sebagai berikut :
1.      Tujuan Hidup Manusia Mengalami Proses Perkembangan
2.      Tujuan Hidup Bangsa Indonesia
3.      Tujuan Hidup Manusia Menurut Pandangan Islam
Tujuan pendidikan sebenarnya sudah terlingkup didalam pengertian pendidikan sebagai usaha secara sadar, yang berarti usaha tersebut mengalami permulaan dan akhirnya.
John S. Brubacther, dalam menetapkan tujuan pendidkan dapat ditempuh tiga cara atau pendekatan yaitu sebagai berikut :
a . A historial analiysis  of social institutions apporoach.
b . A Sociological aanalysis of current life approach
c . Normative philosophy apporoach.
            Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan;
1.      Membantu mempejelastujuan-tujuan pendidikan;
2.      Melaksanakan krit ik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut;
3.      Melakukan evaluasi t erhadap met ode dari proses pendidikan;
Pertanyaan
1.      Jelaskan tujuan hidup manusia !
2.      Sebutkan tujuan-tujuan pendidikan !
3.      Bagaimana cara menentukan tujuan pendidikan !
4.      Apa tujuan filsafat pendidikan ?
5.      Apa hubungan tujuan hidup dengan tujuan pendidikan dan filsafat pendidikan ?
















DAFTAR PUSTAKA
Djamransyah, H.M. Drs. M.Ed. Pengantar Filsafat Pendidikan, Bayu Media Publishing, Malang, 2004
Ihsan, Hamdani. Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2007
Zuhairini, Dra, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2008


[1] Drs. H.M. Djamransyah M.Ed, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Malang:Bayu Muedia Publishing,2004), hlm 101
[2]  Ibid, hlm 107
[3]  Drs. H. Hamdani Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung:Pustaka Setia,2007), hlm 61
[4]  Op.cit, hlm 118

Filsafat Pendidikan - Proses Hidup Manusia dan Filsafat Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

Tidakalah akan didapat dua manusia yang sama jalan kehidupannya dan tidak pula sama kekuatan badan dan akalnya. Tiap orang mempunyai kekuatan sendiri, berlainan kekuatan akalnya sebagaimana berlainan bentuk badannya.

Kita bekerja terus menerus , sejak kita dilahirkan, disudahi setelah kita mati. Pada-Nyalah berdiri kehidupan. Kalau kejadian dan pekerjaan otak itu telah kita perhatikan, kita selidiki pula kehidupan dan pengalaman yang selalu ditempuh manusia dalam hidupnya, dapatlah kita mengerti apa sebabnya hal yang telah lama berlalu masih dapat kita ingat, karena telah ada simpanan dalam perbendaharaan yang bernama benak aatau otak dalam kepala kita.


BAB II
PEMBAHASAN

A. FILSAFAT PENDIDIKAN TENTANG MANUSIA

Manusia sebagai penghuni alam jagat ini ternyata banyak mengikut kepada hukum yang berlaku dialam jagat ini. Namun sebagai makhluk, dia bukanlah sebagai makhluk-makhluk lain. Ia diberi tuhan cirri-ciri khusus untuk membolehkannya memegang jabatan sebagai wakil atau khalifah allah di atas bumi.[1]

Sudah merupakan suatu kenyataan dalam proses kehidupan manusia, bahwa mereka harus melaksanakan tugas-tugas hidup yang dilaksanakan dan ditunaikan dengan baik dan sempurna, sejak zaman kehidupan mereka yang sederhana, dihutan rimba dan digoa batu, atau ditempat lainnya, sampai kehidupan umat abad 21 ini. Didalam kehidupan manusia yang sederhana, mereka bersusah payah dan penuh kesulitan yang beragam dalam menghadapi perjuangan hidup, bersama dengan hewan dan makhluk lainnya dalam memperebutkan makanan dan tempat tinggal.

Kita sebagai orang awam sudah puas dengan jawaban pancaindra, karena sudah menyaksikan dengan mata sendiri, bahwa manusia itu ada. Tetapi, ahli pikir seperti H.V.Loon tidak puas dengan hal demikian. Ia ingin hakikat, yakni hakikat hidup. Yang nyata itu belum tentu benar. Berapa banyak orang yang dikelirukan oleh pandangan mata dan pendengaran telinganya. Tanggapan pancaindra manusia terbatas, oleh karena itu, tidak dapat dijadikan pegangan yang kuat dan meyakinkan. Karena kurang percaya pada alat pancaindra itulah, maka Descartes(1596-1650), Filosof beraliran Rasionalisme yang berkebangsaan Prancis yang dalam usianya yang sudah lanjut mempertanyakan tentang ada atau tidak ada dirinya. Dia bertanya, justru karena dia mengerti barang-barang yang infra human, artinya dibawah taraf manusia, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan, tidak dapat bertanya karena tidak mengerti. Manusia mengerti, manusia menangkap dirinya. Dalam tangkapan itu, timbullah pertanyaan tentang diri sendiri dan arti hidupnya. Oleh karena itu, wajib bagi manusia menyadari dengan sungguh-sungguh akan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tadi. Proses pemikiran manusia seperit ini dalam kehidupan manusia, juga mendasari perkembangan filsafat pendidikan atau sebagai dasar filsafat pendidikan. Dalam perkembangan sejarah umat manusia, maka tampillah manusia-manusia unggul yang mengadakan perenungan, pemikiran, penganalisisan terhadap problem hidup dan kehidupan, dan alam semesta.

Proses kehidupan umat manusia pada abad ke-XX telah mengalami perubahan drastis. Pembangunan yang luar biasa dari ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong kehidupan umat manusia, prosesnya lebih maju 100 tahun dari sebelumnya. Dengan kemajuan teknologi, maka jarak antarbenua terasa semakin dekat, baik melalui hubungan transportasi, telekomonikasi, dan lain-lain. Peristiwa yan terjadi disuatu Negara telah dapat diketahui pada saat itu juga, atau relative cepat diketahui oleh negara lain. Dan masih banyak lagi dalam penggunaan teknologi canggih yang ada dinegara kita, yang semula dianggap mustahil dan ajaib sekarang sudah menjadi barang biasa.


Manusia sebagai makhluk hidup umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

1. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya.
2. Mengadakan metabolisme atau penyusunan dan pembongkaran zat, yaitu ada zat yang masuk dan keluar.
3. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan ari dalam dam luar.
4. Memiliki potensiuntuk berkembang.
5. Tumbuh dan berkembang.
6. Brinteraksi dengan lingkungannya.
7. Bergerak.

Apabila dibandingkan dengan tubuh hewan tingkt tinggi lainnya, seperti gajah, harimau, burung dan buaya, tubuh manusia lebih lemah. Gajah dapat mengangkat balok yang berat, harimau dapat berjalan cepat, burung dapat tebang, dan buaya dapat berenan cepat. Sekalipun demikian, rohani manusia, yaitu akal budi dan kemauannya, mnusia dapat menggembangkan lmu pengetahuan dan tegnologi. Dengan kedua alat tersebut, manusia dapat menguasai dan mengungguli makhluk lain.

Dalam perspektif filsafat pendidikan, manusia merupakan sumber pengeahuan karena dari manusialah, pendidikan dilahirkan pertama kali, bahkan orang-orang sifi mengatakan, “barangsiapa ingin mengethui ang pencipta, pelajarilah jiwa manusia”,

Manusia memiliki salah satu sifat yang paling esensial, yaitu berpikir, dan lahirnya filsafat pendidikan tentang manusia berasal dari pemikiran manusia tantang jati dirinya yang unik dan misterius.

Adapun fungsi pendidikan tantang manusia adalah ;

1. Meningkatkan pola hidup manusia dimuka bumi
2. Meningkatkan kebudayaan masyarakat dalam merekayasa dan mengengploitasikan alam
3. Meningkatkan kemandirian manusia dalm bertahan hidup
4. Memelihara kelangsungan reproduksi
5. Mewaspadai gejala alam yang akan menimbulkan petaka bagi manusia
6. Memelihara dirinya dari berbagai ancaman penyakit
7. Beradaptasi dengan kondisi alam yang berubah-ubah
8. meningkatkan harkat dan martabat manusia dari sgi penidikan kealaman
9. fungsi ekonomi, politik, agama dan sosial budaya ; dan
10. sarana pengabdian kepada Tuhan.[2]

B. Filsafat Pendidikan

Pendidikan adalah persoalan yang melekat secara kodrati didalam diri manusia. Pendidikan terjadi ketika manusia berinteraksi dengan dirinya, dengan masyarakat, dengan alam dan dengan Tuhan.

Dengan kata lain, hubungan kodrat antara pendidikan dan manusia, pada taraf eksternal, bagaikan hubungan antara jiwa dan badan manusia. Hal 91

Fakta kehidupan demikian mendorong perlunya dibangun kembali filosofi pendidikan yang sesuai dengan kodrat hidup manusia. Dengan filosofi pendidikan baru diharapkan penyelenggaraan pendidikan bisa mengharmonisasikan antara tujuan pendidikan dengan tujuan kehidupan manusia, sehingga jurang pemisah itu bisa juga dijembatani dan jalan menuju perkembangan kehidupan manusia lebih lapang.

Filsafat adalah induk semua bidang ilmu dan disiplin ilmu pengetahuan, dengan sudut pandang yang bersifat komprehensif berupa ‘hakikat’ Artinya, filsafat memandang setiap objek dari segi hakikatnya sedangkan pendidikan adalah suatu bidang studi sekaligus disiplin ilmu pengetahuan yang persoalan khususnya adalah ‘menumbuh kembangkan potensi manusia menjadi semakin dewasa dan matang (maturity human potens)’. Jadi filsafat pendidikan mempunyai persoalan sentral berupa hakikat pematangan potensi manusia.

Tradisi filsafat adalah selalu berpikir dealiktif dari tingkat metafisis disebut aspek ontologi, tingkat teoritis disebut epistemologi, dan tingkat praktis disebut aspek etika.

Jika diterapkan pada kegiatan pendidikan, aspek ontologi adalah proses pendidikan dengan penekana pada pendirian filsafat hidup. Suatu pandangan hidup yang dijiwai nilai kejujuran. Dari filsafat hidup tersebut, diharapkan adanya pertumbuhan dan perkembangan kematangan spiritual, berupa wawasan luas yang menyeluruh dan padu meliputi asal-mula eksistensi, dan tujuan hidup.

Sedangkan aspek epistemology pendidikan menekankan sistem kegiatan pendidikan pada ‘Pembentukan Sikap Ilmiah’, suatu sikap yang dijiwai nilai kebenaran. Dari sikap ilmiah itu, diharapkan adanya pertumbuhan dan perkembangan kematangan intelektual, berupa kreativitas dan keterampilan hidup.

Sedangkan aspek etika pendidikan menekankan pada sistem kegiatan pendidikan pada pengembangan perilaku tanggung jawab, suatu perilaku yang dijiwai oleh nilai keadilan. Dengan perilaku bertanggung jawab ini diharapkan kematangan emosional bisa tumbuh dan berkembang, yaitu kemampuan pengendalian diri untuk tidak melakukan perbuatan yang melampaui batas.

Ketiga taraf sistem kegiatan pendidikan tersebut saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya secara kausalistik. Aspek ontology mendasari aspek epistemology dan aspek epistemology memberikan jalan atau metode kepada aspek etika, sedangkan aspek etika merupakan hasilnya.

Paradigma filosofi pendidikan dipergunakan sebagai landasan penyelenggaraan pendidikan baik didalam keluarga, sekolah, maupun dalam kehidupan masyarakat, dapat diharapkan kehidupan masyarakat bisa diliputi dengan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Dengan demikian, perkembangan kehidupan masyarakat secara cultural manusiawi diharapkan bisa terwujud. .

C. Ruang lingkup filsafat pendidikan

Ruang lingkup filsafat pendidikan adalah sebagai berikut ;
1. Pendidik
2. Merid atau anak didik
3. Materi pendidikan
4. Perbuatan mendidik
5. Metode pendidikan
6. Evaluasi pendidikan
7. Tujuan pendidikan
8. Alat-alat pendidikan
9. Lingkungan pendidikan


PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang teleologis, bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara alami ialah kedewasaan, kematangan. Sebab potensi manusia yang paling alamiah ialah bertumbuh menuju ketingkat kedewasaan, kematanga. Potensi ini akan terwujud apabila prakondisi alamiah dan social manusia memungkinkan, misalnya: iklim, makanan, kesehatan, keamanan, relative sesuai dengan kebutuhan manusia.

Apakah makna kedewasaan, kematangan diatas bersifat biologis-jasmaniah, rohaniah(pikir, karsa dan rasa), atau cara moral dalam arti bertanggung jawab, sadar-normatif. Persoalan ini sudah mencakup scope dan pengertian tujuan pendidikan yang harus didasarkan pula atas system nilai dan asas-asas normative suatu kebudayaan, dengan demikian masalah tersebut sudah merupakan bidang filsafat pendidikan. Sebab lebih dari pada hanya perkembangan yang berasas teleologis secara alamiah itu, manusia pun mengandung potensi-potensi human dengan martabat kemanusiaannya. Manusia dengan kodrat human dignity itu, memiliki kesadaran diri (self-existence), potensi piker, rasa dan karsa. Bahkan manusia mempunyai dorongan untuk merealisasi potensi-potensi psikologisini supaya berkembang sebagai satu self-realization dan ideal-self guna berfungsi dan bermanfaat bagi hidup pribadi dan sosialnya.

Manusia kemudian melihat kenyataan, bahwa tidak semua manusia berkembbang sebagaimana diharapkan. Lahirlah didalam pemikiran manusia problem-problem tentang kemungkinan-kemungkinan perkembangan potensi manusia itu. Manakah yang lebih menentukan potensi yang kodrati, faktor-faktor alam sekitar, factor luar, khususnya pendidikan. Tema problem ini memang klasik, karena memang sudah lama ada didalam kontteks filsafat, psikologi, pendidikan, genetika dan sebagainya.


Sesungguhnya adanya aktifitas dan lembaga-lembaga pendidikan merupakan jawaban manusia atas problema itu. Karena umat manusia berkesimpulan dan yakin bahwa pendidikan itu mungkin dan mampu mewujudkan potensi manuusia sebagai aktualitas, mata pendidikan itu diselenggarakan.


Timbulnya problem dan pikiran pemecahannyaitu adalah bidang pemikiran filsafat dalam hal ini filsafat pendidikan. Ini berarti pendidikan adalah pelaksanaan dari pada ide-ide filsafat. Dengan perkataan lain ide filsafat yang member asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan bagi pembinaan manusia ttelah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan dan aktifitas penyelenggaraan pendidikan. Jadi peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuknya yang lebih terperinci kemudian, filsafat pendidikan manjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan.

Ide-ide filsafat pendidikan antara lain:


1. Teori (hukum) Empirisme, yaitu mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh factor-faktor lingkungan, terutama pendidikan.

2. Teori (hukum) Nativisme, yaitu perkembangan pribadi ditentukan oleh hereditas atau factor pembawaan.

3. Teori (hukum) Konvergensi, yaitu perkembangan pribadi ditentukan oleh factor internal (potensi hereditas) maupun factor eksternal (lingkungan, pendidikan).

Filsafat dan pendidikan adalah tak terpisahkan. Filsafat adalah menetapkan ide-ide dan idealism, dan pendidikan merupakan usaha merealisasi ide-ide itu menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, bahkan membina kepribadian. Tujuan pendidikan ada juga tujuan filsafat-kebijaksanaan, dan jalan yang di tempuh filsafat adalah juga jalan yang dilalui pendidikan-bertanya dan menyelidiki yang dapat membimbing kearah kebijaksanaan.


Fungsi filsafat pendidikan antara lain:

1. Fungsi spekulatif, filsafat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan antarhubungannya dengan factor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan

2. Fungsi Normatif, sebagai penentu arah, pedoman, filsafat penndidikan memberikan norma dan pertimbangan bagi kenyataan-kenyataan normatif dan kenyataan-kenyataan ilmiah yang pada akhirnya membentuk kebudayaan.

3. Fungsi Kritik, berarti pula analisis dan komparatif atas sesuatu untuk mendapat kesimpulan.

4. Fungsi teori bagi prektek, semua ide, konsepsi, analisa, dan kesimpulan-kesimpulan filsafat pendidikan adalah berfungsi teori. Dan teori ini adalah dasar bagi pelaksanaan/praktik pendidikan. Filsafat memberikan prinsip-prinsip umum bagi suatu praktik.

5. Fungsi Integratif, mengingat fungsi filsafat pendidikan sebagai asas kerokhanian atau rohnya pendidikan, maka fungsi integrative filsafat pendidikan adalah wajar. Artinya, sebagai pemadu fungsional semua nilai dan asas normative dalam ilmu kependidikan.

[1] Hasan langgulung,Manusia dan Pendidikan, Jakarta: Radar jaya Offset,1986,hal 74
[2] Drs. Anas sahudin, filsafat pendidikan Bandung CV Pustaka setia 2011 hal 91

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites