Wednesday, December 14, 2011

Perencanaan Pembelajaran MI - MEDIA PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
            Media pembelajaran merupakan salah faktor penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Hal tersebut disebabkan adanya perkembangan teknologi dalam bidang  pendidikan yang menuntut efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektivitas yang optimal, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi bahkan jika perlu menghilangkan dominasi sistem penyampaian pelajaran yang bersifat verbalistik dengan cara menggunakan media pembelajaran.
            Sehubungan dengan penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran, para tenaga pengajar atau guru perlu cermat dalam pemilihan dan atau penetapan media yang akan digunakannya. Kecermatan dan ketepatan dalam pemilihan media akan menunjang efektivitas kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Disamping itu juga kegiatan pembelajaran menjadi menarik sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, dan perhatian siswa menjadi terpusat kepada topik yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Kecermatan dan ketepatan dalam memilih media pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor seperti luas sempitnya pengetahuan dan pemahaman tenaga pengajar tentag kriteria dan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan serta prosedur pemilihan media pembelajaran. Uraian berikut akan membahas hal-hal dimaksud agar kita dalam memilihan media pembelajaran lebih  tepat.
b. Rumusan Masalah
       I.            Hakikat Media Pembelajaran
    II.            Jenis-jenis Media Pembelajaran
 III.            Prinsip-prinsip Penggunaan Media
c. Tujuan Penulisan
            Mahasiswa diharapkan mampu mengerti dan menjelaskan tentang hakikat media pembelajaran, jenis-jenis media pembelajaran dan prinsip-prinsip media pembelajaran.

BAB I
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN
            Kata Media sendiri berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata Medium yang secara harfiah berarti “ Perantara “ atau “ Pengantar ”. Dengan demikian, maka media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Telah banyak pakar dan juga organisasi (lembaga) yang mendefinisikan media pembelajaran ini, beberapa definisi tentang media pembelajaran ini adalah sebagai berikut :
a)      Media pembelajaran atau media pendidikan adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk media pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya (Rossi & Breidle, 1966: 3)
b)      Teknologi Pembawa Pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru (Scram, 1977)
c)      Sarana Komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969)
d)     Alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar (Briggs, 1970)
e)      Segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan (AECT, 1977)
f)       Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa untuk belajar (Miarso, 1989)
g)      Media merupakan alat saluran komunikasi (Heinich, 1993)
 B. HAKIKAT MEDIA PEMBELAJARAN
            Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran dapat melibatkan dua pihak yaitu siswa sebagai pembelajar dan guru sebagai fasilitator.
            Yang terpenting dalam kegiatan pembelajaran adalah terjadinya proses belajar (learning process). Sebab sesuatu dikatakan hasil belajar kalau memenuhi beberapa ciri berikut : (1) belajar sifatnya disadari, dalam hal ini siswa merasa bahwa dirinya sedang belajar, timbul dalam dirinya motivasi-motivasi untuk memiliki pengetahuan yang diharapkan sehingga tahapan-tahapan dalam belajar sampai pengetahuan itu dimiliki secara permanen (retensi) betul-betul disadari sepenuhnya. (2) hasil belajar diperoleh dengan adanya proses, dalam hal ini pengetahuan diperoleh tidak secara spontanitas, instant, namun bertahap (sequensial). Seorang anak bisa membaca tentu tidak diperoleh hanya dalam waktu sesaat namun berproses cukup lama, kemampuan membaca diawali dengan kemampuan mengeja, mengenal huruf, kata dan kalimat.Seseorang yang tiba-tiba memiliki kecakapan seperti lari dengan kecepatan tinggi karena akibat doping, bukanlah hasil dari kegiatan belajar, namun efek dari obat atau zat kimia yang dikonsumsinya. (3) Belajar membutuhkan interaksi, khususnya interaksi yang sifatnya manusiawi. Seorang siswa akan lebih cepat memiliki pengetahuan karena bantuan dari guru, pelatih ataupun instruktur. Dalam hal ini terjadi komunikasi dua arah antara siswa dan guru.
            Kaitannya bahwa belajar membutuhkan interaksi, hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, artinya didalamnya terjadi proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan).
Selain faktor-faktor tersebut, terdapat juga beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas sebuah komunikasi, baik faktor yang terjadi pada pengirim maupun pada penerima pesan. Ishak (1995:3) menjelaskan diantaranya :
1)      Kemampuan berkomunikasi penyampai pesan seperti kemampuan bertutur dan berbahasa dan kemampuan menulis. Sedangkan faktor dari penerima pesan diantaranya kemampuan untuk menerima dan menangkap pesan seperti mendengar, melihat, dan menginterpretasikan pesan.
2)      Sikap dan pandangan penyampai pesan kepada penerima pesan dan sebaliknya. Misalnya , rasa benci, pandangan negatif, prasangka, merendahkan satu diantara kedua  belah pihak, sehingga akan menimbulkan kurangnya respon terhadap isi psan yang disampaikan.
3)      Tingkat pengetahuan baik penerima maupun penyampai pesan. Sumber pesan yang kurang memahami informasi yang ingin dicapai akan mempengaruhi gaya dan sikap dalam proses penyampai pesan. Sebaliknya, penerima pesan yang kurang mempunyai pengetahuan dan pengalaman terhadap informasi yang disampaikan tidak akan mempu mencerna informasi dengan baik.
4)      Latar belang sosial budaya dan ekonomi penyampai pesan serta penerima pesan. Ketanggapan penerima pesan dalam merespon informasi tergantung dari siapa dan oleh siapa pesan itu disampaikan.
            Berdasarkan uraian di atas, jelas tergambar bahwa media merupakan bagian dari proses komunikasi. Baik buruknya sebuah komunikasi ditunjang oleh penggunaan saluran dalam komunikasi tersbut. Saluran / channel yang dimaksud di atas adalah media. Karena pada dasarnya pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka media yang dimasuk adalah media pembelajaran.
            Penjelasan  di atas menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran itu terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari suatu topik pembelajaran. Pesan-pesan tersebut disampaikan oleh guru kepada siswa melalui suatu media dengan menggunakan prosedur pembelajaran tertentu yang disebut metode.
            Dalam sistem pembelajaran modern saat ini, siswa tidak hanya berperan sebagai komunikan atau penerima pesan, bisa saja siswa bertindak sebagai komunikator atau penyampai pesan. Dalam kondisi seperti itu, maka terjadi apa yang disebut dengan komunikasi dua arah (two way traffic communication) bahkan komunikasi banyak arah (multi way traffic communication). Dalam bentuk komunikasi pembelajaran manapun sangat dibutuhkan peran media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian tujuan/kompetensi. Artinya, proses pembelajaran tersebut akan terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber/penyalur pesan lewat media tersebut. Menurut Berlo (1960), komunikasi tersebut akan efektif jika ditandai dengan adanya “area of experience” atau daerah pengalaman yang sama antara penyalur pesan dengan penerima pesan.
C. JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
            Pada dasarnya media yang banyak digunakan untuk kegiatan pembelajaran adalah media komunikasi. Oleh karena itu dalam pembahasan taksonomi ini akan digunakan taksonomi yang dikemukakan oleh Haney dan Ulmer (1981). [1]
            Media pembelajaran merupakan komponen intruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau informasi pesan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut,secara umum jenis media pembelajaran dikelompokkan menjadi ;
a)      Media Visual
b)      Media Auditif
c)      Media Audio-visual
a) Media Visual
            Adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkaian), slides (bingkai) foto, gambar, atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau symbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun . [2]
            Kelebihan media visual yaitu dalam media ini siswa dapat melihat obyek yang diperlihatkan guru dalam proses pembelajarannya sehingga siswa tahu obyek apa yang sedang dijelaskan dan dipelajarinya.
            Kelemahan media visual yaitu dalam media ini hanya kemampuan indera penglihat saja yang terasah kemampuannya, sehingga siswa hamya mampu melihat gambar tersebut tanpa mengasah indera peraba dan indera pendengaran, serta terbatas bagi yang mempunyai kelainan penglihatan atau buta.
b) Media Auditif
            Adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai kelainan pendengaran.
            Kelebihan media auditif yaitu dalam media ini siswa dapat lebih fokus karena siswa dituntut untuk lebih peka dalam pendengarannya. Jadi kemampuan siswa dalam mendengarkan dapat terasah.
            Kelemahan media auditif yaitu dalam media ini hanya mengasah indera pendengar saja, tanpa dapat mengasah indera lain seperti indera penglihat dan peraba. Selain itu media ini sangat terbatas bagi yang mempunyai kelainan tuna rungu.
c) Media Audio-visual
            Adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua.
            Kelebihan media audio-visual yaitu dalam media ini mencakup segala aspek indera pendengar, penglihat dan peraba. Sehingga kemampuan semua indera dapat terasah dengan baik karena dipergunakan dengan seimbang dan bersama.
            Kelemahan media audio-visual yaitu keterbatasan biaya serta penerapannya yang harus mampu mencakup segala aspek indera pendengaran, penglihatan dan peraba.
           
D. PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN MEDIA
            Media pembelajaran dapat digunakan dalam rangka upaya peningkatan interaksi belajar mengajar. Oleh karena itu harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya. Menurut Asnawir dan M Basyiruddin Usman (2002: 19). Prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:[3]
1.      Pengunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan hanya sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan bila sewaktu-waktu digunakan.
2.      Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar.
3.      Guru hendaknya dapat mengasai teknik-teknik dari suatu media pembelajaran yang digunakan
4.      Guru seharusnya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan suatu media pembelajaran.
5.      Penggunaan media pembelajaran harus diorganisir secara sistematis.
6.      Jika sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari beberapa macam media, maka guru dapat memanfaatkan multimedia yang menguntungkan dan memperlancar proses belajar mengajar dan dapat merangsang motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan interaksi belajar mengajar.[4]
            Menurut Arief Sukadi S.S dan Radikun (1998: 173-174) prinsip-prinsip penggunaan media adalah sebagai berikut:
1.      Tidak ada satupun teknik atau strategi mengajar dan media pembelajaran yang harus dipakai tanpa melibatkan strategi mengajar dan media lainnya. Oleh sebab itu sebaiknya dalam proses belajar mengajar dipergunakan teknik dan media pembelajaran sesuai dengan tujuan belajar dan kebutuhan belajar.
2.      Tidak ada satu mediapun yang sessuai dan cocok dengan segala macam kegiatan belajar. Oleh karena itu sebaiknya sebelum melaksanakan proses belajar mengajar dipilih satu bentuk media yang cocok dan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan belajar.
3.      Media tertentu lebih cepat dipakai untuk tujuan pembelajaran tertentu dibanding media lain.
4.      Pengunaan berbagai media secara berlebihan dan tidak berdasarkan teori pemilihan media dalam tempo relatif kurang akan menyebabkan kaburnya isi materi ini berarti bukan pendekatan multi media.
5.      Sebelum menggunakan suatu media dalam proses belajar mengajar sebaiknya guru melakukan persiapan yang cukup dan cermat. Karena hanya dengan cara demikian guru dapat menguasai seluruh materi dan proses belajar mengajar akan berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Bila dianggap perlu maka guru sebaiknya mempersiapkan bahan tambahan agar dapat memperluas dan memperdalam topik yang dibahasnya.
6.      Selama belajar menggunakan media, sebaiknya siswa juga dipersiapkan sebelumnya dan siswa juga harus diperlakukan sebaik-baiknya sesuai dengan karakteristiknya sehingga dapat berperan sebagai siswa yang berperan aktif dan bertangungjawab dalam proses belajar mengajar dan juga dapat meningkatkan interaksi belajar.
7.      Media perlu diusahakan agar dapat menjadi bagian intregal dari sistem pendidkan. Yakni media harus diperlakukan secara tepat dan proposional, sehingga tidak hanya sebagai alat Bantu mengajar tetapi betul- betul merupakan satu mata rantai dalam sistem pendidikan.
8.      Jangan sekali- kali menggunakan media hanya untuk mengisi waktu kosong dengan tujuan sebagai hiburan semata, karena dengan demikian tanggapan siswa selanjutnya terhadap media betul- betul sebagai hiburan. Dan untuk mengubah situasi akan sulit sekali.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prinsip- prinsip penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)      Media merupakan bagian intregal dari sistem pengajaran.
2)      Media merupakan sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah.
3)      Guru harus menguasai tehnik media yang akan digunakan.
4)      Guru harus memperhitungkan untung- rugi penggunaan media.
5)      Penggunaan media pembelajaran harus diorganisir secara sistematis.
6)      Guru dapat menggunakan multimedia jika pokok bahasan memerlukan beberapa macam media.
7)      Guru harus mempersiapkan media secara cermat dan juga siswa yang akan diajar sehingga ada interaksi dalam proses belajar mengajar.



BAB III
PENUTUP
Simpulan,
            Media pembelajaran atau media pendidikan adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk media pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya.
Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut,secara umum jenis media pembelajaran dikelompokkan menjadi ;
a)      Media Visual
b)      Media Auditif
c)      Media Audio-visual
Prinsip-prinsip penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:[5]
1.      Pengunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai bagian yang integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan hanya sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan bila sewaktu-waktu digunakan.
2.      Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar.
3.      Guru hendaknya dapat mengasai teknik-teknik dari suatu media pembelajaran yang digunakan
4.      Guru seharusnya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan suatu media pembelajaran.
5.      Penggunaan media pembelajaran harus diorganisir secara sistematis.



DAFTAR PUSTAKA

Anderson, R. H. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, Alih bahasa oleh: Yusufhadi Miarso, dkk., edisi 1. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali.
Arsyad, A. 2002. Media Pembelajaran, edisi 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Arsad Azhar, 2008, Media Pembelajaran ,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hamalik, O. 1994. Media Pendidikan, cetakan ke-7. Bandung: Penerbit PT. Citra Aditya Bakti.
Heinich, R., Molenda, M., Russell, J. D., & Smaldino, S.E. 2002. Instructional media and
technology for learning, 7th edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/07/penggunaan-media-pembelajaran.html, 10 okt 2011
Sadiman, A.S., Rahardjo, R., Haryono, A., & Rahadjito. 1990. Media Pendidikan: pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya, edisi 1. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali.
Sudjana, N. & Rivai, A. 1992. Media Pengajaran. Bandung: Penerbit CV. Sinar Baru Badung.
Nanna Sudjana dan Ahmad Rivai.2007. Teknologi Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algensindo



[1] Azhar arsyad. 2002. Media Pembelajaran, edisi 1. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
[3] http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/07/penggunaan-media-pembelajaran.html, 10 okt 2011
[4] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2183926-prinsip-penggunaan-media-pembelajaran/#ixzz1aO0CBGQO
[5] http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/07/penggunaan-media-pembelajaran.html, 10 okt 2011

Wednesday, December 7, 2011

Bimbingan dan Konseling - Rational Emotive Therapy

BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
            Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974).

Saturday, November 26, 2011

Tips presentasi dengan powerpoint

Anda diharuskan menyusun Presentasi Power Point? Dari manakah Anda memulai? Bagaimanakah Anda membuat sebuah presentasi power point yang mengesankan namun sekaligus tidak berlebihan. Tips berikut ini akan membantu Anda dalam menyusun sebuah presentasi menggunakan power point yang efektif:

1. Pilih desain slide. Saya menyarankan untuk melakukan hal ini sebagai langkah awal karena merubah desain slide akan berakibat merubah seluruh layout presentasi Anda. Untuk itu tentukanlah desain slide, sebelum melakukan langkah-langkah yang lain.

2. Mulailah Anda membuat slide. Buatlah satu sampai beberapa slide terlebih dahulu, kemudian tulislah judul (title) di masing-masing slide tersebut. Efek transisi dan visualisasi lainya bisa menyusul kemudian. Misalnya Anda akan mempresentasikan “Bagaimana membuat Semangkuk Cereal yang Efektif”. Bandingkan metode penulisan pertama: a) Ambil Sebuah mangkuk. b) Tuangkan cereal ke dalam mangkuk. c) Ambil susu dari Almari Kulkas. d) Tuangkan susu ke dalam semangkuk cereal. Dan kedua: a) Pertama, ambilah mangkuk dari cabinet. Kemudian tuangkan cereal ke dalam mangkuk. b) Selanjutnya tuangkan susu ke dalamnya karena hal ini sangat penting. c) Lalu, kembalikan susu pada tempatnya. Contoh pertama sangat sederhana dan sangat mengena ke poin permasalahan, serta nampak lebih terorganisir dengan lebih baik dibandingkan dengan contoh kedua di atas.

3. Tambahkan efek visual jika perlu. Jangan sekedar menambahkan gambar-gambar animasi yang menarik, namun yang paling penting gambar tersebut relevan dengan isi presentasi Anda. Sehingga tidak berkesan seperti tempelan belaka.

4.Teruskan dengan menambahkan efek transisi dan suara, namun usahakn tidak terlalu berlebihan. Gunakan efek suara hanya sebatas aksen saja. Karena efek transisi dan suara yang berlebihan akan membuat audien Anda lebih terfokus pada efek Anda, bukan pada isi presentasi Anda.

5. Usahakan untuk konsisten dalam menggunakan font (huruf). Misalnya, Anda sebaiknya tidak menggunakan font Arial di satu halaman dan font times new roman di halaman yang lain. Dan juga, yang perlu Anda ingat, Anda tidak perlu menggunakan gaya bullet yang berbeda-beda untuk setiap slide Anda. Hal ini justru membuat presentasi Anda terlalu ‘ramai’.

6. Periksalah ejaan kata dengan benar. Misalnya, engine pemeriksa ejaan Anda tidak akan mampu membedakan kata morale (semangat) dan moral (akhlak), karena kedua kata tersebut ada dalam bahasa inggris.

7. Jalankan power point Anda dari awal hingga akhir sehingga anda dapat melihat tampilan keseluruhan presentasi Anda. Periksalah apakah gambar-gambar, suara, dan transision dapat berfungsi dengan tepat. Berikan perhatian khusus pada masalah waktu dan lama presentasi Anda. Dengan pengaturan waktu yang tepat, And dapat menyampaikan narasi sesuai dengan alur presentasi Anda.

Source : 
literatur buku 

Monday, October 31, 2011

Pendidikan IPS 1 - IPS SEBAGAI ILMU-ILMU SOSIAL DAN KAJIAN SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
            Manusia dan masyarakat merupakan objek kajian yang selalu menarik dan berkembang. Interaksi antar manusia kadang menimbulkan permasalahan yang harus diselesaikan. Pada tataran yang lebih luas, masyarakat beranggotakan manusia dari berbagai suku, agama, warna kulit, dan sebagainya. Semua ini dipelajari dalam IPS. Namun demikian apa ciri interaksi manusia dalam masyarakat yang dikategorikan dalam IPS sebagai ilmu sosial dan sebagai kajian sosial perlu dipahami.
2. Kompetensi Dasar
Mahasiswa-mahasiswi mampu memahami IPS sebagai ilmu sosial dan kajian sosial.
3. Indikator
Pada akhir perkuliahan diharapkan mahasiswa-mahasiswi dapat:
1. menjelaskan IPS sebagai ilmu-ilmu sosial,
2. menjelaskan IPS sebagai kajian sosial, dan
3. menganalisis persamaan dan perbedaan IPS sebagai ilmu sosial dan kajian sosial.
           


BAB II
PEMBAHASAN
A. IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Science)
            Sebelum kita mempelajari IPS sebagai ilmu sosial (social science), kami para penulis jelaskan terlebih dahulu pengertian tentang IPS dan ilmu sosial (social science).
1. Pengertian IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial )
            Istilah ilmu pengetahuan sosial sebagaimana dirancang dalam draf kurikulum 2004 memang membingungkan untuk dicarikan definisinya, karena dalam berbagai literatur, baik yang ditulis oleh ahli dari luar maupun dalam negeri, kita hanya mempunyai istilah ilmu pengetahuan sosial yang merupakan terjemahan dari social studies. Sedangkan nama IPS dalam dunia pendidikan dasar di negara kita muncul bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMU tahun 1975.[1]

Friday, June 10, 2011

Psikologi Pendidikan - Tinjauan Psikologi Tentang Belajar (Pengertian Tahapan Dan Ragam Belajar)


by Hidayah
BAB I
PENDAHULUAN

Keberhasilan pembangunan suatu negara terutama yang menyangkut Sumber Daya Manusia akan sangat ditentukan oleh bagaimana strategi yang diterapkan untuk mencetak SDM-SDM unggul. Tentu hal ini terkait erat dengan model pendidikan yang digunakan.
Di Indonesia, hingga kini kita masih melihat kelemahan-kelemahan dalam pola pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Pola pendidikan teacher/lecturer based learning masih sangat kental dalam berbagai proses pendidikan. Pola pendidikan semacam ini berdampak pada sikap mental anak didik yang tidak mandiri, sulit berkembang dan kurang berani menyatakan pendapatnya. Pola pendidikan semacam ini juga membiasakan kita untuk menajdi konsumen ilmu pengetahuan, bukan produsen ilmu pengetahuan.
Kita harus mengubah paradigma proses belajar mengajar menuju pembelajaran yang student based learning. Artinya di sini pihak yang belajar lah yang menjadi pusat pembelajaran, bukan dosen, guru atau pembimbing akademisnya. Yang dimaksud student bukan hanya mahasiswa atau pelajar tetapi semua pihak yang sedang melakukan proses belajar baik formal maupun non-formal.
Tahap belajar dan ragam belajar erat kaitannya dengan proses belajar yang efektif dan efisien. Dengan tahapan-tahapan yang tepat dan sesuai, maka tujuan belajar yang diharapkan akan tercapai. Sedangkan ragam belajar itu juga sangat diperlukan dalam proses belajar agar tidak ada kata bosan dalam menerima pelajaran, seorang pengajar harus bisa memvariasikan apa yang akan diajarkannya terhadap anak/peserta didik.









BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Belajar, Tahapan, dan Ragam
Belajar adalah kegiatan yang berproses (dari tidak bisa menjadi bisa) dan tahapan itu artinya jenjang, tingkat, atau tarap. Sedangkan ragam itu sendiri berarti sikap/tingkah laku/cara yang tidak hanya satu dan biasanya juga disebut variasi/beragam.
Belajar merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia beradadi sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan merasa bangga ketika anaknya telah mampu menyhebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.
Skinner ,seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Proces, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku )yang berlangsung secara progresif.Pendapat
ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya,bahwa belajar adalah :”…a process of
progressive behavior adaptation
”. Berdasarkan eksperimennya ,B F .Skiner percaya
bahwa proses  adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia
diberi penguat.
Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi: ”…acquistion of any relatifely permanent
change in behavior as a result of practice and experience
” (Belajar adalah proses
perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan
pengalaman). Rumusan keduanya adalah  process of acquiring responses as a result of special practice  (belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya
latihan khusus).
Hintzman (1978) dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme ,manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi dalam pandangan Hintzman ,perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Pengalaman hidup juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian
organisme yang bersangkutan. Mungkin inilah dasar pemikiran yang mengilhami
gagasan everyday learning (belajar sehari-hari) yang dipopulerkan oleh Profesor Jhon B Bigs. Witting (1981) dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Bigs (1991) dalam pendahuluan Teaching for Learning: The View from Cognitive
Psychology
mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan yaitu: rumusan
kuantitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif.
Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan
pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya
.Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang
dikuasai siswa.
Secara instusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses
pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah dipelajari.
Adapun  pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses
memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman  serta cara-cara menafsirkan
dunia di sekeliling siswa.
B.  Tahap-Tahap dalam Proses Belajar
a.    Menurut Jerome S. Bruner
Menurut Bruner, salah seorang penentang teori S-R Bond yang terbilang vokal (Barlow, 1985), dalam proses belajar siswa menempuh tiga episode/tahap, yaitu:
1)   tahap informasi (tahap penerimaan materi);
2)   tahap transformasi (tahap pengubahan materi);
3)   tahap evaluasi (tahap penilaian materi).
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
Dalam tahap transformasi, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas. Bagi siswa pemula, tahap ini akan berlangsung sulit apabila tidak disertai dengan bimbingan guru yang kompeten dalam mentransfer strategi kognitif yang tepat untuk melakukan pembelajaran materi pelajaran tertentu.
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana inforrmasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala ataua memecahkan masalah yang dihadapi.
b.    Menurut Arno F Wittig
Menurut Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning, setiap proses belajar selalu berlangsung dalam tiga tahapan yaitu:
1)   acquisition (tahap perolehan/penerimaan informasi);
2)   storage (tahap penyimpanan informasi);
3)   retrieval (tahap mendapatkan kembali informasi).
Pada tingkatan acquisition seorang siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan melakukan respons terhadapnya, sehingga menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Pada tahap ini terjadi pula asimilasi antara pemahaman dengan perilaku baru dalam keseluruhan perilakunya. Proses acquisition dalam belajar merupakan tahapan yang paling mendasar. Kegagalan dalam tahap ini akan mengakibatkan kegagalan pada tahap-tahap berikutnya.
Pada tingakatan storage seorang siswa secara otomatis akan mengalami proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang ia peroleh ketika menjalani proses acquisition. Peristiwa ini sudah tentu melibatkan fungsi short term dan long term memori.
Pada tingkatan retrieval seorang siswa akan mengaktifkan kembali fungsi-fungsi sistem memorinya, misalnya ketika ia menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah. Proses retrieval pada dasarnya adalah upaya atau peristiwa mental dalam mengungkapkan dan memproduksi kembali apa-apa yang tersimpan dalam memori berupa informasi, symbol, pemahaman, dan perilaku tertentu sebagai respons atau stimulus yang sedang dihadapi.
c.    Menurut Albert Bandura
Menurut Bandura (1977), seorang behavioris moderat penemu teori social learning/observational learning, setiap proses belajar (yang dalam hal ini terutama belajar sosial dengan menggunakan model) terjadi dalam urutan ahapan peristiwa yang meliputi:
1)   Tahap Perhatian (Attentional Phase)
Pada tahap pertama ini para siswa/para peserta didik pada umumnya memusatkan perhatian pada obyek materi atau perilaku model yang lebih menarik terutama karena keunikannya disbanding dengan materi atau perilaku lain yang sebelumnya telah mereka ketahui. Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat mengekspresikan suara dengan intonasi khas ketika menyajikan pokok materi atau  bergaya dengan mimik tersendiri ketika menyajikan contoh perilaku tertentu.
2)   Tahap Penyimpanan dalam Ingatan (Retentional Phase)
Pada tahap berikutnya, informasi berupa materi dan contoh perilaku model itu ditangkap, diproses dan disimpan dalam memori. Para peserta didik lazimnya akan lebih baik dalam menangkap dan menyimpan segala informasi yang disampaikan atau perilaku yang dicontohkan apabila disertai penyebutan atau penulisan nama, istilah, dan label yang jelas serta contoh perbuatan yang akurat.
3)   Tahap Reproduksi (Reproduction Phase)
Pada tahap reproduksi, segala bayangan/citra mental (imagery) atau kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku yang telah tersimpan dalam memori para peserta didik itu diproduksi kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik, guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa-apa yang telah mereka serap misalnya dengan menggunakan sarana posttest.
4)   Tahap Motivasi (Motivation Phase)
Tahap terakhir dalam proses terjadinya peristiwa atau perilaku belajar adalah tahap penerimaan dorongan yang da;pat berfungsi sebagai reinforcement, ‘penguatan’ bersemayamnya segala informasi dalam memori para peserta didik. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk member pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada para peserta didik yang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang diasjikan model (guru) bagi kehidupan mereka.
C.  Ragam-Ragam Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam.
a.    Ragam Abstrak
Belajar abstrak ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, kimia, kosmologi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti tauhid.
b.    Ragam Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot/neuromuscular. Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini latihan-latihan intensif dan teratur amat diperlukan.
c.    Ragam Sosial
Belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah keluarga, masalah persahabatan, masalah kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat kemasyarakatan.
d.    Ragam Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amal diperlukan.
e.    Ragam Rasional
Belajar rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan sistematis. Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Jenis belajar ini sangat erat kaitannya dengan belajar rasional, siswa diharapkan memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis (Rober, 1988).
f.      Ragam Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, suri tauladan dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).
Selain itu, arti tepat dan positif di atas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural.
g.    Ragam Apresiasi
Belajar apresiasi adalah mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya.
Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tjuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, dan menggambar.
h.    Ragam Pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen (Reber, 1988). Tujuan belajar pengetahuan ialah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.
Contoh: kegiatan siswa dalam bidang studi fisika mengenai “gerak” menurut hukum Newton I. dalam hal ini siswa melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa setiap benda tetap diam atau bergerak secara beraturan, kecuali kalau ada gaya luar yang mempengaruhinya.

















BAB III
PENUTUP
Simpulan
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini
berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat
bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada
di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Tahap belajar  menurut Bruner meliputi; 1) informasi (penerimaan
materi); 2) transformasi (pengubahan meteri dalam memory); 3) evaluasi (penilaian
penguasaan materi).
Tahap belajar  menurut Wittig, tahap belajar meliputi: 1) acquisition (perolehan materi); 2) storage (proses penyimpanan); 3) retrieval (memproduksi/mengungkapkan kembali materi dari memori).
Tahap belajar  menurut A. Bandura, tahap-tahap belajar meliputi: perhatian (attentional phase); 2) penyimpanan dalam ingatan (retention phase); 3) reproduksi (reproduction phase); 4) motivasi (motivation phase) yang kemudian menghasilkan kinerja tertentu.
Jenis atau ragam belajar meliputi belajar: 1) abstrak; 2) keterampilan; 3) sosial; 4) pemecahan masalah; 5) rasional; 6) kebiasaan; 7) apresiasi; 8) pengetahuan/studi.





DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Shirotul. Makalah Pendidikan Tentang Proses Dan Tahapan Belajar. http://rizach.blogspot.com/2010/01/makalah-pendidikan-tentang-proses-dan.html. 22 Maret 2011.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.
Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Bukit Pamulang Indah: PT Logos Wacana Ilmu, 1999.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites